alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Bawaslu Tak Bisa Menjerat Pelaku

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalsel menyerahkan 74 koli tabloid Indonesia Barokah ke Polda Kalsel. Menyusul pernyataan Bawaslu RI bahwa tabloid itu tak bisa dijerat dengan pasal tindak pidana pemilu.

“Jadi tergolong tindak pidana umum. Makanya kami serahkan ke mapolda. Tidak diproses ke Sentra Gakkumdu,” kata Ketua Bawaslu Kalsel, Iwan Setiawan, kemarin (7/2).

Ribuan tabloid siap edar itu datang secara bergelombang ke Processing Center Kantor Pos Indonesia, Jalan Ahmad Yani kilometer 23. Dikirimkan dari Jakarta Selatan, transit sebentar di Surabaya, lalu dikirimkan menuju Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

Setiap paket tabloid telah disertai alamat lengkap masjid dan musala yang dituju. Bahkan, Kalsel hendak dijadikan pintu masuk. Untuk pengiriman tabloid ke daerah-daerah tetangga seperti Kalteng, Kaltim, dan Kaltara.

Arahan dari Bawaslu pusat cukup jelas. Kemarin, Bawaslu daerah diminta menahan peredaran tabloid. Sekarang, mereka diminta menyerahkannya ke pihak kepolisian.

“Diserahkan sebagai barang bukti. Kapan penyerahannya, masih dikoordinasikan,” imbuhnya.

Penyitaan tabloid Barokah berawal dari keberatan tim hukum kubu pasangan calon Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

“Kubu nomor 02 merasa keberatan. Isinya dinilai menyudutkan mereka. Untuk mencegah dampak yang lebih luas, lebih baik kami tahan,” bebernya.

Menjelang Pemilu 2019, suhu politik memang memanas. Kampanye hitam, hoax, dan ujaran kebencian kian ramai. Dan Bawaslu belajar dari pengalaman tabloid Obor Rakyat dari Pilpres 2014 yang menghebohkan itu.

“Karena tindak pidana umum, apakah nantinya dijerat dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan, polisi tentu lebih paham,” pungkas Iwan.

Diwartakan sebelumnya, Dewan Pers menyatakan tabloid Barokah bukan sebagai produk jurnalistik.

Sebab, dari hasil penelusuran Dewan Pers, kantor redaksi tabloid ini tak terlacak. Pimpinan redaksinya belum mengikuti UKW (Uji Kompetensi Wartawan) Utama. Ditambah lagi, konten beritanya merupakan hasil saduran tanpa disiplin verifikasi. (fud)

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalsel menyerahkan 74 koli tabloid Indonesia Barokah ke Polda Kalsel. Menyusul pernyataan Bawaslu RI bahwa tabloid itu tak bisa dijerat dengan pasal tindak pidana pemilu.

“Jadi tergolong tindak pidana umum. Makanya kami serahkan ke mapolda. Tidak diproses ke Sentra Gakkumdu,” kata Ketua Bawaslu Kalsel, Iwan Setiawan, kemarin (7/2).

Ribuan tabloid siap edar itu datang secara bergelombang ke Processing Center Kantor Pos Indonesia, Jalan Ahmad Yani kilometer 23. Dikirimkan dari Jakarta Selatan, transit sebentar di Surabaya, lalu dikirimkan menuju Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

Setiap paket tabloid telah disertai alamat lengkap masjid dan musala yang dituju. Bahkan, Kalsel hendak dijadikan pintu masuk. Untuk pengiriman tabloid ke daerah-daerah tetangga seperti Kalteng, Kaltim, dan Kaltara.

Arahan dari Bawaslu pusat cukup jelas. Kemarin, Bawaslu daerah diminta menahan peredaran tabloid. Sekarang, mereka diminta menyerahkannya ke pihak kepolisian.

“Diserahkan sebagai barang bukti. Kapan penyerahannya, masih dikoordinasikan,” imbuhnya.

Penyitaan tabloid Barokah berawal dari keberatan tim hukum kubu pasangan calon Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

“Kubu nomor 02 merasa keberatan. Isinya dinilai menyudutkan mereka. Untuk mencegah dampak yang lebih luas, lebih baik kami tahan,” bebernya.

Menjelang Pemilu 2019, suhu politik memang memanas. Kampanye hitam, hoax, dan ujaran kebencian kian ramai. Dan Bawaslu belajar dari pengalaman tabloid Obor Rakyat dari Pilpres 2014 yang menghebohkan itu.

“Karena tindak pidana umum, apakah nantinya dijerat dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan, polisi tentu lebih paham,” pungkas Iwan.

Diwartakan sebelumnya, Dewan Pers menyatakan tabloid Barokah bukan sebagai produk jurnalistik.

Sebab, dari hasil penelusuran Dewan Pers, kantor redaksi tabloid ini tak terlacak. Pimpinan redaksinya belum mengikuti UKW (Uji Kompetensi Wartawan) Utama. Ditambah lagi, konten beritanya merupakan hasil saduran tanpa disiplin verifikasi. (fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/