alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Thursday, 19 May 2022

Waduh…!! Tembok RS Sultan Suriansyah Mulai Retak

BANJARMASIN – Wakil Ketua DPRD Banjarmasin, Suprayogi memantau proyek Rumah Sakit Sultan Suriansyah, kemarin (26/12) pagi. Dia menyoroti keretakan tembok di salah satu sudut bangunan.

Keretakan tampak pada gedung pendukung. Yang diapit oleh gedung poliklinik dan gedung IGD (Instalasi Gawat Darurat). Paling parah di kamar pemulasaran jenazah.

Tembok remuk itu pertama kali terlihat oleh Anggota DPRD Banjarmasin, Matnor Ali. Keretakan bahkan sudah menjalar. Dari lantai satu hingga ke lantai dua.

Gedung pendukung termasuk yang paling awal dibangun. Sekitar tahun 2015 sampai 2016. Sempat mangkrak sepanjang tahun 2017, pekerjaan kembali dilanjutkan tahun ini oleh kontraktor berbeda.

“Ke mana kontraktornya sekarang? Saya tidak tahu. Mau tidak mau, lagi-lagi pemerintah yang harus menanggung anggaran perbaikannya,” cecar Suprayogi.

Apalagi pemko diburu waktu. Rumkit di Jalan Rantauan Darat itu dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2019 mendatang.

“Semegah apapun suatu bangunan, kalau tak dirawat pasti rusak. Ini harus disikapi Dinas PU (Pekerjaan Umum). Kalau didiamkan nanti malah bertambah parah,” tambahnya.

Kunjungan rombongan anggota dewan itu untuk memastikan ketepatan waktu pengerjaan. Mengingat pergantian tahun tinggal menghitung hari. Dari APBD 2018, dialokasikan Rp29 miliar.

Sedangkan dari APBD 2019, telah dialokasikan Rp70 miliar. Untuk pembangunan gedung utama setinggi lima lantai. Suprayogi berpesan, agar pemko belajar dari pengalaman. Lebih siap dalam menghadapi proses lelang. Sehingga pekerjaan tidak molor melewati pertengahan tahun.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Banjarmasin, Agus Suyatno menegaskan kerusakan itu tidaklah fatal. “Terus terang, tidak fatal. Istilah kami keretakan segaris rambut,” ujarnya.

Bagaimana kerusakan itu bisa muncul, Agus mengaku tak berwenang menjelaskannya. Lantaran dia baru terlibat pengerjaan rumah sakit pada tahun ini. “Soal itu saya no comment. Saya bukan ahlinya,” tukasnya.

Pada tahun depan, proyek rumah sakit Tipe C itu tidak lagi ditangani Dinkes. Tapi dioper ke Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang). “Dalam artian masih bisa diperbaiki. Karena belum mengenai struktur atau pondasi bangunan,” jelasnya.

Agus menambahkan, dari APBD 2019 juga telah dialokasikan anggaran untuk perawatan bangunan rumah sakit. “Sudah dianggarkan. Dari cleaning service, security, sampai perawatan gedung,” pungkasnya. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Wakil Ketua DPRD Banjarmasin, Suprayogi memantau proyek Rumah Sakit Sultan Suriansyah, kemarin (26/12) pagi. Dia menyoroti keretakan tembok di salah satu sudut bangunan.

Keretakan tampak pada gedung pendukung. Yang diapit oleh gedung poliklinik dan gedung IGD (Instalasi Gawat Darurat). Paling parah di kamar pemulasaran jenazah.

Tembok remuk itu pertama kali terlihat oleh Anggota DPRD Banjarmasin, Matnor Ali. Keretakan bahkan sudah menjalar. Dari lantai satu hingga ke lantai dua.

Gedung pendukung termasuk yang paling awal dibangun. Sekitar tahun 2015 sampai 2016. Sempat mangkrak sepanjang tahun 2017, pekerjaan kembali dilanjutkan tahun ini oleh kontraktor berbeda.

“Ke mana kontraktornya sekarang? Saya tidak tahu. Mau tidak mau, lagi-lagi pemerintah yang harus menanggung anggaran perbaikannya,” cecar Suprayogi.

Apalagi pemko diburu waktu. Rumkit di Jalan Rantauan Darat itu dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2019 mendatang.

“Semegah apapun suatu bangunan, kalau tak dirawat pasti rusak. Ini harus disikapi Dinas PU (Pekerjaan Umum). Kalau didiamkan nanti malah bertambah parah,” tambahnya.

Kunjungan rombongan anggota dewan itu untuk memastikan ketepatan waktu pengerjaan. Mengingat pergantian tahun tinggal menghitung hari. Dari APBD 2018, dialokasikan Rp29 miliar.

Sedangkan dari APBD 2019, telah dialokasikan Rp70 miliar. Untuk pembangunan gedung utama setinggi lima lantai. Suprayogi berpesan, agar pemko belajar dari pengalaman. Lebih siap dalam menghadapi proses lelang. Sehingga pekerjaan tidak molor melewati pertengahan tahun.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Banjarmasin, Agus Suyatno menegaskan kerusakan itu tidaklah fatal. “Terus terang, tidak fatal. Istilah kami keretakan segaris rambut,” ujarnya.

Bagaimana kerusakan itu bisa muncul, Agus mengaku tak berwenang menjelaskannya. Lantaran dia baru terlibat pengerjaan rumah sakit pada tahun ini. “Soal itu saya no comment. Saya bukan ahlinya,” tukasnya.

Pada tahun depan, proyek rumah sakit Tipe C itu tidak lagi ditangani Dinkes. Tapi dioper ke Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang). “Dalam artian masih bisa diperbaiki. Karena belum mengenai struktur atau pondasi bangunan,” jelasnya.

Agus menambahkan, dari APBD 2019 juga telah dialokasikan anggaran untuk perawatan bangunan rumah sakit. “Sudah dianggarkan. Dari cleaning service, security, sampai perawatan gedung,” pungkasnya. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/