alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Mencairnya Ideologi Politik di Dalam Keluarga

ADA fenomena menarik pada Pileg 2019. Fanatisme masyarakat terhadap partai politik (Parpol) luntur. Tak ada lagi istilah partai keturunan. Kakek, bapak, istri, dan anak kini beda pilihan. Bebas menentukan pilihan.

Mantan Bupati Kotabaru M Sjachrani Mataja masih ingin menjadi anggota DPR RI. Anaknya, M Iqbal Yudiannoor tak mau kalah. Juga maju untuk DPRD Kalsel. Mereka bersaing dalam level berbeda di Pemilu 2019. Parpolnya juga berbeda.

Sjachrani Mataja mengaku tidak ada masalah berbeda parpol dengan anaknya. Walau kesannya bersaing suara, tapi di belakang layar tidak begitu. “Ya bisa saja lah bisik-bisik, kan,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (22/12) malam tadi.

Menurut Mataja, parpol sekarang memang tidak lebih sekadar perahu para politisi. Pindah parpol, satu keluarga macam-macam perahu, menurut mantan bupati di Kotabaru ini, merupakan keniscayaan.

“Satu keluarga beda parpol malah bagus. Demokratis. Supaya anak-anak belajar politiknya makin matang,” tekannya.

Jika semua bisa duduk di dewan, memudahkan kerja mereka nanti. Beda parpol tidak terlalu berlaku untuk kebijakan di dewan nanti. Walau tetap ada intervensi dari pimpinan parpol masing-masing.

Selain Iqbal, anak Mataja lainnya, M Fardian Noor juga nyaleg. Di DPRD Kotabaru. Kebetulan partainya sama dengan sang ayah. Memudahkan Mataja tandem saat kampanye di Kotabaru.

Tak hanya keluarga Mataja, mantan Wakil Bupati Tapin, Sufian Noor juga mengalami perjalanan politik berbeda dengan putranya. Ikut di kancah pemilihan legislatif dengan partai yang berlainan.

“Walau berbeda parpol, saya selaku orang tua sering memberikan arahan-arahan tentang politik,” ungkap Sufian.

Karena, dalam keluarganya saling menghormati adalah prinsip. Bahkan ia dan Reza Ahmad, anak pertamanya ini, kalau ada kesempatan selalu berdiskusi.

“Saya tak pernah memaksakan kehendak. Harus ikut saya. Ia sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri,” katanya.

Beda partai dengan anaknya, bagi Supian tak ada persoalan. Sejatinya, karena mereka berbeda daerah pemilihan. Sebab itu, tak akan ada rebutan suara.

Di Banjarmasin, Norasya Verdiana dan Said Kamaruzzaman juga berseberangan secara politik. Vera (sapaan Norasya Verdiana) dan Said sama-sama maju sebagai calon anggota dewan provinsi dari dua partai berbeda.

Bagi mereka perbedaan tak ada persoalan. Kebersamaan Vera dan Said sudah tercipta sejak mereka anak-anak. Di setiap kesempatan, dua kakak beradik ini selalu berdua. Tiap ada Vera, pasti juga ada Said. Sebaliknya, setiap Said ada kegiatan, Vera juga tak pernah absen. Mereka juga atlet catur dan selalu berdua kalau ikut kejuaraan.

Menariknya, pada Pemilu lima tahun lalu, mereka rukun di satu partai. Sekarang, mereka memutuskan untuk beda haluan. “Kami punya sikap politik masing-masing. Makanya, sekarang kami memilih partai sesuai keinginan sendiri,” kata Vera.

Walaupun berlainan perahu, Vera dan Said tetap berjalan dalam satu manajemen bisnis. Mereka berdua merupakan pebisnis ulung berusia muda yang menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan.

“Pendapatan yang kami kumpulkan bersama-sama tetap diatur dengan manajemen yang rapi. Inilah yang diajarkan oleh mendiang kedua orangtua kami,” sambung Vera.

Total keuntungan yang didapat dari bisnis yang mereka jalankan, lantas dibagi dua sama rata. Termasuk untuk urusan kampanye demi memuluskan upaya mereka sebagai caleg.

“Untuk mendanai keperluan kampanye, kami tetap bersama-sama. Kalau Vera bikin baliho, saya juga bikin baliho. Termasuk dana untuk menyambangi tiap dapil juga kami siapkan sama-sama,” sebut Said.

Bagi Vera dan Said, beda partai bukan berarti harus bersaing. “Justru kami saling dukung satu sama lain,” tegasnya.

Lalu bagaimana pandangan masyarakat dengan parpol? Apa ideologi yang mereka pilih? APa mereka membaca visi-misi?

Jangan terlalu ruwet. Masyarakat kebanyakan ternyata tak terlalu suka yang pelik-pelik seperti parpol. Mereka punya parameter sendiri memilih caleg.

Dengarlah celoteh Hafizah dari Kelurahan Angsau, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Meski Pemilu 2019 masih lama, tiga bulan lagi. Ia mengaku sudah menentukan pilihan. “Bukan partainya saya pilih. Tetapi orangnya. Calegnya,” kata dia.

Hafizah tak memandang dari partai apa caleg yang akan dipilih. Ia punya parameter sendiri. Ukurannya berdasarkan pertemanan, keluarga, dan orang-orang yang dianggapnya dekat. Amanah dan bisa dipercaya, berdasarkan pengamatan dan pengalamannya.

Manda dari Banjarbaru punya cerita sendiri. Ia cenderung memilih calon legislatif mengikuti pilihan suaminya, Rozi. “Kurang paham politik. Suami cerita, ia punya kerabat yang nyaleg. Ya didukung. Soal parpolnya, ora urus (tak mengurusi.Red),” tuturnya.

Berbeda dengan Zuhri dan istrinya, Dewi Rahmawati. Pasangan dari Sungai Ulin Banjarbaru ini beda pandangan dalam politik. Masing-masing punya pilihan. Dari dulu. “Kebetulan orang tua pengurus partai, jadi dari kecil tahunya dan pilihannya, ya itu saja,” kata Zuhri.

Walau sang suami setia dengan partainya, Dewi punya jalan sendiri. Ia tak pernah sependapat dengan pasangannya. Tak mau mengikuti sikap suami.

Kisah serupa juga terjadi pada keluarga Abdul Muhaimin Siddiq dan anaknya, Rizky Akbar Muhaimin dari Batulicin, Tanah Bumbu. Keduanya sama-sama punya pandangan serupa, tapi beda dalam pilihan. Sama, karena tak memandang jati diri partai. Berbeda, sebab masing-masing punya jagoan.

Di keluarga mereka, papar Andre Rizky, memang beda pilihan. Bebas menentukan sikap. “Saya memilih calon berdasarkan kompetensi. Otomatis, nanti partainya juga dipilih. Jadi. calon legislatif kabupaten, provinsi, dan pusat, nanti berbeda-beda parpolnya,” sebut Andre.

Ahmad dari Marabahan menghadapi pesta demokrasi lima tahunan ini, sejak jauh hari, keluarga ini sepaham. Hanya memilih partai politik tertentu saja. Berikut para calon legislatifnya. Dari daerah, provinsi, hingga pusat.

“Kami hanya memilih partai yang sudah eksis. Dengan calon yang berpengalaman. Diutamakan ada kaitan keluarga. Tertutup untuk orang tak dikenal,” tegasnya.

Standar Ahmad untuk menentukan pilihan hampir sama dengan keluarga Jahidi. Warga Ulu Benteng Marabahan ini memilih calon anggota dewan karena ada ikatan keluarga. “Mending dukung keluarga saja. Tak peduli partai,” ucapnya. (ard/dly/mr-152/kry/rvn/oza/zal/gmp/mof)

ADA fenomena menarik pada Pileg 2019. Fanatisme masyarakat terhadap partai politik (Parpol) luntur. Tak ada lagi istilah partai keturunan. Kakek, bapak, istri, dan anak kini beda pilihan. Bebas menentukan pilihan.

Mantan Bupati Kotabaru M Sjachrani Mataja masih ingin menjadi anggota DPR RI. Anaknya, M Iqbal Yudiannoor tak mau kalah. Juga maju untuk DPRD Kalsel. Mereka bersaing dalam level berbeda di Pemilu 2019. Parpolnya juga berbeda.

Sjachrani Mataja mengaku tidak ada masalah berbeda parpol dengan anaknya. Walau kesannya bersaing suara, tapi di belakang layar tidak begitu. “Ya bisa saja lah bisik-bisik, kan,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (22/12) malam tadi.

Menurut Mataja, parpol sekarang memang tidak lebih sekadar perahu para politisi. Pindah parpol, satu keluarga macam-macam perahu, menurut mantan bupati di Kotabaru ini, merupakan keniscayaan.

“Satu keluarga beda parpol malah bagus. Demokratis. Supaya anak-anak belajar politiknya makin matang,” tekannya.

Jika semua bisa duduk di dewan, memudahkan kerja mereka nanti. Beda parpol tidak terlalu berlaku untuk kebijakan di dewan nanti. Walau tetap ada intervensi dari pimpinan parpol masing-masing.

Selain Iqbal, anak Mataja lainnya, M Fardian Noor juga nyaleg. Di DPRD Kotabaru. Kebetulan partainya sama dengan sang ayah. Memudahkan Mataja tandem saat kampanye di Kotabaru.

Tak hanya keluarga Mataja, mantan Wakil Bupati Tapin, Sufian Noor juga mengalami perjalanan politik berbeda dengan putranya. Ikut di kancah pemilihan legislatif dengan partai yang berlainan.

“Walau berbeda parpol, saya selaku orang tua sering memberikan arahan-arahan tentang politik,” ungkap Sufian.

Karena, dalam keluarganya saling menghormati adalah prinsip. Bahkan ia dan Reza Ahmad, anak pertamanya ini, kalau ada kesempatan selalu berdiskusi.

“Saya tak pernah memaksakan kehendak. Harus ikut saya. Ia sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri,” katanya.

Beda partai dengan anaknya, bagi Supian tak ada persoalan. Sejatinya, karena mereka berbeda daerah pemilihan. Sebab itu, tak akan ada rebutan suara.

Di Banjarmasin, Norasya Verdiana dan Said Kamaruzzaman juga berseberangan secara politik. Vera (sapaan Norasya Verdiana) dan Said sama-sama maju sebagai calon anggota dewan provinsi dari dua partai berbeda.

Bagi mereka perbedaan tak ada persoalan. Kebersamaan Vera dan Said sudah tercipta sejak mereka anak-anak. Di setiap kesempatan, dua kakak beradik ini selalu berdua. Tiap ada Vera, pasti juga ada Said. Sebaliknya, setiap Said ada kegiatan, Vera juga tak pernah absen. Mereka juga atlet catur dan selalu berdua kalau ikut kejuaraan.

Menariknya, pada Pemilu lima tahun lalu, mereka rukun di satu partai. Sekarang, mereka memutuskan untuk beda haluan. “Kami punya sikap politik masing-masing. Makanya, sekarang kami memilih partai sesuai keinginan sendiri,” kata Vera.

Walaupun berlainan perahu, Vera dan Said tetap berjalan dalam satu manajemen bisnis. Mereka berdua merupakan pebisnis ulung berusia muda yang menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan.

“Pendapatan yang kami kumpulkan bersama-sama tetap diatur dengan manajemen yang rapi. Inilah yang diajarkan oleh mendiang kedua orangtua kami,” sambung Vera.

Total keuntungan yang didapat dari bisnis yang mereka jalankan, lantas dibagi dua sama rata. Termasuk untuk urusan kampanye demi memuluskan upaya mereka sebagai caleg.

“Untuk mendanai keperluan kampanye, kami tetap bersama-sama. Kalau Vera bikin baliho, saya juga bikin baliho. Termasuk dana untuk menyambangi tiap dapil juga kami siapkan sama-sama,” sebut Said.

Bagi Vera dan Said, beda partai bukan berarti harus bersaing. “Justru kami saling dukung satu sama lain,” tegasnya.

Lalu bagaimana pandangan masyarakat dengan parpol? Apa ideologi yang mereka pilih? APa mereka membaca visi-misi?

Jangan terlalu ruwet. Masyarakat kebanyakan ternyata tak terlalu suka yang pelik-pelik seperti parpol. Mereka punya parameter sendiri memilih caleg.

Dengarlah celoteh Hafizah dari Kelurahan Angsau, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Meski Pemilu 2019 masih lama, tiga bulan lagi. Ia mengaku sudah menentukan pilihan. “Bukan partainya saya pilih. Tetapi orangnya. Calegnya,” kata dia.

Hafizah tak memandang dari partai apa caleg yang akan dipilih. Ia punya parameter sendiri. Ukurannya berdasarkan pertemanan, keluarga, dan orang-orang yang dianggapnya dekat. Amanah dan bisa dipercaya, berdasarkan pengamatan dan pengalamannya.

Manda dari Banjarbaru punya cerita sendiri. Ia cenderung memilih calon legislatif mengikuti pilihan suaminya, Rozi. “Kurang paham politik. Suami cerita, ia punya kerabat yang nyaleg. Ya didukung. Soal parpolnya, ora urus (tak mengurusi.Red),” tuturnya.

Berbeda dengan Zuhri dan istrinya, Dewi Rahmawati. Pasangan dari Sungai Ulin Banjarbaru ini beda pandangan dalam politik. Masing-masing punya pilihan. Dari dulu. “Kebetulan orang tua pengurus partai, jadi dari kecil tahunya dan pilihannya, ya itu saja,” kata Zuhri.

Walau sang suami setia dengan partainya, Dewi punya jalan sendiri. Ia tak pernah sependapat dengan pasangannya. Tak mau mengikuti sikap suami.

Kisah serupa juga terjadi pada keluarga Abdul Muhaimin Siddiq dan anaknya, Rizky Akbar Muhaimin dari Batulicin, Tanah Bumbu. Keduanya sama-sama punya pandangan serupa, tapi beda dalam pilihan. Sama, karena tak memandang jati diri partai. Berbeda, sebab masing-masing punya jagoan.

Di keluarga mereka, papar Andre Rizky, memang beda pilihan. Bebas menentukan sikap. “Saya memilih calon berdasarkan kompetensi. Otomatis, nanti partainya juga dipilih. Jadi. calon legislatif kabupaten, provinsi, dan pusat, nanti berbeda-beda parpolnya,” sebut Andre.

Ahmad dari Marabahan menghadapi pesta demokrasi lima tahunan ini, sejak jauh hari, keluarga ini sepaham. Hanya memilih partai politik tertentu saja. Berikut para calon legislatifnya. Dari daerah, provinsi, hingga pusat.

“Kami hanya memilih partai yang sudah eksis. Dengan calon yang berpengalaman. Diutamakan ada kaitan keluarga. Tertutup untuk orang tak dikenal,” tegasnya.

Standar Ahmad untuk menentukan pilihan hampir sama dengan keluarga Jahidi. Warga Ulu Benteng Marabahan ini memilih calon anggota dewan karena ada ikatan keluarga. “Mending dukung keluarga saja. Tak peduli partai,” ucapnya. (ard/dly/mr-152/kry/rvn/oza/zal/gmp/mof)

Most Read

Artikel Terbaru

/