alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Data Tidak Sinkron, KPU Keliru Dalam Input Data

BANJARMASIN – Rapat pleno Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) Kalsel diinterupsi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Data dari tiga kabupaten dan satu kota rupanya tak sinkron. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dituntut lebih memperhatikan akurasi.

“Ada perbedaan yang mencolok. Antara hasil pleno di level kabupaten dan kota dengan provinsi. Angkanya berubah. Ternyata, ada kekeliruan dalam proses input data,” ungkap Komisioner Bawaslu Kalsel, Erna Kasypiah.

Kemarin (18/2) sore di Hotel Rattan Inn, pleno terbuka DPTb Kalsel digelar. Sehari sebelumnya, 13 KPU kabupaten dan kota telah menggelar pleno tersendiri. Data itulah yang menjadi bahan perbandingan Bawaslu.

Favehotel Banjarmasin

Dirincikan Erna, kekeliruan mencakup data desa, kelurahan, dan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS). Terjadi pada DPTb milik Banjarbaru, Banjar, dan Tanah Bumbu.

“Mestinya berapa kelurahan atau desa yang terdampak penambahan DPTb, itu saja yang diinput. Bukan dicatat angka totalnya,” imbuhnya.

Karena dicatat semua, datanya pun otomatis menggelembung.

Erna menuntut KPU untuk lebih jeli dalam bekerja. “Akhirnya enggak akurat. Bawaslu menginginkan, begitu diplenokan di level pusat, tidak ada lagi koreksi-koreksi sekunder seperti ini,” tegasnya.

Kesalahan lebih serius menimpa DPTb milik Hulu Sungai Utara. Keliru menginput Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Kedua (DPTHP-2). Pemilih yang keluar dan masuk mestinya dijumlahkan pada DPTb, bukan pada DPTHP-2.

Ketua KPU Kalsel, Edy Ariansyah coba membela bawahannya. “Betul, datanya jadi membingungkan. Tapi bukan karena ketidakpahaman. Saya kira lebih karena faktor kelelahan,” ujarnya.

Ditegaskannya, semua kekeliruan itu telah dikoreksi. Dengan disaksikan semua peserta rapat pleno.

“Jadi data yang kami rilis hari ini sudah clear,” timpalnya.

Mengesampingkan masalah di atas, dalam DPTb Kalsel, tercatat 9.893 pemilih masuk. Rinciannya, 7.433 pemilih lelaki dan 2.467 pemilih perempuan.

Sedangkan untuk pemilih keluar, jumlahnya 2.624 pemilih. Rinciannya, 1.668 pemilih lelaki dan 956 pemilih perempuan.

DPTb ini tidak final. Masih bisa direvisi hingga tanggal 17 Maret nanti. Dianalisa Edy, pemilih pindah pilih kebanyakan karena alasan pekerjaan dan pendidikan.

“Contoh, banyak mahasiswa Kalteng yang kuliah di Banjarmasin dan Banjarbaru. Sementara di Tanbu, ada tiga ribu pemilih masuk karena alasan pekerjaan,” jelasnya.

ADA pemandangan menarik dalam rapat pleno kemarin. Pemimpin rapat adalah Edy Ariansyah. Padahal, dia sudah “dilengserkan” dalam rapat pleno internal pada 23 Januari kemarin.

Berita acara DPTb juga diteken Edy sebagai ketua. Sementara penggantinya, Sarmuji, malah membubuhkan tanda tangan sebagai anggota. Apakah KPU Kalsel sedang mengalami kepemimpinan ganda?

“Secara de jure, saya tetap ketua. Sebab, SK saya yang lama toh belum dicabut,” tegasnya.

Sampai hari ini, KPU RI belum “merestui” penunjukan Sarmuji sebagai Ketua KPU Kalsel yang baru.

Sekalipun, Edy juga tak ingin menampik hasil pleno internal kemarin. Sebagai putusan tertinggi dalam lembaganya.

“Jadi kalau kawan-kawan wartawan mau menulis saya sebagai komisioner, terserah. Saya legowo kok,” ujarnya seraya tertawa. (fud/ay/ran)

BANJARMASIN – Rapat pleno Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) Kalsel diinterupsi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Data dari tiga kabupaten dan satu kota rupanya tak sinkron. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dituntut lebih memperhatikan akurasi.

“Ada perbedaan yang mencolok. Antara hasil pleno di level kabupaten dan kota dengan provinsi. Angkanya berubah. Ternyata, ada kekeliruan dalam proses input data,” ungkap Komisioner Bawaslu Kalsel, Erna Kasypiah.

Kemarin (18/2) sore di Hotel Rattan Inn, pleno terbuka DPTb Kalsel digelar. Sehari sebelumnya, 13 KPU kabupaten dan kota telah menggelar pleno tersendiri. Data itulah yang menjadi bahan perbandingan Bawaslu.

Favehotel Banjarmasin

Dirincikan Erna, kekeliruan mencakup data desa, kelurahan, dan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS). Terjadi pada DPTb milik Banjarbaru, Banjar, dan Tanah Bumbu.

“Mestinya berapa kelurahan atau desa yang terdampak penambahan DPTb, itu saja yang diinput. Bukan dicatat angka totalnya,” imbuhnya.

Karena dicatat semua, datanya pun otomatis menggelembung.

Erna menuntut KPU untuk lebih jeli dalam bekerja. “Akhirnya enggak akurat. Bawaslu menginginkan, begitu diplenokan di level pusat, tidak ada lagi koreksi-koreksi sekunder seperti ini,” tegasnya.

Kesalahan lebih serius menimpa DPTb milik Hulu Sungai Utara. Keliru menginput Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Kedua (DPTHP-2). Pemilih yang keluar dan masuk mestinya dijumlahkan pada DPTb, bukan pada DPTHP-2.

Ketua KPU Kalsel, Edy Ariansyah coba membela bawahannya. “Betul, datanya jadi membingungkan. Tapi bukan karena ketidakpahaman. Saya kira lebih karena faktor kelelahan,” ujarnya.

Ditegaskannya, semua kekeliruan itu telah dikoreksi. Dengan disaksikan semua peserta rapat pleno.

“Jadi data yang kami rilis hari ini sudah clear,” timpalnya.

Mengesampingkan masalah di atas, dalam DPTb Kalsel, tercatat 9.893 pemilih masuk. Rinciannya, 7.433 pemilih lelaki dan 2.467 pemilih perempuan.

Sedangkan untuk pemilih keluar, jumlahnya 2.624 pemilih. Rinciannya, 1.668 pemilih lelaki dan 956 pemilih perempuan.

DPTb ini tidak final. Masih bisa direvisi hingga tanggal 17 Maret nanti. Dianalisa Edy, pemilih pindah pilih kebanyakan karena alasan pekerjaan dan pendidikan.

“Contoh, banyak mahasiswa Kalteng yang kuliah di Banjarmasin dan Banjarbaru. Sementara di Tanbu, ada tiga ribu pemilih masuk karena alasan pekerjaan,” jelasnya.

ADA pemandangan menarik dalam rapat pleno kemarin. Pemimpin rapat adalah Edy Ariansyah. Padahal, dia sudah “dilengserkan” dalam rapat pleno internal pada 23 Januari kemarin.

Berita acara DPTb juga diteken Edy sebagai ketua. Sementara penggantinya, Sarmuji, malah membubuhkan tanda tangan sebagai anggota. Apakah KPU Kalsel sedang mengalami kepemimpinan ganda?

“Secara de jure, saya tetap ketua. Sebab, SK saya yang lama toh belum dicabut,” tegasnya.

Sampai hari ini, KPU RI belum “merestui” penunjukan Sarmuji sebagai Ketua KPU Kalsel yang baru.

Sekalipun, Edy juga tak ingin menampik hasil pleno internal kemarin. Sebagai putusan tertinggi dalam lembaganya.

“Jadi kalau kawan-kawan wartawan mau menulis saya sebagai komisioner, terserah. Saya legowo kok,” ujarnya seraya tertawa. (fud/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/