alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Ibnu Enggan Lawan Kotak Kosong, Pengamat: Jangan Sampai Banyak Calon

BANJARMASIN – Ibnu Sina tetap slow. Sebagai petahana, masih enggan buru-buru mengambil langkah politik. Lebih memilih fokus pada tugasnya sebagai wali kota. Tentu saja bersama wakilnya di periode ini, Hermansyah.

Meski begitu, Ibnu sudah mulai membangun komunikasi. Bersama beberapa pentolan partai politik, termasuk kepada para tokoh. Bahkan kandidat penantangnya seperti bos Barito Putera Hasnuryadi Sulaiman, dan Ketua DPRD Banjarmasin Ananda. Juga dengan mantan wali kota terdahulu, Muhidin yang mendorong putrinya untuk maju dalam pemilihan wali kota.

Bukannya pusing memikirkan kandidat penantang, Ibnu justru senang. Setidaknya ada pesaing jika nanti mencalonkan diri sebagai wali kota untuk periode kedua. “Saya menghargai siapapun yang ingin mencalon jadi wali kota. Mudah-mudahan tidak melawan kotak kosong,” katanya.

Siapa yang memikat hati Ibnu untuk jadi calon pendamping? Ia lagi-lagi menyimpan rapat. Sekalipun memberi bocoran, apakah ada yang pas, atau tidak. “Kan katanya slow,” ucapnya.

Soal wakilnya, Hermansyah yang juga digadang bakal maju mencalonkan diri sebagai wali kota, Ibnu tak merasa terganggu. Lantaran mereka sudah punya komitmen untuk fokus menuntaskan pekerjaan hingga akhir periode. “Saya sepakat dengan Pak Wakil. Kami fokus untuk menyelesaikan program Banjarmasin Baiman,” tuturnya.

Di sisi lain, nama Ibnu juga muncul dalam kandidat calon Gubernur Kalsel. Bersama dengan Mardani H Maming, Khairul Saleh, dan beberapa lainnya.

Jika mengutip polling yang dibuat laman pollingkita.com, hingga pukul 16.00 Wita kemarin (13/6), nama Ibnu berada di baris kedua kandidat terkuat. Ia memperoleh 360 voting, di bawah Mardani dengan angka 1.156 dari total 2.650 responden.

Terkait hal itu, Ibnu merespons santai. Ia tak mau keburu nafsu ingin jadi gubernur. Justru memberi isyarat masih ingin bertahan di kota ini. “Secara pribadi, saya ingin melanjutkan. Tapi, siapa temannya, masih belum,” akunya.

Ananda punya kans. “Secara pribadi, menakar kemampuan diri, untuk sekarang ini ulun (saya, Red) inginnya dicalonkan sebagai Wakil Wali Kota,” ujar Ananda, kemarin. Ananda punya modal lain, pernah mendapatkan rekomendasi dari Partai Golkar Banjarmasin yang dipimpinnya. Ketika itu namanya sudah diputuskan dalam rapat kerja daerah tahun 2017 lalu.

“Tapi intinya, masih menunggu petunjuk dari DPP dan DPD Partai Golkar Kalsel untuk langkah selanjutnya,” sebutnya.

Ananda menerangkan mengenai koalisi dengan partai lain sudah pernah pula ada pembicaraan. Namun masih secara informal dengan para petinggi partai lain. Ananda kini lebih memilih menunggu arahan dari partai, karena dia sendiri masih punya tanggung jawab sebagai Ketua DPRD Banjarmasin.

“Saya untuk sekarang fokus kerja dulu. Masih banyak tugas-tugas kedewanan,” tuturnya.

Jangan Sampai Banyak Calon
Pilihan Ibnu untuk melanjutkan kepemimpinannya cukup realistis. Posisinya sebagai petahana masih kokoh. Walaupun nama-nama kandidat lainnya tak kalah populer. Sebut saja Hasnuryadi yang sudah tenar, atau Ananda.

Apalagi kedua nama itu sukses dalam Pileg, April tadi. Hasnur kembali terpilih sebagai anggota DPR RI, sementara Ananda berhasil mengamankan kursinya di DPRD Banjarmasin. Walaupun hasil itu dianggap tak bisa jadi jaminan oleh pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Ani Cahyadi.

Menurutnya, hasil Pileg dan Pilpres tak terlalu berpengaruh untuk Pilwali. “Juga tidak berkelindan terhadap calon yang dipilih,” katanya.

Dia menyebut, lebih dari 50 persen pemilih di Banjarmasin tergolong rasional. Sehingga yang menentukan kesuksesan dalam pilwali adalah figur serta visi dan misi si calon. “Atau paling tidak, ada sesuatu yang baru. Dan memberi harapan baru untuk warga kota,” sebutnya.

Sekalipun ada pengaruhnya, hasil Pileg atau Pilpres cuma jadi tiket masuk saja. Jumlah suara yang diperoleh cuma ukuran harapan elektabilitas. Bukan garansi untuk memenangkan kontestasi. “Dari berbagai calon yang muncul, paling tidak ada enam figur yang muncul untuk menyaingi petahana.

Menurut saya, perlu kerja keras dan sosialisasi yang intens lagi,” tuturnya.

Perlukah pemecah suara alias banyak calon dalam Pilwali nanti? Menurut Ani, tidak. Bahkan jangan sampai. Sebab, bisa saja justru merugikan. Terutama bagi petahana.

“Tapi kalau dikalkulasi head to head, dua pasang calon atau lebih, dalam konteks sekarang tidak terlalu berpengaruh terhadap petahana,” tuntasnya.(nur/ mr-154/dye/ema)

BANJARMASIN – Ibnu Sina tetap slow. Sebagai petahana, masih enggan buru-buru mengambil langkah politik. Lebih memilih fokus pada tugasnya sebagai wali kota. Tentu saja bersama wakilnya di periode ini, Hermansyah.

Meski begitu, Ibnu sudah mulai membangun komunikasi. Bersama beberapa pentolan partai politik, termasuk kepada para tokoh. Bahkan kandidat penantangnya seperti bos Barito Putera Hasnuryadi Sulaiman, dan Ketua DPRD Banjarmasin Ananda. Juga dengan mantan wali kota terdahulu, Muhidin yang mendorong putrinya untuk maju dalam pemilihan wali kota.

Bukannya pusing memikirkan kandidat penantang, Ibnu justru senang. Setidaknya ada pesaing jika nanti mencalonkan diri sebagai wali kota untuk periode kedua. “Saya menghargai siapapun yang ingin mencalon jadi wali kota. Mudah-mudahan tidak melawan kotak kosong,” katanya.

Siapa yang memikat hati Ibnu untuk jadi calon pendamping? Ia lagi-lagi menyimpan rapat. Sekalipun memberi bocoran, apakah ada yang pas, atau tidak. “Kan katanya slow,” ucapnya.

Soal wakilnya, Hermansyah yang juga digadang bakal maju mencalonkan diri sebagai wali kota, Ibnu tak merasa terganggu. Lantaran mereka sudah punya komitmen untuk fokus menuntaskan pekerjaan hingga akhir periode. “Saya sepakat dengan Pak Wakil. Kami fokus untuk menyelesaikan program Banjarmasin Baiman,” tuturnya.

Di sisi lain, nama Ibnu juga muncul dalam kandidat calon Gubernur Kalsel. Bersama dengan Mardani H Maming, Khairul Saleh, dan beberapa lainnya.

Jika mengutip polling yang dibuat laman pollingkita.com, hingga pukul 16.00 Wita kemarin (13/6), nama Ibnu berada di baris kedua kandidat terkuat. Ia memperoleh 360 voting, di bawah Mardani dengan angka 1.156 dari total 2.650 responden.

Terkait hal itu, Ibnu merespons santai. Ia tak mau keburu nafsu ingin jadi gubernur. Justru memberi isyarat masih ingin bertahan di kota ini. “Secara pribadi, saya ingin melanjutkan. Tapi, siapa temannya, masih belum,” akunya.

Ananda punya kans. “Secara pribadi, menakar kemampuan diri, untuk sekarang ini ulun (saya, Red) inginnya dicalonkan sebagai Wakil Wali Kota,” ujar Ananda, kemarin. Ananda punya modal lain, pernah mendapatkan rekomendasi dari Partai Golkar Banjarmasin yang dipimpinnya. Ketika itu namanya sudah diputuskan dalam rapat kerja daerah tahun 2017 lalu.

“Tapi intinya, masih menunggu petunjuk dari DPP dan DPD Partai Golkar Kalsel untuk langkah selanjutnya,” sebutnya.

Ananda menerangkan mengenai koalisi dengan partai lain sudah pernah pula ada pembicaraan. Namun masih secara informal dengan para petinggi partai lain. Ananda kini lebih memilih menunggu arahan dari partai, karena dia sendiri masih punya tanggung jawab sebagai Ketua DPRD Banjarmasin.

“Saya untuk sekarang fokus kerja dulu. Masih banyak tugas-tugas kedewanan,” tuturnya.

Jangan Sampai Banyak Calon
Pilihan Ibnu untuk melanjutkan kepemimpinannya cukup realistis. Posisinya sebagai petahana masih kokoh. Walaupun nama-nama kandidat lainnya tak kalah populer. Sebut saja Hasnuryadi yang sudah tenar, atau Ananda.

Apalagi kedua nama itu sukses dalam Pileg, April tadi. Hasnur kembali terpilih sebagai anggota DPR RI, sementara Ananda berhasil mengamankan kursinya di DPRD Banjarmasin. Walaupun hasil itu dianggap tak bisa jadi jaminan oleh pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Ani Cahyadi.

Menurutnya, hasil Pileg dan Pilpres tak terlalu berpengaruh untuk Pilwali. “Juga tidak berkelindan terhadap calon yang dipilih,” katanya.

Dia menyebut, lebih dari 50 persen pemilih di Banjarmasin tergolong rasional. Sehingga yang menentukan kesuksesan dalam pilwali adalah figur serta visi dan misi si calon. “Atau paling tidak, ada sesuatu yang baru. Dan memberi harapan baru untuk warga kota,” sebutnya.

Sekalipun ada pengaruhnya, hasil Pileg atau Pilpres cuma jadi tiket masuk saja. Jumlah suara yang diperoleh cuma ukuran harapan elektabilitas. Bukan garansi untuk memenangkan kontestasi. “Dari berbagai calon yang muncul, paling tidak ada enam figur yang muncul untuk menyaingi petahana.

Menurut saya, perlu kerja keras dan sosialisasi yang intens lagi,” tuturnya.

Perlukah pemecah suara alias banyak calon dalam Pilwali nanti? Menurut Ani, tidak. Bahkan jangan sampai. Sebab, bisa saja justru merugikan. Terutama bagi petahana.

“Tapi kalau dikalkulasi head to head, dua pasang calon atau lebih, dalam konteks sekarang tidak terlalu berpengaruh terhadap petahana,” tuntasnya.(nur/ mr-154/dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/