alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Waduh!! Akreditasi Sekolah Pengaruhi Pemberian Dana BOS

BANJARMASIN – Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) Kalsel mengungkap ratusan sekolah dasar (SD) dan madrasah Ibtidaiyah (MI) Kalsel. Banyak yang masih berakreditasi C. 28 dari dua sekolah jenjang bawah ini bahkan tak terakreditasi.

Ketua BAN-SM Kalsel, Rusmansyah membeberkan, dari hasil penilaian pihaknya sepanjang tahun 2018 ini, titik lemahnya karena standar kelulusan, tenaga pendidik hingga sarana dan prasarana sekolah.

“Tiga hal ini yang menjadi faktor masih banyaknya dua sekolah berakreditasi C,” ungkap Rusmansyah, disela Rapat Koordinasi Daerah BAN-SM Kalsel 2018 di Hotel Aria Barito, (21/12) tadi.

Tentu yang dirugikan adalah siswa. Ketika ujian mereka harus ikut dengan sekolah yang terakreditasi. Pasalnya, kepala sekolah tak bisa menandatangani ijazah. “Yang kasihan kan siswanya,” tambahnya.

Hal ini juga berpengaruh pada pemberian dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Jika kondisi kualitas sekolahnya memang tak memungkinkan, kasihan para siswanya dengan kondisi demikian,” tukasnya.

Berdasarkan data dari BAN-SM Kalsel, SD di Kabupaten Tanah Laut yang paling banyak tak terakreditasi. Kemudian Kabupaten Banjar. Untuk MI Kabupaten Banjar yang paling banyak, diiringi Barito Kuala dan Hulu Sungai Selatan.

Sementara, SD yang hanya terakreditasi C paling banyak ada di Kabupaten Balangan dan Tabalong, sama-sama 24 SD. Diiringi Kabupaten Banjar sebanyak 17 SD dan Hulu Sungai Selatan dan Tanah Laut sejumlah 15 SD.

Di jenjang MI, yang terakreditasi C paling banyak di Kabupaten Banjar sebanyak 14 MI, di urutan kedua MI di Kabupaten Tabalong sebanyak 5 MI dan disusul MI di Kabupaten Batola dan Hulu Sungai Utara sebanyak 4 MI.

Rusman menyebut, untuk SD dan MI yang terakreditas A sebanyak 110 sekolah. Untuk jenjang SD di dominasi Kota Banjarmasin sebanyak 14 SD disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Tabalong sebanyak 13 SD.

Sementara, di jenjang MI, Kabupaten Banjar paling banyak yang terakreditasi A, disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 10 MI dan Tabalong 3 MI.

“Madrasah masih banyak yang akreditasinya rendah, faktornya sumber daya manusianya, dalam hal ini gurunya masih rendah. Berbeda di jenjang Sekolah, gurunya saat ini sudah harus sarjana,” terangnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, Yusuf Effendi mengatakan sarana prasana menjadi salah satu faktor masih banyak SD/MI yang berakreditasi C.

“Pendidikan dasar memang masih banyak, ini yang patut menjadi perhatian,” kata Yusuf yang mengakui daerah yang sulit dijangkau masih banyak sarana dan prasana yang harus ditingkatkan.

Dari segi tenaga pendidik juga masih ada sekolah yang tak sesuai standar pendidikan dan kependidikan. Yang seharusnya S1 program pendidikan mata pelajaran tertentu, malah diisi oleh guru dengan program mata pelajaran lain.

“Kalau sarana dan prasarana harus bertahap, ini pun bagi jenjang pendidikan dasar sudah kewenangan kabupaten dan kota,” kata Yusuf.

Yusuf boleh bangga, di jenjang SMA/MK yang menjadi kewenangan Pemprov, hanya 5 sekolah yang tak terakreditasi. Lima sekolah tersebut ada di Banjarbaru 1, Tanah Bumbu 1, Tanah Laut 2 dan 1 di Banjarmasin.

“Sekolah yang kewenangan Pemprov terus kami lakukan pembenahan. Meski masih ada yang tak terakreditasi,” ujarnya.

Tak hanya tak terakreditasi, sesuai data BAN-SM Kalsel, ada sebanyak 13 SMA/MK di Kalsel yang hanya akreditasi C. Akreditasi C ini bahkan akan mempengaruhi pendaftaran siswa ke jenjang perguruan tinggi. “Akreditasi ini sebenarnya potret diri sekolah yang harus dibenahi sendiri,” tukasnya.

Sementara, Ketua BAN-SM Kalsel, Rusmansyah menegaskan, bagi sekolah yang tak terakreditasi, tak bisa menggelar ujian nasional. Sekolah tersebut pun terangnya tak berhak mengeluarkan ijazah. Dijelaskannya, sekolah tak terakreditasi bahkan ada tenaga pendidik yang jauh dari standar.

Secara blak-blakan Rusman membeberkan bahkan ada sekolah yang pengajarnya 1 orang. “Bahkan kami menemui baru lulus SMA ada yang mengajar jadi guru,” ungkap Rusman. (mof/ay/ran)

BANJARMASIN – Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) Kalsel mengungkap ratusan sekolah dasar (SD) dan madrasah Ibtidaiyah (MI) Kalsel. Banyak yang masih berakreditasi C. 28 dari dua sekolah jenjang bawah ini bahkan tak terakreditasi.

Ketua BAN-SM Kalsel, Rusmansyah membeberkan, dari hasil penilaian pihaknya sepanjang tahun 2018 ini, titik lemahnya karena standar kelulusan, tenaga pendidik hingga sarana dan prasarana sekolah.

“Tiga hal ini yang menjadi faktor masih banyaknya dua sekolah berakreditasi C,” ungkap Rusmansyah, disela Rapat Koordinasi Daerah BAN-SM Kalsel 2018 di Hotel Aria Barito, (21/12) tadi.

Tentu yang dirugikan adalah siswa. Ketika ujian mereka harus ikut dengan sekolah yang terakreditasi. Pasalnya, kepala sekolah tak bisa menandatangani ijazah. “Yang kasihan kan siswanya,” tambahnya.

Hal ini juga berpengaruh pada pemberian dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Jika kondisi kualitas sekolahnya memang tak memungkinkan, kasihan para siswanya dengan kondisi demikian,” tukasnya.

Berdasarkan data dari BAN-SM Kalsel, SD di Kabupaten Tanah Laut yang paling banyak tak terakreditasi. Kemudian Kabupaten Banjar. Untuk MI Kabupaten Banjar yang paling banyak, diiringi Barito Kuala dan Hulu Sungai Selatan.

Sementara, SD yang hanya terakreditasi C paling banyak ada di Kabupaten Balangan dan Tabalong, sama-sama 24 SD. Diiringi Kabupaten Banjar sebanyak 17 SD dan Hulu Sungai Selatan dan Tanah Laut sejumlah 15 SD.

Di jenjang MI, yang terakreditasi C paling banyak di Kabupaten Banjar sebanyak 14 MI, di urutan kedua MI di Kabupaten Tabalong sebanyak 5 MI dan disusul MI di Kabupaten Batola dan Hulu Sungai Utara sebanyak 4 MI.

Rusman menyebut, untuk SD dan MI yang terakreditas A sebanyak 110 sekolah. Untuk jenjang SD di dominasi Kota Banjarmasin sebanyak 14 SD disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Tabalong sebanyak 13 SD.

Sementara, di jenjang MI, Kabupaten Banjar paling banyak yang terakreditasi A, disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 10 MI dan Tabalong 3 MI.

“Madrasah masih banyak yang akreditasinya rendah, faktornya sumber daya manusianya, dalam hal ini gurunya masih rendah. Berbeda di jenjang Sekolah, gurunya saat ini sudah harus sarjana,” terangnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, Yusuf Effendi mengatakan sarana prasana menjadi salah satu faktor masih banyak SD/MI yang berakreditasi C.

“Pendidikan dasar memang masih banyak, ini yang patut menjadi perhatian,” kata Yusuf yang mengakui daerah yang sulit dijangkau masih banyak sarana dan prasana yang harus ditingkatkan.

Dari segi tenaga pendidik juga masih ada sekolah yang tak sesuai standar pendidikan dan kependidikan. Yang seharusnya S1 program pendidikan mata pelajaran tertentu, malah diisi oleh guru dengan program mata pelajaran lain.

“Kalau sarana dan prasarana harus bertahap, ini pun bagi jenjang pendidikan dasar sudah kewenangan kabupaten dan kota,” kata Yusuf.

Yusuf boleh bangga, di jenjang SMA/MK yang menjadi kewenangan Pemprov, hanya 5 sekolah yang tak terakreditasi. Lima sekolah tersebut ada di Banjarbaru 1, Tanah Bumbu 1, Tanah Laut 2 dan 1 di Banjarmasin.

“Sekolah yang kewenangan Pemprov terus kami lakukan pembenahan. Meski masih ada yang tak terakreditasi,” ujarnya.

Tak hanya tak terakreditasi, sesuai data BAN-SM Kalsel, ada sebanyak 13 SMA/MK di Kalsel yang hanya akreditasi C. Akreditasi C ini bahkan akan mempengaruhi pendaftaran siswa ke jenjang perguruan tinggi. “Akreditasi ini sebenarnya potret diri sekolah yang harus dibenahi sendiri,” tukasnya.

Sementara, Ketua BAN-SM Kalsel, Rusmansyah menegaskan, bagi sekolah yang tak terakreditasi, tak bisa menggelar ujian nasional. Sekolah tersebut pun terangnya tak berhak mengeluarkan ijazah. Dijelaskannya, sekolah tak terakreditasi bahkan ada tenaga pendidik yang jauh dari standar.

Secara blak-blakan Rusman membeberkan bahkan ada sekolah yang pengajarnya 1 orang. “Bahkan kami menemui baru lulus SMA ada yang mengajar jadi guru,” ungkap Rusman. (mof/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/