alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Halte Jangan Pakai Sponsor Rokok

BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina kaget mendengar kabar bahwa mulai awal tahun 2019, BRT (Bus Rapid Transit) mulai beroperasi. Mengingat infrastruktur utama berupa halte belum dibangun.

Pemprov Kalsel meminta bantuan pengadaan 50 unit BRT ke pemerintah pusat. Namun, hanya lima unit yang disetujui. Bantuan itu telah tiba di Banjarmasin pada awal bulan tadi.

“Saya jelas kaget, betapa terburu-buru. Haltenya saja belum siap. Saya tidak mau nanti disalahkan masyarakat. Karena muncul anggapan, bahwa BRT gagal beroperasi gara-gara Banjarmasin,” ujarnya, kemarin (27/12).

Pengadaan angkutan massal itu masih terkait program Banjarbakula (Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut). Gubernur sendiri telah meminta kepada para wali kota dan bupati untuk mengawal pembangunan haltenya.

BRT akan melayani jurusan antar Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Untuk infrastrukturnya, perlu dibangun 260 halte pada enam koridor. Tahap awal, tahun depan dibangun 122 halte untuk dua koridor.

Informasi beroperasinya BRT itu Ibnu dengar dari Dinas Perhubungan Kalsel. “Saya sudah melihat usulannya. Pada titik-titik mana saja halte itu hendak dibangun. Prinsipnya, Banjarmasin setuju dan mendukung,” tukasnya.

Mengapa pembangunan halte itu tak bisa dikebut, karena biayanya dibebankan pada dana CSR, bukan APBD. Ibnu pun tak masalah menggunakan dana CSR, selama memenuhi syarat yang dia sodorkan.

“Silakan pakai dana CSR. Syaratnya cuma satu: jangan dari perusahaan rokok. Penegasan itu sudah saya sampaikan. Saya tidak mau melihat iklan rokok bertebaran di jalan protokol. Sebab Banjarmasin telah berkomitmen menjadi kota sehat,” tegasnya. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina kaget mendengar kabar bahwa mulai awal tahun 2019, BRT (Bus Rapid Transit) mulai beroperasi. Mengingat infrastruktur utama berupa halte belum dibangun.

Pemprov Kalsel meminta bantuan pengadaan 50 unit BRT ke pemerintah pusat. Namun, hanya lima unit yang disetujui. Bantuan itu telah tiba di Banjarmasin pada awal bulan tadi.

“Saya jelas kaget, betapa terburu-buru. Haltenya saja belum siap. Saya tidak mau nanti disalahkan masyarakat. Karena muncul anggapan, bahwa BRT gagal beroperasi gara-gara Banjarmasin,” ujarnya, kemarin (27/12).

Pengadaan angkutan massal itu masih terkait program Banjarbakula (Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut). Gubernur sendiri telah meminta kepada para wali kota dan bupati untuk mengawal pembangunan haltenya.

BRT akan melayani jurusan antar Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Untuk infrastrukturnya, perlu dibangun 260 halte pada enam koridor. Tahap awal, tahun depan dibangun 122 halte untuk dua koridor.

Informasi beroperasinya BRT itu Ibnu dengar dari Dinas Perhubungan Kalsel. “Saya sudah melihat usulannya. Pada titik-titik mana saja halte itu hendak dibangun. Prinsipnya, Banjarmasin setuju dan mendukung,” tukasnya.

Mengapa pembangunan halte itu tak bisa dikebut, karena biayanya dibebankan pada dana CSR, bukan APBD. Ibnu pun tak masalah menggunakan dana CSR, selama memenuhi syarat yang dia sodorkan.

“Silakan pakai dana CSR. Syaratnya cuma satu: jangan dari perusahaan rokok. Penegasan itu sudah saya sampaikan. Saya tidak mau melihat iklan rokok bertebaran di jalan protokol. Sebab Banjarmasin telah berkomitmen menjadi kota sehat,” tegasnya. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/