alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Rekayasa Penculikan, Santri ini Mengaku cuma 'Prank'

BANJARMASIN – Masih ingat perkara penculikan yang direkayasa santri remaja asal Banjarmasin? MAA, 15 tahun, mengaku hanya sedang bercanda. Penculikan itu bukanlah hal serius.

Setelah menjalani pemeriksaan di Mapolda Kalsel, MAA akhirnya bisa pulang ke rumah, kemarin (19/6). Bersama ayahnya Heri, 50 tahun, MAA bersedia berbicara kepada Radar Banjarmasin.

“Mau bikin prank saja. Berikan kejutan buat umi (ibu). Karena dua hari sebelumnya beliau ulang tahun. Kebetulan pas hari itu saya tidak ada. Jadi saya bikin skenario seperti itu,” ujarnya.

Ide ini dia peroleh dari YouTube. Selama berpura-pura sedang diculik, dia bersembunyi di rumah bibinya di Desa Jelapat Kabupaten Barito Kuala. MAA mengaku tak mengira akhir ceritanya bakal begini. Sampai harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Melalui SMS, MAA mengirimkan pesan kepada sang ayah. Menuntut tebusan sebesar Rp100 juta. Jika tidak dipenuhi, nyawa sang anak bakal melayang. “Uangnya juga tak bakal diapa-apakan. Begitu berhasil ngep-rank, uangnya dikembalikan lagi sama ayah,” ungkapnya polos.

Ketika dijemput polisi, MAA mengaku tak paning. Tenang-tenang saja. “Dapatnya dari YouTube. Benar-benar cuma main-main saja. Mau bikin panik orang tua. Makanya saya bisa tenang pas dijemput. Tidak takut,” tambah santri yang mondok di Banjarbaru itu.

Direktur Kriminal Umum Polda Kalsel, Kombes Pol Sofyan Hidayat mengungkapkan, hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya keterlibatan orang lain dalam kasus ini.

“Itu hanya karangan si anak saja. Katanya mau bikin kejutan buat orang tua, semacam nge-prank. Jadi untuk itu anaknya dipulangkan. Tapi dia wajib lapor setiap pekan,” terang.

Menurut Sofyan, kasus seperti ini menjadi pengalaman bagi semua orang tua. Awasi pergaulan dan penggunaan internet oleh si buah hati. “Jangan biarkan anak-anak Anda terlampau bebas menggunakan internet. Pantau apa yang sering dilihatnya,” pesan Sofyan. (lan/fud/ema)

BANJARMASIN – Masih ingat perkara penculikan yang direkayasa santri remaja asal Banjarmasin? MAA, 15 tahun, mengaku hanya sedang bercanda. Penculikan itu bukanlah hal serius.

Setelah menjalani pemeriksaan di Mapolda Kalsel, MAA akhirnya bisa pulang ke rumah, kemarin (19/6). Bersama ayahnya Heri, 50 tahun, MAA bersedia berbicara kepada Radar Banjarmasin.

“Mau bikin prank saja. Berikan kejutan buat umi (ibu). Karena dua hari sebelumnya beliau ulang tahun. Kebetulan pas hari itu saya tidak ada. Jadi saya bikin skenario seperti itu,” ujarnya.

Ide ini dia peroleh dari YouTube. Selama berpura-pura sedang diculik, dia bersembunyi di rumah bibinya di Desa Jelapat Kabupaten Barito Kuala. MAA mengaku tak mengira akhir ceritanya bakal begini. Sampai harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Melalui SMS, MAA mengirimkan pesan kepada sang ayah. Menuntut tebusan sebesar Rp100 juta. Jika tidak dipenuhi, nyawa sang anak bakal melayang. “Uangnya juga tak bakal diapa-apakan. Begitu berhasil ngep-rank, uangnya dikembalikan lagi sama ayah,” ungkapnya polos.

Ketika dijemput polisi, MAA mengaku tak paning. Tenang-tenang saja. “Dapatnya dari YouTube. Benar-benar cuma main-main saja. Mau bikin panik orang tua. Makanya saya bisa tenang pas dijemput. Tidak takut,” tambah santri yang mondok di Banjarbaru itu.

Direktur Kriminal Umum Polda Kalsel, Kombes Pol Sofyan Hidayat mengungkapkan, hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya keterlibatan orang lain dalam kasus ini.

“Itu hanya karangan si anak saja. Katanya mau bikin kejutan buat orang tua, semacam nge-prank. Jadi untuk itu anaknya dipulangkan. Tapi dia wajib lapor setiap pekan,” terang.

Menurut Sofyan, kasus seperti ini menjadi pengalaman bagi semua orang tua. Awasi pergaulan dan penggunaan internet oleh si buah hati. “Jangan biarkan anak-anak Anda terlampau bebas menggunakan internet. Pantau apa yang sering dilihatnya,” pesan Sofyan. (lan/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/