alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Darurat DBD, RS Sampai Kehabisan Kamar dan Stok Darah

BANJARBARU – Melonjaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banjarbaru, membuat keteteran RSD Idaman.

Bayangkan, saban hari mereka harus melayani puluhan pasien penderita penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Banyaknya pasien membuat rumah sakit milik Pemko Banjarbaru tersebut tak cukup untuk menampungnya.

Favehotel Banjarmasin

Akibatnya, sejumlah pasien ada yang dirujuk ke RS lain atau harus menunggu berjam-jam di IGD hingga ada kamar yang kosong.

Seperti halnya Amalia (6), pasien DBD dari Kelurahan Sungai Ulin ini harus menunggu di IGD selama tiga jam. Baru akhirnya mendapatkan kamar di RSD Idaman.

“Untung dapat kamar, saya khawatir karena kondisinya saat itu sangat lemas,” kata ibunya, Darti.

Amalia sendiri dirujuk ke RS pada Sabtu (9/2) tadi. Darti tidak tahu secara pasti, anaknya terkena DBD di mana.

“Di sekolah, temannya tidak ada yang kena DBD. Mungkin di kompleks, karena di sana masih banyak tanah kosong dipenuhi rumput liar,” ucapnya.

Kabag TU RSD Idaman Banjarbaru M Firmansyah membenarkan jika kamar inap akhir-akhir ini seringkali penuh. Lantaran, banyaknya penderita DBD yang masuk.

“Hampir tiap hari full. Kalau tidak ada kamar, pasien kami rujuk ke rumah sakit lain,” ujarnya.

Sejak Januari sampai pertengahan Februari ini, dia menuturkan, sudah ada 90 pasien DB dan 140 penderita DBD yang mereka tangani.

“Yang meninggal dunia dua orang. Satu warga Banjarbaru, satunya lagi dari Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Ditanya, kamar kelas apa saja yang sering penuh. Dia menyebut hampir semua jenis kamar full, mulai dari kelas satu, dua dan tiga.

“Bahkan ruang VIP juga penuh, karena diisi pasien DBD,” paparnya.

Selain kamar yang selalu penuh, Firman mengungkapkan, semenjak pasien DBD membeludak. Permintaan darah juga melonjak.

Akibatnya, Unit Transfusi Darah (UTD) RSD Idaman seringkali kehabisan stok.

“Kalau ada pasien DBD yang memerlukan darah, kami mengumumkannya melalui pengeras suara. Berharap, karyawan RS atau penjenguk yang mendengar ada yang bersedia mendonorkan darahnya,” ungkapnya.

Secara terpisah, Kepala UTD RSD Idaman Rosidah menyampaikan, penderita DBD yang memerlukan darah biasanya trombositnya drop. Sehingga harus diberi tambahan darah.

“Tapi, untuk menambah trombosit harus darah baru. Maksimal enam jam sesudah pengambilan. Sementara, stok di tempat kami kebanyakan darah yang sudah disimpan lama. Jadi, tidak bisa dibuat untuk trombosit,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, satu pasien DBD rata-rata memerlukan 10 kantong darah untuk menambah trombositnya. Itu yang membuat mereka kewalahan menyediakan darah segar.

“Ketika ada kegiatan donor darah, hampir setengahnya langsung diambil pasien DBD,” ujarnya.

Sementara itu, terkait banyaknya kasus DBD di Kota Idaman. Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, jumlahnya bertambah dibandingkan tahun lalu yang hanya 296 kasus.

“Sejak Januari hingga 9 Februari 2019, untuk DB sudah ada 96 kasus, sedangkan DBD 179. Yang meninggal dunia ada tiga orang,” ucapnya.

Meski kasusnya meningkat tajam, namun Pemko Banjarbaru belum menetapkan DBD menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani menyebut mereka memilih intens mengampanyekan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), untuk menekan perkembangan DBD. Dibandingkan menaikkan statusnya menjadi KLB.

“Kasusnya memang meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya dan sudah ada parameter yang masuk untuk menetapkan KLB. Tapi yang terpenting bukanlah status. Melainkan, bagaimana caranya mengatasi penyebaran nyamuknya,” katanya.

Ditambahkannya, kampanye PSN dilakukan dengan cara mengajak masyarakat agar turut terlibat memberantas sarang nyamuk. Melalui gerakan 3M: mengubur barang bekas, menguras bak mandi dan menutup tempat air yang dapat menjadi sarang nyamuk.

“Gerakan ini harus dilakukan seluruh masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, orang nomor satu di Banjarbaru ini menyampaikan, mereka juga bakal mengaktifkan kembali gerakan satu rumah satu Jumantik (juru pemantau jentik).

“Seluruh rumah harus diperiksa. Sebab, nyamuk Aedes Aegypti bisa menyebar hingga radius 300 meter,” ucapnya.

Ditanya, apakah ada hubungannya dengan APBD. Sebab, jika menetapkan KLB maka semua biaya pasien DBD bakal dibebankan oleh keuangan daerah. Nadjmi enggan memberikan jawaban.

“Kita fokus saja di gerakan PSN. Dan ini harus dilakukan oleh semua masyarakat,” pungkasnya. (ris/by/bin)

BANJARBARU – Melonjaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banjarbaru, membuat keteteran RSD Idaman.

Bayangkan, saban hari mereka harus melayani puluhan pasien penderita penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Banyaknya pasien membuat rumah sakit milik Pemko Banjarbaru tersebut tak cukup untuk menampungnya.

Favehotel Banjarmasin

Akibatnya, sejumlah pasien ada yang dirujuk ke RS lain atau harus menunggu berjam-jam di IGD hingga ada kamar yang kosong.

Seperti halnya Amalia (6), pasien DBD dari Kelurahan Sungai Ulin ini harus menunggu di IGD selama tiga jam. Baru akhirnya mendapatkan kamar di RSD Idaman.

“Untung dapat kamar, saya khawatir karena kondisinya saat itu sangat lemas,” kata ibunya, Darti.

Amalia sendiri dirujuk ke RS pada Sabtu (9/2) tadi. Darti tidak tahu secara pasti, anaknya terkena DBD di mana.

“Di sekolah, temannya tidak ada yang kena DBD. Mungkin di kompleks, karena di sana masih banyak tanah kosong dipenuhi rumput liar,” ucapnya.

Kabag TU RSD Idaman Banjarbaru M Firmansyah membenarkan jika kamar inap akhir-akhir ini seringkali penuh. Lantaran, banyaknya penderita DBD yang masuk.

“Hampir tiap hari full. Kalau tidak ada kamar, pasien kami rujuk ke rumah sakit lain,” ujarnya.

Sejak Januari sampai pertengahan Februari ini, dia menuturkan, sudah ada 90 pasien DB dan 140 penderita DBD yang mereka tangani.

“Yang meninggal dunia dua orang. Satu warga Banjarbaru, satunya lagi dari Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Ditanya, kamar kelas apa saja yang sering penuh. Dia menyebut hampir semua jenis kamar full, mulai dari kelas satu, dua dan tiga.

“Bahkan ruang VIP juga penuh, karena diisi pasien DBD,” paparnya.

Selain kamar yang selalu penuh, Firman mengungkapkan, semenjak pasien DBD membeludak. Permintaan darah juga melonjak.

Akibatnya, Unit Transfusi Darah (UTD) RSD Idaman seringkali kehabisan stok.

“Kalau ada pasien DBD yang memerlukan darah, kami mengumumkannya melalui pengeras suara. Berharap, karyawan RS atau penjenguk yang mendengar ada yang bersedia mendonorkan darahnya,” ungkapnya.

Secara terpisah, Kepala UTD RSD Idaman Rosidah menyampaikan, penderita DBD yang memerlukan darah biasanya trombositnya drop. Sehingga harus diberi tambahan darah.

“Tapi, untuk menambah trombosit harus darah baru. Maksimal enam jam sesudah pengambilan. Sementara, stok di tempat kami kebanyakan darah yang sudah disimpan lama. Jadi, tidak bisa dibuat untuk trombosit,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, satu pasien DBD rata-rata memerlukan 10 kantong darah untuk menambah trombositnya. Itu yang membuat mereka kewalahan menyediakan darah segar.

“Ketika ada kegiatan donor darah, hampir setengahnya langsung diambil pasien DBD,” ujarnya.

Sementara itu, terkait banyaknya kasus DBD di Kota Idaman. Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, jumlahnya bertambah dibandingkan tahun lalu yang hanya 296 kasus.

“Sejak Januari hingga 9 Februari 2019, untuk DB sudah ada 96 kasus, sedangkan DBD 179. Yang meninggal dunia ada tiga orang,” ucapnya.

Meski kasusnya meningkat tajam, namun Pemko Banjarbaru belum menetapkan DBD menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani menyebut mereka memilih intens mengampanyekan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), untuk menekan perkembangan DBD. Dibandingkan menaikkan statusnya menjadi KLB.

“Kasusnya memang meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya dan sudah ada parameter yang masuk untuk menetapkan KLB. Tapi yang terpenting bukanlah status. Melainkan, bagaimana caranya mengatasi penyebaran nyamuknya,” katanya.

Ditambahkannya, kampanye PSN dilakukan dengan cara mengajak masyarakat agar turut terlibat memberantas sarang nyamuk. Melalui gerakan 3M: mengubur barang bekas, menguras bak mandi dan menutup tempat air yang dapat menjadi sarang nyamuk.

“Gerakan ini harus dilakukan seluruh masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, orang nomor satu di Banjarbaru ini menyampaikan, mereka juga bakal mengaktifkan kembali gerakan satu rumah satu Jumantik (juru pemantau jentik).

“Seluruh rumah harus diperiksa. Sebab, nyamuk Aedes Aegypti bisa menyebar hingga radius 300 meter,” ucapnya.

Ditanya, apakah ada hubungannya dengan APBD. Sebab, jika menetapkan KLB maka semua biaya pasien DBD bakal dibebankan oleh keuangan daerah. Nadjmi enggan memberikan jawaban.

“Kita fokus saja di gerakan PSN. Dan ini harus dilakukan oleh semua masyarakat,” pungkasnya. (ris/by/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/