alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

BI Kalsel: Beras Lokal jadi Biang Inflasi di Banua

BANJARMASIN – Beras merupakan salah satu komoditas yang langganan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kalimantan Selatan. Bahkan, dalam dua bulan terakhir, beras selalu masuk lima besar pendorong inflasi di Kalsel.

Mengacu data Bank Indonesia, pada bulan April kemarin beras menduduki peringkat ketiga penyumbang inflasi. Lalu, pada Bulan Mei beras naik ke posisi nomor dua penyumbang inflasi.

Kepala Perwakilan BI Kalsel, Herawanto menjelaskan, karakter masyarakat Kalsel dalam mengkonsumsi beras memang unik. Warga Banua enggan memakan beras luar. Beras lokal masih favorit.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Banjarmasin Herawanto menjelaskan, ada karakteristik menarik dari masyarakat Kalsel yang selalu mengkonsumsi beras lokal.

“Karena konsumsi yang sangat tinggi terhadap beras lokal, membuat beras selalu menjadi pendorong inflasi di Kalsel,” ujarnya, kemarin (18/6).

Ditambahkan Herawanto, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalsel sebenarnya telah mengambil langkah-langkah antisipasi. Agar beras tak terus-menerus masuk lima besar pendorong inflasi.

“Contoh, seperti meningkatkan produktivitas padi lokal. Pengembangan varietas beras lokal. Hingga memperbanyak gudang-gudang perintis untuk menampung pasokan beras,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Radit dari Tim Peneliti Ekonomi BI, upaya-upaya yang ditawarkan TPID diharapkan mampu mengendalikan harga beras lokal di pasaran. Terutama saat permintaan konsumen sedang tinggi-tingginya. Misalkan ketika menyambut bulan Ramadan dan Idulfitri. (sya/fud/ema)

BANJARMASIN – Beras merupakan salah satu komoditas yang langganan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kalimantan Selatan. Bahkan, dalam dua bulan terakhir, beras selalu masuk lima besar pendorong inflasi di Kalsel.

Mengacu data Bank Indonesia, pada bulan April kemarin beras menduduki peringkat ketiga penyumbang inflasi. Lalu, pada Bulan Mei beras naik ke posisi nomor dua penyumbang inflasi.

Kepala Perwakilan BI Kalsel, Herawanto menjelaskan, karakter masyarakat Kalsel dalam mengkonsumsi beras memang unik. Warga Banua enggan memakan beras luar. Beras lokal masih favorit.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Banjarmasin Herawanto menjelaskan, ada karakteristik menarik dari masyarakat Kalsel yang selalu mengkonsumsi beras lokal.

“Karena konsumsi yang sangat tinggi terhadap beras lokal, membuat beras selalu menjadi pendorong inflasi di Kalsel,” ujarnya, kemarin (18/6).

Ditambahkan Herawanto, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalsel sebenarnya telah mengambil langkah-langkah antisipasi. Agar beras tak terus-menerus masuk lima besar pendorong inflasi.

“Contoh, seperti meningkatkan produktivitas padi lokal. Pengembangan varietas beras lokal. Hingga memperbanyak gudang-gudang perintis untuk menampung pasokan beras,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Radit dari Tim Peneliti Ekonomi BI, upaya-upaya yang ditawarkan TPID diharapkan mampu mengendalikan harga beras lokal di pasaran. Terutama saat permintaan konsumen sedang tinggi-tingginya. Misalkan ketika menyambut bulan Ramadan dan Idulfitri. (sya/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/