alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Menara Pandang Kemuning Suguhkan Pemandangan Dari Ketinggian

BANJARBARU – Menara Pandang Kemuning atau Menara Pandang 33 di Banjarbaru sudah resmi diresmikan Walikota Banjarbaru serta pihak Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kalsel pada Kamis (21/2).

Usai diresmikan, menara pandang yang berbentuk piramida dan diberi corak warna warni ini mulai disambangi warga. Hal ini tampak terlihat dari pantauan Radar Banjarmasin pada Jumat (22/2) siang.

Tampak para pengunjung mengabadikan momen berlatar menara pandang nan unik ini. Tak sedikit juga yang naik ke bagian lantai atas menara untuk menikmati pemandangan sungai kemuning dari ketinggian.

Favehotel Banjarmasin

Fuad Wahyudi misalnya. Warga Kelurahan Mentaos Banjarbaru ini datang ke menara pandang bersama temannya.

“Tahunya dari Medsos. Pas kebetulan lewat, mampir sebentar. Selfie sama teman dari atas,” katanya diwawancara.

Selain Fuad, Marlina siswi salah satu SMP di Banjarbaru menuturkan ini kali pertama ia ke lokasi.

“Bareng teman di kelas. Ya unik dan keren, pemandangan sungai dan siringnya juga bagus,” ceritanya sembari berswafoto.

Memang menara pandang Kemuning ini menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Idaman. Tingginya yang kurang lebih 18 meter membuat pengunjung bisa melihat pemandangan Sungai Kemuning dari atas.

Sebelumnya, acara peresmian langsung dihadiri oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarbaru H Iwansyah, Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya, Kepala Balai Prasarana Pemukiman Kementrian PUPR RI Muhammad Rizal Abidin serta sejumlah Kepala Dinas SKPD kota Banjarbaru.

Kepala Bappeda Kota Banjarbaru Kanafi, dalam laporannya menyampaikan bahwa  melalui kegiatan Penanganan Permukiman Kumuh Kota Banjarbaru, kawasan kumuh di Banjarbaru sudah jauh berkurang, dari tahun 2016 sampai 2018 mencapai lebih dari 500 hektar.

“Saat ini kawasan kumuh di Banjarbaru hanya tersisa 87,45 hektare saja” paparnya.

Lalu, diutarakan oleh Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kalsel, Muhammad Rizat Abidin. Bahwa pembenahan kawasan kumuh di Sepanjang Sungai Kemuning adalah yang terpanjang di Indonesia karena panjang kawasan yang dibenahi lebih dari 3 kilometer.

Ditambahkannya saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR akan terus menggelontorkan dana untuk menggenjot pembangunan di Kota Banjarbaru.  Khususnya pada program kota tanpa kumuh atau “Kotaku”.

“Ini melebihi Kampung tematik yang ada di Yogyakarta, pembenahan Kampung Kemuning yang terpanjang di Indonesia,” katanya.

Turut disampaikannya, bahwa jikalau sebelumnya dana dari Pemerintah Pusat terfokus pada Sungai Kemuning.

“Pada tahun berikutnya dana pembangunan akan di fokuskan ke daerah Kecamatan Cempaka yang saat ini memiliki kawasan kumuh yang cukup luas.”

Di sisi lain, Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani dalam sambutannya sangat bangga atas apa yang telah dicapai. Lantaran kawasan sepanjang Sungai Kemuning saat ini sudah berubah drastis, dari yang sebelumnya, bahkan badan sungainya pun tidak kelihatan.

“Ini adalah hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarbaru dengan pemerintah pusat” ungkapnya.

Pembenahan sungai kemuning katanya ada tiga fase. Yang mana fase pertama melakukan normalisasi sungai melalui partisipasi masyarakat dan LPM Kota Banjarbaru.

Di fase kedua, Nadjmi mengklaim yakni membenahi bantaran sungai, sehingga ada ada ruang selebar 5 meter di kiri dan kanan sungai yang saat ini selesai pembenahannya.

“Yang ketiga yaitu tahapan pemberdayaan ekonomi kawasan agar ada peningkatan ekonomi masyarakat setelah kawasan ini dibenahi. Kegiatan ekonomi kreatif kerakyatan ditujukan supaya kegiatan ekonomi, bisnis dan wisata skala komunitas bisa hidup,” pandangnya. (rvn/al/ram)

BANJARBARU – Menara Pandang Kemuning atau Menara Pandang 33 di Banjarbaru sudah resmi diresmikan Walikota Banjarbaru serta pihak Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kalsel pada Kamis (21/2).

Usai diresmikan, menara pandang yang berbentuk piramida dan diberi corak warna warni ini mulai disambangi warga. Hal ini tampak terlihat dari pantauan Radar Banjarmasin pada Jumat (22/2) siang.

Tampak para pengunjung mengabadikan momen berlatar menara pandang nan unik ini. Tak sedikit juga yang naik ke bagian lantai atas menara untuk menikmati pemandangan sungai kemuning dari ketinggian.

Favehotel Banjarmasin

Fuad Wahyudi misalnya. Warga Kelurahan Mentaos Banjarbaru ini datang ke menara pandang bersama temannya.

“Tahunya dari Medsos. Pas kebetulan lewat, mampir sebentar. Selfie sama teman dari atas,” katanya diwawancara.

Selain Fuad, Marlina siswi salah satu SMP di Banjarbaru menuturkan ini kali pertama ia ke lokasi.

“Bareng teman di kelas. Ya unik dan keren, pemandangan sungai dan siringnya juga bagus,” ceritanya sembari berswafoto.

Memang menara pandang Kemuning ini menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Idaman. Tingginya yang kurang lebih 18 meter membuat pengunjung bisa melihat pemandangan Sungai Kemuning dari atas.

Sebelumnya, acara peresmian langsung dihadiri oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarbaru H Iwansyah, Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya, Kepala Balai Prasarana Pemukiman Kementrian PUPR RI Muhammad Rizal Abidin serta sejumlah Kepala Dinas SKPD kota Banjarbaru.

Kepala Bappeda Kota Banjarbaru Kanafi, dalam laporannya menyampaikan bahwa  melalui kegiatan Penanganan Permukiman Kumuh Kota Banjarbaru, kawasan kumuh di Banjarbaru sudah jauh berkurang, dari tahun 2016 sampai 2018 mencapai lebih dari 500 hektar.

“Saat ini kawasan kumuh di Banjarbaru hanya tersisa 87,45 hektare saja” paparnya.

Lalu, diutarakan oleh Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kalsel, Muhammad Rizat Abidin. Bahwa pembenahan kawasan kumuh di Sepanjang Sungai Kemuning adalah yang terpanjang di Indonesia karena panjang kawasan yang dibenahi lebih dari 3 kilometer.

Ditambahkannya saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR akan terus menggelontorkan dana untuk menggenjot pembangunan di Kota Banjarbaru.  Khususnya pada program kota tanpa kumuh atau “Kotaku”.

“Ini melebihi Kampung tematik yang ada di Yogyakarta, pembenahan Kampung Kemuning yang terpanjang di Indonesia,” katanya.

Turut disampaikannya, bahwa jikalau sebelumnya dana dari Pemerintah Pusat terfokus pada Sungai Kemuning.

“Pada tahun berikutnya dana pembangunan akan di fokuskan ke daerah Kecamatan Cempaka yang saat ini memiliki kawasan kumuh yang cukup luas.”

Di sisi lain, Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani dalam sambutannya sangat bangga atas apa yang telah dicapai. Lantaran kawasan sepanjang Sungai Kemuning saat ini sudah berubah drastis, dari yang sebelumnya, bahkan badan sungainya pun tidak kelihatan.

“Ini adalah hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarbaru dengan pemerintah pusat” ungkapnya.

Pembenahan sungai kemuning katanya ada tiga fase. Yang mana fase pertama melakukan normalisasi sungai melalui partisipasi masyarakat dan LPM Kota Banjarbaru.

Di fase kedua, Nadjmi mengklaim yakni membenahi bantaran sungai, sehingga ada ada ruang selebar 5 meter di kiri dan kanan sungai yang saat ini selesai pembenahannya.

“Yang ketiga yaitu tahapan pemberdayaan ekonomi kawasan agar ada peningkatan ekonomi masyarakat setelah kawasan ini dibenahi. Kegiatan ekonomi kreatif kerakyatan ditujukan supaya kegiatan ekonomi, bisnis dan wisata skala komunitas bisa hidup,” pandangnya. (rvn/al/ram)

Most Read

Artikel Terbaru

/