alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Harga Zenith Melambung, Pengguna Beralih ke Sabu-Sabu

BANJARBARU – Tahun ini, pamor Carnophnen (pil zenith) digeser Sabu. Badan Nasional Narkotika (BNN) Kota Banjarbaru mencatat penyalahgunaan Sabu tahun ini mencapai 39,8 persen. Sedangkan Carnophen di urutan kedua 25 persen.

Kepala BNNK Banjarbaru, AKBP Sugito menjelaskan pergeseran tren ini buntut dari naiknya status Carnophen ke dalam golongan Narkotika 1. Yang mana penggunanya akan dijerat UU Pidana.

“Naiknya status Carnophen memang efektif menekan persebarannya di Banjarbaru. Namun terjadi pergeseran ke Sabu,” katanya saat menggelar Press Release di Kantor BNNK Banjarbaru pada Jumat (21/12) sore.

Ini lantaran Carnophhen, obat psikotropika ini harganya melambung tinggi. Ditambah juga ketersediaannya yang sudah langka. Tidak seperti di awal-awal kejayaannya.

“Dari data kita, para pengguna Carnophen ini memilih menggunakan Sabu. Karena harganya Carnophen mahal, jadi mereka mending ke Sabu. Terus Sabu juga membuat rileks karena sebagai stimulan, kalau Carnophen teler,” paparnya.

Selain membeberkan pergeseran tren barang haram di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya. BNN juga melampirkan jumlah pasien rehabilitasi yang ditanganinya selama setahun terakhir.

Disebutkan kalau jumlah klien yang mendapatkan layanan rehabilitasi sebanyak 105 orang. Itu tersebar di berbagai klinik, rumah sakit dan juga Puskesmas yang memang tersedia layanan rehabilitasinya.

Selain itu, dari peta persebaran penyalahgunaan narkoba yang di data oleh BNNK Banjarbaru. Rupanya daerah tetangga, Kabupaten Banjar ditetapkan sebagai peringkat pertama.

“Kita tidak hanya melayani wilayah Banjarbaru saja. Tapi juga daerah lain seperti Kabupaten Banjar, Tabah Laut, Tanah Bumbu, dan Tapin. Kalau dari data kita memang yang tertinggi Kabupaten Banjar, yakni 39,8 persen,” paparnya.

Untuk Banjarbaru sendiri, Banjarbaru Selatan dikatakan Sugito yang paling tinggi. Yakni 15,9 persen, disusul Banjarbaru Utara sebesar 14,8 persen, Landasan Ulin 11,4 persen, Cempaka 8,0 persen dan Liang Anggang 1,1 persen.

Adapun untuk yang berhasil ditemukan positif menggunakan Narkoba oleh BNNK Banjarbaru berjumlah 5 orang. “Kita melakukan razia gabungan di Tempat Hiburan Malam, Lembaga Pemasyarakatan dan wilayah rawan, dari 41 orang yang dilakukan tes urine, 5 positif menggunakan narkoba,” sebutnya.

Terakhir, Sugito terus mengimbau kepada masyarakat agar bersama-sama menjalankan program P4GN (Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) di Banjarbaru dan sekitarnya.

“Jika ada menemukan penyalahgunaan atau peredaran Narkoba segera laporkan ke kita. Kita akan jamin kerahasiaan pelapor,” pungkasnya. (rvn/ij/ram)

BANJARBARU – Tahun ini, pamor Carnophnen (pil zenith) digeser Sabu. Badan Nasional Narkotika (BNN) Kota Banjarbaru mencatat penyalahgunaan Sabu tahun ini mencapai 39,8 persen. Sedangkan Carnophen di urutan kedua 25 persen.

Kepala BNNK Banjarbaru, AKBP Sugito menjelaskan pergeseran tren ini buntut dari naiknya status Carnophen ke dalam golongan Narkotika 1. Yang mana penggunanya akan dijerat UU Pidana.

“Naiknya status Carnophen memang efektif menekan persebarannya di Banjarbaru. Namun terjadi pergeseran ke Sabu,” katanya saat menggelar Press Release di Kantor BNNK Banjarbaru pada Jumat (21/12) sore.

Ini lantaran Carnophhen, obat psikotropika ini harganya melambung tinggi. Ditambah juga ketersediaannya yang sudah langka. Tidak seperti di awal-awal kejayaannya.

“Dari data kita, para pengguna Carnophen ini memilih menggunakan Sabu. Karena harganya Carnophen mahal, jadi mereka mending ke Sabu. Terus Sabu juga membuat rileks karena sebagai stimulan, kalau Carnophen teler,” paparnya.

Selain membeberkan pergeseran tren barang haram di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya. BNN juga melampirkan jumlah pasien rehabilitasi yang ditanganinya selama setahun terakhir.

Disebutkan kalau jumlah klien yang mendapatkan layanan rehabilitasi sebanyak 105 orang. Itu tersebar di berbagai klinik, rumah sakit dan juga Puskesmas yang memang tersedia layanan rehabilitasinya.

Selain itu, dari peta persebaran penyalahgunaan narkoba yang di data oleh BNNK Banjarbaru. Rupanya daerah tetangga, Kabupaten Banjar ditetapkan sebagai peringkat pertama.

“Kita tidak hanya melayani wilayah Banjarbaru saja. Tapi juga daerah lain seperti Kabupaten Banjar, Tabah Laut, Tanah Bumbu, dan Tapin. Kalau dari data kita memang yang tertinggi Kabupaten Banjar, yakni 39,8 persen,” paparnya.

Untuk Banjarbaru sendiri, Banjarbaru Selatan dikatakan Sugito yang paling tinggi. Yakni 15,9 persen, disusul Banjarbaru Utara sebesar 14,8 persen, Landasan Ulin 11,4 persen, Cempaka 8,0 persen dan Liang Anggang 1,1 persen.

Adapun untuk yang berhasil ditemukan positif menggunakan Narkoba oleh BNNK Banjarbaru berjumlah 5 orang. “Kita melakukan razia gabungan di Tempat Hiburan Malam, Lembaga Pemasyarakatan dan wilayah rawan, dari 41 orang yang dilakukan tes urine, 5 positif menggunakan narkoba,” sebutnya.

Terakhir, Sugito terus mengimbau kepada masyarakat agar bersama-sama menjalankan program P4GN (Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) di Banjarbaru dan sekitarnya.

“Jika ada menemukan penyalahgunaan atau peredaran Narkoba segera laporkan ke kita. Kita akan jamin kerahasiaan pelapor,” pungkasnya. (rvn/ij/ram)

Most Read

Artikel Terbaru

/