alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Tak Sebanding Hasil Panen, Petani Keluhkan Mahalnya Harga Pupuk

MARABAHAN – Petani di Batola sekarang ini dirundung masalah. Pasalnya harga pupuk melonjak naik. Urea bersubdi mencapai Rp 100 ribu untuk 50 kilogram, sedangkan non subsidi Rp290 ribu sampai Rp300 ribu satu kwintal.

“Harga pupuk terlalu mahal, tidak memadai dengan hasil padi yang didapat,” tutur H Imbran, Kepala Desa Cahaya Baru, di hadapan anggota DPRD Kalsel, H Karli Hanafi Kalianda, yang melakukan reses di desa tersebut, Minggu (25/2).

Permasalahan yang sering dihadapi petani di desanya saat ini, kata Imbran, pupuk bersubsidi yang disalurkan ke petani selalu terlambat. Kalaupun ada, jumlah yang diterima petani juga terbatas atau tidak mencukupi. 

Favehotel Banjarmasin

Padahal, kurangnya pasokan pupuk akan berdampak terhadap tanaman para petani. Hal ini belum ditambah dengan persoalan serangan hama. 

“Kalau dikurangi pupuk, hasilnya sedikit. Belum lagi serangan hama dan penyakit,” tambahnya.

Imbran buka-bukaan soal harga jual hasil tanaman padi warganya yang hanya antara Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per blek. Padahal modalnya lebih besar.

“Kalau dihitung-hitung harga jual yang kami terima sangat tidak memadai dengan biaya yang dikeluarkan, untuk satu kali panen dalam satu tahun,” ujarnya.

Para petani berharap kepada anggota DPRD Kalsel untuk bisa memperjuangkan tambahan jatah pupuk bersubsidi, penyaluran tepat waktu dan ada bantuan bibit selain padi seperti jeruk dan sayuran.

Menanggapi keluhan warga, anggota Komisi II DPRD Kalsel berjanji akan memperjuangkan dengan instansi berwenang yang pendanaannya dari APBD Provinsi Kalsel.

“Aspirasi warga akan disampaikan kepada instansi berwenang,” janjinya.

Keluhan serupa tentang mahalnya pupuk juga dilontarkan warga transmigrasi Sampurna yang juga masuk kecamatan Jejangkit, Kabupaten Batola. (gmp)

MARABAHAN – Petani di Batola sekarang ini dirundung masalah. Pasalnya harga pupuk melonjak naik. Urea bersubdi mencapai Rp 100 ribu untuk 50 kilogram, sedangkan non subsidi Rp290 ribu sampai Rp300 ribu satu kwintal.

“Harga pupuk terlalu mahal, tidak memadai dengan hasil padi yang didapat,” tutur H Imbran, Kepala Desa Cahaya Baru, di hadapan anggota DPRD Kalsel, H Karli Hanafi Kalianda, yang melakukan reses di desa tersebut, Minggu (25/2).

Permasalahan yang sering dihadapi petani di desanya saat ini, kata Imbran, pupuk bersubsidi yang disalurkan ke petani selalu terlambat. Kalaupun ada, jumlah yang diterima petani juga terbatas atau tidak mencukupi. 

Favehotel Banjarmasin

Padahal, kurangnya pasokan pupuk akan berdampak terhadap tanaman para petani. Hal ini belum ditambah dengan persoalan serangan hama. 

“Kalau dikurangi pupuk, hasilnya sedikit. Belum lagi serangan hama dan penyakit,” tambahnya.

Imbran buka-bukaan soal harga jual hasil tanaman padi warganya yang hanya antara Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per blek. Padahal modalnya lebih besar.

“Kalau dihitung-hitung harga jual yang kami terima sangat tidak memadai dengan biaya yang dikeluarkan, untuk satu kali panen dalam satu tahun,” ujarnya.

Para petani berharap kepada anggota DPRD Kalsel untuk bisa memperjuangkan tambahan jatah pupuk bersubsidi, penyaluran tepat waktu dan ada bantuan bibit selain padi seperti jeruk dan sayuran.

Menanggapi keluhan warga, anggota Komisi II DPRD Kalsel berjanji akan memperjuangkan dengan instansi berwenang yang pendanaannya dari APBD Provinsi Kalsel.

“Aspirasi warga akan disampaikan kepada instansi berwenang,” janjinya.

Keluhan serupa tentang mahalnya pupuk juga dilontarkan warga transmigrasi Sampurna yang juga masuk kecamatan Jejangkit, Kabupaten Batola. (gmp)

Most Read

Artikel Terbaru

/