alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Kinerja Ekspor Luar Negeri Menjadi Faktor Menurunnya Perekonomian Kalsel

BANJARMASIN – Perekonomian Kalsel nampaknya menurun di kuartal keempat 2018 lalu. Hal ini berdasarkan rilis yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Rabu (6/2) kemarin.

Dari data BPS, perekonomian Kalsel triwulan IV 2018 turun sebesar 2,58 persen dari triwulan III 2018 (q-t-q).

Kepala BPS Kalsel Diah Utami mengatakan, perekonomian Kalsel pada kuartal keempat 2018 masuk dalam zona kontraksi. Lantaran sejumlah lapangan usaha yang dominan di Banua mengalami penurunan produksi.

Favehotel Banjarmasin

“Pertanian, kehutanan dan perikanan yang menjadi andalan di Kalsel turun 28,33 persen. Selain itu, industri pengolahan juga menurun 0,05 persen,” katanya.

Menurunnya kinerja ekspor luar negeri pada triwulan IV 2018 juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi negatif.

“Perlambatan yang terjadi pada komponen PKRT (Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga) juga turut mendukung negatifnya pertumbuhan di kuartal keempat secara total,” paparnya.

Padahal, beberapa komponen lain seperti Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP), Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) mengalami pertumbuhan lebih cepat dibanding triwulan sebelumnya.

Namun menurutnya, hal itu secara total tidak mampu berperan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal empat.

Untungnya pada triwulan yang sama, kategori lain yang juga menjadi andalan Kalsel seperti pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan produksi.

“Penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar pada kuartal empat adalah pertambangan dan penggalian dengan share 1,58 persen,” ucap Diah.

Di luar sektor pertambangan dan penggalian, dia mengungkapkan bahwa perdagangan besar, eceran, reparasi mobil serta motor juga turut menyumbang pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018. Yaitu sebesar 0,21 persen.

“Transportasi dan pergudangan juga menyumbang pertumbuhan 0,08 persen,” tambahnya.

Jika dilihat secara kumulatif, selain menurun pada triwulan IV 2018, pertumbuhan ekonomi Banua selama 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017 (Y on Y).

“Tahun 2017 PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kalsel tumbuh 5,29 persen. Tapi pada 2018 hanya 5,13 persen,” ujar Diah.

Menurutnya, perlambatan kinerja ekspor yang terjadi selama 2018 menjadi salah satu faktor penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu.

“Namun demikian, beberapa komponen lain menunjukkan kinerja yang sangat baik. Seperti halnya PK-LNPRT tumbuh 8,74 persen selama masa kampanye Pilpres,” tuturnya.

Selain PK-LNPRT, Diah menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi kumulatif 2018 sebesar 5,13 persen yang juga disumbangkan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,09 persen.

Lalu, perdagangan besar dan eceran reparasi mobil serta sepeda motor sebesar 0,66 persen. Kemudian, kategori pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,56 persen.

“Secara total, ketiga kategori tersebut menyumbang 2,31 persen. Sedangkan, 14 kategori lainnya memberikan sumbangan 2,82 persen pada pertumbuhan 2018,” paparnya.

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syahrituah Siregar menyebut bahwa turunnya perekonomian pada kuartal empat yang paling mencolok diakibatkan oleh menurunnya produksi sektor pertanian.

“Ini wajar, karena setiap tahun produksi sektor pertanian itu naik di triwulan II dan III, lalu turun pada triwulan IV. Ini pengaruh siklus musim panen dan paceklik,” jelasnya.

Sedangkan mengenai melemahnya pertumbuhan ekonomi Banua pada 2018, Dosen Fakultas Ekonomi ULM ini mengaku belum bisa bicara banyak. Sebab, harus melihat data untuk mendalami sektor per sektor yang mempengaruhi PDRB.

“Perlu dilihat dulu bagaimana produksi komoditas ekspor kita, terutama batubara. Pertumbuhannya lebih tinggi pada 2017 atau 2018,” pungkasnya. (ris/ay/ran)

BANJARMASIN – Perekonomian Kalsel nampaknya menurun di kuartal keempat 2018 lalu. Hal ini berdasarkan rilis yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Rabu (6/2) kemarin.

Dari data BPS, perekonomian Kalsel triwulan IV 2018 turun sebesar 2,58 persen dari triwulan III 2018 (q-t-q).

Kepala BPS Kalsel Diah Utami mengatakan, perekonomian Kalsel pada kuartal keempat 2018 masuk dalam zona kontraksi. Lantaran sejumlah lapangan usaha yang dominan di Banua mengalami penurunan produksi.

Favehotel Banjarmasin

“Pertanian, kehutanan dan perikanan yang menjadi andalan di Kalsel turun 28,33 persen. Selain itu, industri pengolahan juga menurun 0,05 persen,” katanya.

Menurunnya kinerja ekspor luar negeri pada triwulan IV 2018 juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi negatif.

“Perlambatan yang terjadi pada komponen PKRT (Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga) juga turut mendukung negatifnya pertumbuhan di kuartal keempat secara total,” paparnya.

Padahal, beberapa komponen lain seperti Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP), Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) mengalami pertumbuhan lebih cepat dibanding triwulan sebelumnya.

Namun menurutnya, hal itu secara total tidak mampu berperan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi kuartal empat.

Untungnya pada triwulan yang sama, kategori lain yang juga menjadi andalan Kalsel seperti pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan produksi.

“Penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar pada kuartal empat adalah pertambangan dan penggalian dengan share 1,58 persen,” ucap Diah.

Di luar sektor pertambangan dan penggalian, dia mengungkapkan bahwa perdagangan besar, eceran, reparasi mobil serta motor juga turut menyumbang pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018. Yaitu sebesar 0,21 persen.

“Transportasi dan pergudangan juga menyumbang pertumbuhan 0,08 persen,” tambahnya.

Jika dilihat secara kumulatif, selain menurun pada triwulan IV 2018, pertumbuhan ekonomi Banua selama 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017 (Y on Y).

“Tahun 2017 PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kalsel tumbuh 5,29 persen. Tapi pada 2018 hanya 5,13 persen,” ujar Diah.

Menurutnya, perlambatan kinerja ekspor yang terjadi selama 2018 menjadi salah satu faktor penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu.

“Namun demikian, beberapa komponen lain menunjukkan kinerja yang sangat baik. Seperti halnya PK-LNPRT tumbuh 8,74 persen selama masa kampanye Pilpres,” tuturnya.

Selain PK-LNPRT, Diah menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi kumulatif 2018 sebesar 5,13 persen yang juga disumbangkan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,09 persen.

Lalu, perdagangan besar dan eceran reparasi mobil serta sepeda motor sebesar 0,66 persen. Kemudian, kategori pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,56 persen.

“Secara total, ketiga kategori tersebut menyumbang 2,31 persen. Sedangkan, 14 kategori lainnya memberikan sumbangan 2,82 persen pada pertumbuhan 2018,” paparnya.

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syahrituah Siregar menyebut bahwa turunnya perekonomian pada kuartal empat yang paling mencolok diakibatkan oleh menurunnya produksi sektor pertanian.

“Ini wajar, karena setiap tahun produksi sektor pertanian itu naik di triwulan II dan III, lalu turun pada triwulan IV. Ini pengaruh siklus musim panen dan paceklik,” jelasnya.

Sedangkan mengenai melemahnya pertumbuhan ekonomi Banua pada 2018, Dosen Fakultas Ekonomi ULM ini mengaku belum bisa bicara banyak. Sebab, harus melihat data untuk mendalami sektor per sektor yang mempengaruhi PDRB.

“Perlu dilihat dulu bagaimana produksi komoditas ekspor kita, terutama batubara. Pertumbuhannya lebih tinggi pada 2017 atau 2018,” pungkasnya. (ris/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/