alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Satpol PP Himbau Pedagang Untuk Menaati Peraturan Yang Berlaku

BANJARBARU – Mendekati momen Tahun Baru. Biasanya marak pedagang terompet serta topeng. Kehadiran pedagang musiman ini tidak lepas dari perayaan pergantian tahun.

Lokasi favorit mereka mangkal, di jalan utama seperti A Yani maupun Mistar Cokrokusumo. Atau pusat keramaian seperti di Taman Van Der Pijl hingga Bundaran Simpang Empat. Kedatangan mereka pun tidak lepas dari pantauan satuan penegak perda, Satpol PP.

Namun, di akhir tahun ini, sepekan terakhir menjelang tahun baru, menurut Satpol PP belum terlihat ada pedagang terompet yang mangkal di pinggir jalan.

“Memang dari pantauan kita saat patroli belum ada. Namun tetap kita pantau,” kata Kasatpol PP Banjarbaru, Marhain Rahman melalui PPNS Seksi Opsdal, Yanto Hidayat.

Tahun kemarin sebut Yanto, para pedagang ini cukup marak. Bahkan pihaknya mencatat ada tujuh pelanggaran yang dilakukan oleh pedagang terompet dan topeng ini.

“Rata-rata karena mereka berjualan memakan bahu jalan hingga di trotoar. Ini melanggar Perda no 6 tahun 2014 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat,” jelasnya.

Menurut Yanto, berdagang sah-sah saja. Lantaran itu hak asasi yang tidak bisa dilarang oleh Satpol PP. Tetapi ditegaskannya bahwa pedagang jangan sampai melanggar peraturan.

“Jangan sampai melanggar. Pedagang harus sadar, walau niatnya mencari nafkah tetap harus sesuai aturan. Misal memakan bahu jalan ini akan membahayakan keselamatan pengguna jalan, kalau di trotoar juga mengganggu pejalan kaki,” pesannya.

Sementara itu, dari penelusuran Radar Banjarmasin, Selasa (25/12) kemarin, ada satu pedagang terlihat di Jalan Mistar Cokrokusomo. Persis di seberang kantor Bapelkes Provinsi Kalsel.

Tuti, pedagang terompet dan topeng menuturkan, sudah hampir dua pekan ia berjualan. ” Tahun ini tidak ramai, terompet kurang laku, kalau topeng lumayan,” ujar perempuan yang mengaku selalu menggelar dagangan serupa jelang tahun baru.

Untuk sebuah terompet, ia memasang harga dari Rp5000 hingga Rp25.000. Pernah mendapat teguran atau sanksi dari Satpol PP? Tuti yang berjualan di samping jalan utama mengaku tidak pernah.

“Saya jualan tidak membahayakan kok. Tidak masuk ke jalan,” ujarnya. (rvn/by/bin)

BANJARBARU – Mendekati momen Tahun Baru. Biasanya marak pedagang terompet serta topeng. Kehadiran pedagang musiman ini tidak lepas dari perayaan pergantian tahun.

Lokasi favorit mereka mangkal, di jalan utama seperti A Yani maupun Mistar Cokrokusumo. Atau pusat keramaian seperti di Taman Van Der Pijl hingga Bundaran Simpang Empat. Kedatangan mereka pun tidak lepas dari pantauan satuan penegak perda, Satpol PP.

Namun, di akhir tahun ini, sepekan terakhir menjelang tahun baru, menurut Satpol PP belum terlihat ada pedagang terompet yang mangkal di pinggir jalan.

“Memang dari pantauan kita saat patroli belum ada. Namun tetap kita pantau,” kata Kasatpol PP Banjarbaru, Marhain Rahman melalui PPNS Seksi Opsdal, Yanto Hidayat.

Tahun kemarin sebut Yanto, para pedagang ini cukup marak. Bahkan pihaknya mencatat ada tujuh pelanggaran yang dilakukan oleh pedagang terompet dan topeng ini.

“Rata-rata karena mereka berjualan memakan bahu jalan hingga di trotoar. Ini melanggar Perda no 6 tahun 2014 tentang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat,” jelasnya.

Menurut Yanto, berdagang sah-sah saja. Lantaran itu hak asasi yang tidak bisa dilarang oleh Satpol PP. Tetapi ditegaskannya bahwa pedagang jangan sampai melanggar peraturan.

“Jangan sampai melanggar. Pedagang harus sadar, walau niatnya mencari nafkah tetap harus sesuai aturan. Misal memakan bahu jalan ini akan membahayakan keselamatan pengguna jalan, kalau di trotoar juga mengganggu pejalan kaki,” pesannya.

Sementara itu, dari penelusuran Radar Banjarmasin, Selasa (25/12) kemarin, ada satu pedagang terlihat di Jalan Mistar Cokrokusomo. Persis di seberang kantor Bapelkes Provinsi Kalsel.

Tuti, pedagang terompet dan topeng menuturkan, sudah hampir dua pekan ia berjualan. ” Tahun ini tidak ramai, terompet kurang laku, kalau topeng lumayan,” ujar perempuan yang mengaku selalu menggelar dagangan serupa jelang tahun baru.

Untuk sebuah terompet, ia memasang harga dari Rp5000 hingga Rp25.000. Pernah mendapat teguran atau sanksi dari Satpol PP? Tuti yang berjualan di samping jalan utama mengaku tidak pernah.

“Saya jualan tidak membahayakan kok. Tidak masuk ke jalan,” ujarnya. (rvn/by/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/