alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Nyawa Hampir Melayang, Embung Kering Mendadak

Sabtu pagi itu Fatimah baru saja usai selamatan. Barang-barang berserakan. Dia dan anggota keluarga kelelahan. Tiba-tiba gemuruh bah di sungai pinggir rumah. Nyawa benar-benar dalam genggaman Tuhan.

Suara keran memancur. Fatimah dan keluarga sibuk membersihkan rumah mereka, Senin (10/6) kemarin. Di RT 6 Sungai Jupi. Sekitar empat belas kilometer dari pusat kota.

Wanita berusia paruh baya itu hampir kehilangan nyawanya. Ketika banjir bandang mengepung Pulau Laut bagian utara, Sabtu (8/6) tadi.

“Saya sampai ditarik pakai tali. Arus kencang. Rumah setengah sudah tenggelam,” ujar Fatimah.

Bekas dahsyatnya banjir bandang itu masih terlihat. Barang-barang tercerai berai. Dapur rumah berantakan. Halaman penuh benda-benda berharga yang dikeringkan.

Dinding bata belakang jebol sebagian. Perahu naik ke atas darat. Rumah Fatimah hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir sungai. Persis di tepi jalan poros kabupaten.

“Ngeri sekali. Selama saya di sini baru sekarang kena banjir segini. Begini air naik di rumah (menunjuk dinding setinggi satu meter,” kenangnya.

Banyak sekali barang mereka larut terbawa air. Jutaan rupiah pun melayang.

Agak tinggi ke selatan, rumah Isra Mirjani pengusaha tabung gas pun tak luput dihantam banjir. “Jutaan pastinya kalau kerugian,” ujar Isra. Saat itu dia pun sibuk membersihkan rumah.

Sudah dua hari mereka membersihkan rumah. Sampai siang kemarin belum rampung.

“Saya lahir di sini. Sampai tua di sini. Baru ini saya lihat banjir seperti ini di Pulau Laut,” ujar Kepala Pengadaan Barang dan Jasa Pemkab Kotabaru, Rahmad Nurdin.

Beruntung rumah Nurdin agak tinggi. Tidak terkena banjir. Tapi dia melihat dengan mata kepala: kota kelahiran lumpuh. Air cokelat menggenang di mana-mana. Disertai gemuruh dari puluhan anak sungai yang menuju ke muara laut.

“Kita ini kan persis di tepi laut. Banyak sungai. Kebetulan kena pasang air laut juga. Makanya parah,” ujar Nurdin.

Di hari naas yang sama, Humas PDAM Syarwani tidak pernah menyangka dapat kabar mengejutkan. Embung yang dibangun pemerintah dengan anggaran puluhan miliar jebol. “Saya hujan-hujan langsung ngebut ke Tirawan,” ujarnya.

Apa yang dia saksikan di Tirawan membuat bulu kuduknya berdiri. “Itu banjir bandang..! Deras sekali..!,” kenangnya. Meski dia masih heran embung bisa jebol, tapi dia meyakinkan bahwa tekanan air sangat deras.

“Saya tidak tahu sampai sekarang berapa tekanan air saat itu. Tapi ini baru pertama derasnya begitu,” akunya.

Musibah tak berhenti di sana. Informasi menakutkan lainnya terus masuk ke hape Syarwani: banyak pipa di seluruh Instalasi Pengolahan Air (IPA) pecah. Di sini pecah, di sana pipanya hilang terbawa banjir.

Senin kemarin banyak warga mengaku tidak mandi. Air PDAM padam. “Ada 14.340 pelanggan total terdampak. Air di rumah saya juga gak ada. Lebaran tadi kita banyak pakai air,” beber Syarwani.

Kapan masalah itu bisa diatasi? Syarwani menghela napas. “Sementara kami tidak bisa pakai embung Tirawan. Jadi kita mengandalkan intake-intake yang ada. Menunggu pipa selesai, semoga sehari ini sudah bisa mengalir.”

Dari pantauan Radar Banjarmasin, embung Tirawan benar-benar rusak parah. Sisi embung yang berbentuk dinding bendungan setinggi 10 meteran jebol tengahnya. Kemudian bagian atas embung tempat amblas. Dinding beton aliran air patah.

Embung yang kemarin-kemarin berair hijau dalam, kemarin hampir kering kerontang. Warga menyerbunya. Menangkap ikan. “Besar-besar nila nya, banyak dapat kemarin,” ujar seorang remaja pria bertelanjang dada.

Wakil Bupati Burhanudin yang dikabarkan sedang tidak harmonis dengan Bupati Sayed Jafar menyempatkan diri meluncur ke Tirawan. Sebaliknya, Sayed Jafar meluncur ke Gunung Sari, yang Sabtu tadi itu dihantam longsor: satu rumah rusak total.

Lantas bagaimana nasib embung? Syarwani mengatakan, mereka sedang mengusahakan perbaikan. “Ini kan masih tanggung jawab Balai Wilayah Sungai Kalimantan II. Soalnya belum dihibahkan ke daerah,” ungkapnya.

Sudah berkomunikasi dengan Balai? “Tadi pagi ada datang. Katanya akan diperbaiki,” jawab Syarwani. (zal/ay/ema)

Sabtu pagi itu Fatimah baru saja usai selamatan. Barang-barang berserakan. Dia dan anggota keluarga kelelahan. Tiba-tiba gemuruh bah di sungai pinggir rumah. Nyawa benar-benar dalam genggaman Tuhan.

Suara keran memancur. Fatimah dan keluarga sibuk membersihkan rumah mereka, Senin (10/6) kemarin. Di RT 6 Sungai Jupi. Sekitar empat belas kilometer dari pusat kota.

Wanita berusia paruh baya itu hampir kehilangan nyawanya. Ketika banjir bandang mengepung Pulau Laut bagian utara, Sabtu (8/6) tadi.

“Saya sampai ditarik pakai tali. Arus kencang. Rumah setengah sudah tenggelam,” ujar Fatimah.

Bekas dahsyatnya banjir bandang itu masih terlihat. Barang-barang tercerai berai. Dapur rumah berantakan. Halaman penuh benda-benda berharga yang dikeringkan.

Dinding bata belakang jebol sebagian. Perahu naik ke atas darat. Rumah Fatimah hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir sungai. Persis di tepi jalan poros kabupaten.

“Ngeri sekali. Selama saya di sini baru sekarang kena banjir segini. Begini air naik di rumah (menunjuk dinding setinggi satu meter,” kenangnya.

Banyak sekali barang mereka larut terbawa air. Jutaan rupiah pun melayang.

Agak tinggi ke selatan, rumah Isra Mirjani pengusaha tabung gas pun tak luput dihantam banjir. “Jutaan pastinya kalau kerugian,” ujar Isra. Saat itu dia pun sibuk membersihkan rumah.

Sudah dua hari mereka membersihkan rumah. Sampai siang kemarin belum rampung.

“Saya lahir di sini. Sampai tua di sini. Baru ini saya lihat banjir seperti ini di Pulau Laut,” ujar Kepala Pengadaan Barang dan Jasa Pemkab Kotabaru, Rahmad Nurdin.

Beruntung rumah Nurdin agak tinggi. Tidak terkena banjir. Tapi dia melihat dengan mata kepala: kota kelahiran lumpuh. Air cokelat menggenang di mana-mana. Disertai gemuruh dari puluhan anak sungai yang menuju ke muara laut.

“Kita ini kan persis di tepi laut. Banyak sungai. Kebetulan kena pasang air laut juga. Makanya parah,” ujar Nurdin.

Di hari naas yang sama, Humas PDAM Syarwani tidak pernah menyangka dapat kabar mengejutkan. Embung yang dibangun pemerintah dengan anggaran puluhan miliar jebol. “Saya hujan-hujan langsung ngebut ke Tirawan,” ujarnya.

Apa yang dia saksikan di Tirawan membuat bulu kuduknya berdiri. “Itu banjir bandang..! Deras sekali..!,” kenangnya. Meski dia masih heran embung bisa jebol, tapi dia meyakinkan bahwa tekanan air sangat deras.

“Saya tidak tahu sampai sekarang berapa tekanan air saat itu. Tapi ini baru pertama derasnya begitu,” akunya.

Musibah tak berhenti di sana. Informasi menakutkan lainnya terus masuk ke hape Syarwani: banyak pipa di seluruh Instalasi Pengolahan Air (IPA) pecah. Di sini pecah, di sana pipanya hilang terbawa banjir.

Senin kemarin banyak warga mengaku tidak mandi. Air PDAM padam. “Ada 14.340 pelanggan total terdampak. Air di rumah saya juga gak ada. Lebaran tadi kita banyak pakai air,” beber Syarwani.

Kapan masalah itu bisa diatasi? Syarwani menghela napas. “Sementara kami tidak bisa pakai embung Tirawan. Jadi kita mengandalkan intake-intake yang ada. Menunggu pipa selesai, semoga sehari ini sudah bisa mengalir.”

Dari pantauan Radar Banjarmasin, embung Tirawan benar-benar rusak parah. Sisi embung yang berbentuk dinding bendungan setinggi 10 meteran jebol tengahnya. Kemudian bagian atas embung tempat amblas. Dinding beton aliran air patah.

Embung yang kemarin-kemarin berair hijau dalam, kemarin hampir kering kerontang. Warga menyerbunya. Menangkap ikan. “Besar-besar nila nya, banyak dapat kemarin,” ujar seorang remaja pria bertelanjang dada.

Wakil Bupati Burhanudin yang dikabarkan sedang tidak harmonis dengan Bupati Sayed Jafar menyempatkan diri meluncur ke Tirawan. Sebaliknya, Sayed Jafar meluncur ke Gunung Sari, yang Sabtu tadi itu dihantam longsor: satu rumah rusak total.

Lantas bagaimana nasib embung? Syarwani mengatakan, mereka sedang mengusahakan perbaikan. “Ini kan masih tanggung jawab Balai Wilayah Sungai Kalimantan II. Soalnya belum dihibahkan ke daerah,” ungkapnya.

Sudah berkomunikasi dengan Balai? “Tadi pagi ada datang. Katanya akan diperbaiki,” jawab Syarwani. (zal/ay/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/