alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Friday, 1 July 2022

Ini yang Membuat Jasa Pengiriman Pontang-Panting

BANJARMASIN – Naiknya tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang ditetapkan oleh maskapai penerbangan, membuat sejumlah perusahaan jasa pengiriman di Kalsel pontang-panting.

Mereka harus memutar otak agar pendapatan tetap stabil. Sebab, melonjaknya tarif SMU atau kargo pesawat mengakibatkan modal untuk mengirimkan logistik bertambah beberapa kali lipat.

“Kenaikan tarif kargo menjadi salah satu kendala kami dalam melayani jasa pengiriman ekspres. Modal kami menjadi ekstra dari sebelumnya, mengingat kenaikannya mencapai 200 persen,” kata Direktur TIKI Banjarmasin, Oki Sendy.

Favehotel Banjarmasin

Meski begitu, dia menyampaikan bahwa hal itu mereka jadikan tantangan. Sebab, TIKI berkomitmen pelanggan dan pelaku usaha lokal merupakan mitra yang harus eksis untuk menjual barangnya ke seluruh penjuru tanah air.

“Maka dari itu, untuk menutupi modal pengiriman, kami hanya menaikkan tarif 5 sampai 10 persen,” ucapnya.

Selain menaikkan biaya, dia mengungkapkan mereka juga akan menguatkan pengiriman barang melalui jalur darat.

“Yang mau kami perkuat via darat ialah pengiriman Banjarmasin ke Balikpapan,” ungkapnya.

Sementara untuk pengiriman ke daerah lain, pria yang akrab disapa Oki ini menyampaikan bahwa pihaknya masih memilih menggunakan moda transportasi udara. Lantaran mereka mengutamakan kecepatan pengiriman.

“Komitmen pengantaran dan kecepatan tetap kami perkuat, walaupun tarif SMU naik,” ucapnya.

Bukan hanya TIKI, perusahaan jasa pengiriman lain seperti JNE, juga mencari beberapa alternatif untuk meminimalisir pengeluaran akibat tingginya tarif SMU. Salah satunya yaitu berencana menaikkan tarif pelayanan.

“Dalam waktu dekat saya akan melakukan penyesuaian tarif kiriman dari Kalsel. Karena tingginya biaya SMU,” kata Branch Manager JNE Banjarmasin, Depi Hariyanto.

Selain menyesuaikan tarif, dia menyampaikan bahwa pihaknya juga bakal memaksimalkan pengiriman barang di regional Kalimantan menggunakan moda transportasi darat.

Khusus untuk layanan pengiriman Reguler (REG) dengan estimasi waktu dua sampai tiga hari.

“Tapi untuk kiriman ke luar Pulau Kalimantan dengan layanan ekspres, kami masih menggunakan pesawat,” ucapnya.

Dengan memaksimalkan jalur darat, maka ada beberapa tujuan pengiriman yang sebelumnya menggunakan pesawat, sekarang tidak lagi. Yaitu ke Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Palangkaraya.

“Kami menggunakan armada sendiri dalam pengiriman jalur darat ini. Tidak menutup kemungkinan jalur darat kami juga digunakan oleh teman-teman anggota Asperindo,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Kalsel ini.

Dia menuturkan, naiknya tarif SMU atau kargo pesawat juga dikeluhkan oleh sejumlah perusahaan jasa pengiriman lainnya. Lantaran sangat membebani mereka.

“Untuk itu, DPP Asperindo telah mengirimkan surat pernyataan penolakan atas kenaikan tarif SMU ke Presiden RI,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Asperindo Mohammad Feriadi mengakui kenaikan ongkos logistik via udara sudah mencapai 300% lebih.

“Persentase kenaikan total mencapai lebih dari 300%. Makanya tinggi sekali. Kenaikan terjadi sejak Juni 2018. Sampai Januari ini naik dua kali total 300% lebih,” katanya.

Alhasil, sambung Feriadi, user Asperindo yang notabene adalah UMKM merasa keberatan jika anggota asosiasi menaikkan tarif jasa pengiriman. Karena biaya pengiriman bisa sampai berkali-kali juga kenaikannya. (ris/ay/ran)

BANJARMASIN – Naiknya tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang ditetapkan oleh maskapai penerbangan, membuat sejumlah perusahaan jasa pengiriman di Kalsel pontang-panting.

Mereka harus memutar otak agar pendapatan tetap stabil. Sebab, melonjaknya tarif SMU atau kargo pesawat mengakibatkan modal untuk mengirimkan logistik bertambah beberapa kali lipat.

“Kenaikan tarif kargo menjadi salah satu kendala kami dalam melayani jasa pengiriman ekspres. Modal kami menjadi ekstra dari sebelumnya, mengingat kenaikannya mencapai 200 persen,” kata Direktur TIKI Banjarmasin, Oki Sendy.

Favehotel Banjarmasin

Meski begitu, dia menyampaikan bahwa hal itu mereka jadikan tantangan. Sebab, TIKI berkomitmen pelanggan dan pelaku usaha lokal merupakan mitra yang harus eksis untuk menjual barangnya ke seluruh penjuru tanah air.

“Maka dari itu, untuk menutupi modal pengiriman, kami hanya menaikkan tarif 5 sampai 10 persen,” ucapnya.

Selain menaikkan biaya, dia mengungkapkan mereka juga akan menguatkan pengiriman barang melalui jalur darat.

“Yang mau kami perkuat via darat ialah pengiriman Banjarmasin ke Balikpapan,” ungkapnya.

Sementara untuk pengiriman ke daerah lain, pria yang akrab disapa Oki ini menyampaikan bahwa pihaknya masih memilih menggunakan moda transportasi udara. Lantaran mereka mengutamakan kecepatan pengiriman.

“Komitmen pengantaran dan kecepatan tetap kami perkuat, walaupun tarif SMU naik,” ucapnya.

Bukan hanya TIKI, perusahaan jasa pengiriman lain seperti JNE, juga mencari beberapa alternatif untuk meminimalisir pengeluaran akibat tingginya tarif SMU. Salah satunya yaitu berencana menaikkan tarif pelayanan.

“Dalam waktu dekat saya akan melakukan penyesuaian tarif kiriman dari Kalsel. Karena tingginya biaya SMU,” kata Branch Manager JNE Banjarmasin, Depi Hariyanto.

Selain menyesuaikan tarif, dia menyampaikan bahwa pihaknya juga bakal memaksimalkan pengiriman barang di regional Kalimantan menggunakan moda transportasi darat.

Khusus untuk layanan pengiriman Reguler (REG) dengan estimasi waktu dua sampai tiga hari.

“Tapi untuk kiriman ke luar Pulau Kalimantan dengan layanan ekspres, kami masih menggunakan pesawat,” ucapnya.

Dengan memaksimalkan jalur darat, maka ada beberapa tujuan pengiriman yang sebelumnya menggunakan pesawat, sekarang tidak lagi. Yaitu ke Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Palangkaraya.

“Kami menggunakan armada sendiri dalam pengiriman jalur darat ini. Tidak menutup kemungkinan jalur darat kami juga digunakan oleh teman-teman anggota Asperindo,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Kalsel ini.

Dia menuturkan, naiknya tarif SMU atau kargo pesawat juga dikeluhkan oleh sejumlah perusahaan jasa pengiriman lainnya. Lantaran sangat membebani mereka.

“Untuk itu, DPP Asperindo telah mengirimkan surat pernyataan penolakan atas kenaikan tarif SMU ke Presiden RI,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Asperindo Mohammad Feriadi mengakui kenaikan ongkos logistik via udara sudah mencapai 300% lebih.

“Persentase kenaikan total mencapai lebih dari 300%. Makanya tinggi sekali. Kenaikan terjadi sejak Juni 2018. Sampai Januari ini naik dua kali total 300% lebih,” katanya.

Alhasil, sambung Feriadi, user Asperindo yang notabene adalah UMKM merasa keberatan jika anggota asosiasi menaikkan tarif jasa pengiriman. Karena biaya pengiriman bisa sampai berkali-kali juga kenaikannya. (ris/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/