alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Berharap Keberuntungan di Tahun Babi Tanah

BANJARMASIN – Masyarakat Tionghoa menyambut Tahun Baru Imlek 2019. Mengucapkan selamat datang kepada Tahun Babi Tanah. Sembari melambaikan tangan kepada Tahun Anjing Tanah. Apa yang diharapkan atas tahun ini?

“Tahun lalu, elemen tanahnya besar sekali. Kurang mujur. Kita melihat bencana gempa, longsor, dan banjir terjadi dimana-mana,” kata pengurus Kelenteng Karta Raharja, Li Wo kepada Radar Banjarmasin, Senin (4/2) malam.

Tahun ini, dalam perhitungan Li Wo, elemen tanahnya memang tak sekuat tahun lalu.

Favehotel Banjarmasin

“Sekarang tanahnya kecil. Apalagi babi kan makannya lahap,” imbuhnya terkekeh.

Dalam bahasa berbeda, orang Tionghoa memandang tahun ini dengan lebih optimis. Lelaki 66 tahun itu juga mengingatkan, dalam urutan 12 Shio, babi merupakan Shio terakhir.

“Ibaratnya, inilah buntutnya. Tahun penutup,” tukasnya.

Apapun peruntungannya, masyarakat Tionghoa selalu bergembira menyambut Imlek. Tepat jam 12 malam, digelar Sembahyang Tuhan. Inilah momen turunnya para dewa ke bumi.

“Turunnya sebentar sekali. Tiga hari kemudian, para dewa ini akan kembali ke pos tugasnya masing-masing,” jelasnya.

Karena datangnya hanya sebentar, maka itulah kesempatan emas untuk memanjatkan doa-doa.

“Ada yang memohon dipertemukan dengan sang jodoh. Meminta bisnis dan rejekinya dilancarkan. Adapula yang meminta diberikan keturunan. Isi hati manusia siapa yang tahu,” tukas Li Wo.

Kelenteng Po An Kiong merupakan klenteng tua di Banjarmasin. Diperkirakan dibangun pada tahun 1898. Nama Karta Raharja atau Po An Kiong sebenarnya tak terlalu populer. Masyarakat Banjarmasin kerap menyebutnya Kelenteng Pasar.

Sebab, kelenteng ini berada di tengah pusat perdagangan yang ramai. Berada di Jalan Niaga Timur, kelenteng ini diapit Pasar Cempaka, Pasar Niaga, dan Pasar Malam Balauran. Tak jauh dari Pasar Sudimampir Baru. Li Wo sudah membantu mengurusi kelenteng ini sejak 14 tahun silam.

Selain membakar dupa, dalam Sembahyang Tuhan, orang Tionghoa juga membakar Kim Cua. Yakni uang kertas berbentuk emas. Kim Cua dipersembahkan kepada para dewa. Sedangkan Gin Cua atau uang perak dibakar untuk roh leluhur.

Ditanya makna, dia menjawab tak jauh-jauh dari doa.

“Kalau lipatan uang kertas itu dibuka, ada lukisan para dewa. Yang biasa kami mintai untuk kesehatan badan, rejeki dan perlindungan atas keturunan,” pungkas warga Kertak Baru Ulu ini. (fud/ay/ran)

BANJARMASIN – Masyarakat Tionghoa menyambut Tahun Baru Imlek 2019. Mengucapkan selamat datang kepada Tahun Babi Tanah. Sembari melambaikan tangan kepada Tahun Anjing Tanah. Apa yang diharapkan atas tahun ini?

“Tahun lalu, elemen tanahnya besar sekali. Kurang mujur. Kita melihat bencana gempa, longsor, dan banjir terjadi dimana-mana,” kata pengurus Kelenteng Karta Raharja, Li Wo kepada Radar Banjarmasin, Senin (4/2) malam.

Tahun ini, dalam perhitungan Li Wo, elemen tanahnya memang tak sekuat tahun lalu.

Favehotel Banjarmasin

“Sekarang tanahnya kecil. Apalagi babi kan makannya lahap,” imbuhnya terkekeh.

Dalam bahasa berbeda, orang Tionghoa memandang tahun ini dengan lebih optimis. Lelaki 66 tahun itu juga mengingatkan, dalam urutan 12 Shio, babi merupakan Shio terakhir.

“Ibaratnya, inilah buntutnya. Tahun penutup,” tukasnya.

Apapun peruntungannya, masyarakat Tionghoa selalu bergembira menyambut Imlek. Tepat jam 12 malam, digelar Sembahyang Tuhan. Inilah momen turunnya para dewa ke bumi.

“Turunnya sebentar sekali. Tiga hari kemudian, para dewa ini akan kembali ke pos tugasnya masing-masing,” jelasnya.

Karena datangnya hanya sebentar, maka itulah kesempatan emas untuk memanjatkan doa-doa.

“Ada yang memohon dipertemukan dengan sang jodoh. Meminta bisnis dan rejekinya dilancarkan. Adapula yang meminta diberikan keturunan. Isi hati manusia siapa yang tahu,” tukas Li Wo.

Kelenteng Po An Kiong merupakan klenteng tua di Banjarmasin. Diperkirakan dibangun pada tahun 1898. Nama Karta Raharja atau Po An Kiong sebenarnya tak terlalu populer. Masyarakat Banjarmasin kerap menyebutnya Kelenteng Pasar.

Sebab, kelenteng ini berada di tengah pusat perdagangan yang ramai. Berada di Jalan Niaga Timur, kelenteng ini diapit Pasar Cempaka, Pasar Niaga, dan Pasar Malam Balauran. Tak jauh dari Pasar Sudimampir Baru. Li Wo sudah membantu mengurusi kelenteng ini sejak 14 tahun silam.

Selain membakar dupa, dalam Sembahyang Tuhan, orang Tionghoa juga membakar Kim Cua. Yakni uang kertas berbentuk emas. Kim Cua dipersembahkan kepada para dewa. Sedangkan Gin Cua atau uang perak dibakar untuk roh leluhur.

Ditanya makna, dia menjawab tak jauh-jauh dari doa.

“Kalau lipatan uang kertas itu dibuka, ada lukisan para dewa. Yang biasa kami mintai untuk kesehatan badan, rejeki dan perlindungan atas keturunan,” pungkas warga Kertak Baru Ulu ini. (fud/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/