alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Forum Desak Pembatalan Rekam Biometrik Untuk Penerbitan Visa Umrah

BANJARMASIN – Pengusaha biro travel umrah dan haji di Banjarmasin resah. Pasca keluarnya aturan rekam biometrik terhadap calon jemaah umrah untuk penerbitan visa umrah, pengusaha travel direpotkan.

Sedianya penerapan perekaman biometrik untuk pengurusan visa umrah berlaku mulai Senin(17/12). Namun belum ada tanda-tanda ketentuan baru tersebut diterapkan oleh para pengusaha travel.

Peraturan dari pemerintah Arab Saudi itu sempat menuai polemik di Indonesia, karena dianggap merepotkan jamaah.

Pengusaha travel umrah, Saridi mengatakan mereka harus datang dulu ke Banjarmasin untuk perekaman geometrik ini. Di Kalsel, perekam dilakukan di Banjarmasin, tepatnya di Kantor Pos di Jalan Teluk Tiram Banjarmasin.

Di sanalah perwakilan Visa Facilitation Service (VSF) Tasheel berkantor. “Kan kasihan calon jemaah yang datang dari jauh. Selain berat ongkos, waktu mereka pun akan terbuang. Ini menyulitkan bagi kami,” keluh Saridi.

Belum lagi soal kemampuan server perekaman yang tak sebanding dengan jumlah jemaah calon umrah. Saridi menyebeut, tiap tahun jemaah umrah asal Kalsel rata-rata mencapai 25 ribu orang.

Sementara, kemampuan server hanya mampu melayani 65 jemaah perhari. “Idealnya tiap hari ada 200 perekaman. Belum lagi jika ada trouble dengan internet. Ini salah satu yang kami takutkan,” tukasnya.

Saridi mencontohkan, pada tanggal 28 Desember mendatang ada sebanyak 40 calon jemaah umrah yang akan diberangkatkan melalui travelnya. Namun, seluruhnya belum melakukan perekaman geometrik. “Terus terang, kami sangat resah dengan kebijakan ini,” imbuhnya.

Kebijakan terbaru ini diakuinya sungguh memberatkan. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, dimana ketika meminta pembuatan visa, pihak travel hanya menyampaikan paspor saja ke provider untuk diteruskan ke Arab Saudi.

“Kami tak bisa apa-apa, hanya bisa meminta untuk ditunda dulu kebijakan ini,” harapnya.

Yang lebih aneh lagi, pihak ketiga perekaman biometrik ternyata tak pernah melaporakan keberadaan kantornya kepada Kementerian Agama (Kemenag) Kalsel.

Kepala Kemenag Kalsel, H Noor Fahmi mengungkapkan orang VSF Tasheel belum pernah datang kepada pihaknya. “Kami sama sekali tak tahu. Bahkan personelnya pun tak tahu berapa jumlahnya,” kata Fahmi kemarin.

 Berbeda ketika perekaman biometrik jemaah haji lalu yang dilakukan pada saat jelang keberangkatan, yakni ketika jemaah haji berada di asrama.

“Memang ini menyusahkan bagi jemaah umrah,” ucapnya. “Mereka yang berasal dari jauh seperti dari Kotabaru, perlu transport lagi. Apalagi jika dilakukan lebih dari satu hari, maka perlu biaya tambahan lagi,” tambahnya.

Fahmi berharap, ada formula khusus dari pemerintah pusat mengenai keresahan pengusaha travel ini.

“Kalau saya dengar, biaya sidik jari dan geometrik tak mahal. Cuma ketika yang melakukan dari daerah jauh, otomatis biaya yang dikeluarkan akan berdampak. Ini yang kami dengar pula keluhan dari pihak pengusaha travel,” tambahnya.

Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi menuturkan ada kemungkinan implementasi kewajiban perekaman biometrik tersebut ditunda.

Sebab persiapan dan peraturannya terlalu cepat. Butuh waktu sosialiasi untuk penerapannya di Indonesia dengan kondisi geografis yang begitu luas.

’’Paling tidak kalau memang mau diterapkan, kasih waktu sekitar dua bulan lah,’’ katanya. Jangan diterapkan dalam sebulan ini. Sebab pihak travel yang baru merekrut jamaah umrah, mengalami sejumlah kendala. Dia menegaskan urusan biaya perekaman biometrik bukan jadi persoalan.

Yang menjadi persoalan bagi Syam adalah mobilitas calon jemaah umrah. Dia mengatakan untuk calon jamaah umrah yang tinggal di kota besar, dan kebetulan ada perwakilan VSF Tasheel tentu tidak kesulitan.

Tetapi bagi jamaah yang di pedalaman dan jauh dari pusat kota, butuh waktu dan biaya untuk kekota sekedar rekam biometrik.

Dia berharap selain ada perpanjangan waktu, perekaman biometrik bisa dilakukan saat jamaah akan terbang umrah. Jadi bisa diterapkan di bandara-bandara titik keberangkatan. Dengan demikian visa umrah bisa dikeluarkan dahulu, tanpa harus ada perekaman biometrik.

Syam menjelaskan sistem baru berupa kewajiban rekam biometrik itu dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. Kementerian ini bertugas sebagai otoritas yang menerbitkan visa umrah. Sementara dalam proses pengurusan visa umrah, sistemnya ada di Kementerian Haji Arab Saudi.

Direktur Pembinaan Haji Khusus dan Umrah Kemenag Arfi Hatim belum bersedia berkomentar banyak terkait pemberlakuan rekam biometrik untuk visa umrah tersebut. Pada prinsipnya dia mengatakan pemerintah Indonesia menghormati peraturan yang dibuat oleh pemerintah Saudi.

Namun dia berharap pemerintah Saudi supaya juga mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang begitu luas. Sementara itu calon jamaah umrahnya juga tersebar dari banyak wilayah.

Dia berharap pihak Saudi bersedia duduk bersama dengan pemerintah Indonesia, untuk mencari sejumlah solusi atau alternatif. Sehingga tidak membebani atau merepotkan calon jamaah asal Indonesia.(mof/ay/ran)

BANJARMASIN – Pengusaha biro travel umrah dan haji di Banjarmasin resah. Pasca keluarnya aturan rekam biometrik terhadap calon jemaah umrah untuk penerbitan visa umrah, pengusaha travel direpotkan.

Sedianya penerapan perekaman biometrik untuk pengurusan visa umrah berlaku mulai Senin(17/12). Namun belum ada tanda-tanda ketentuan baru tersebut diterapkan oleh para pengusaha travel.

Peraturan dari pemerintah Arab Saudi itu sempat menuai polemik di Indonesia, karena dianggap merepotkan jamaah.

Pengusaha travel umrah, Saridi mengatakan mereka harus datang dulu ke Banjarmasin untuk perekaman geometrik ini. Di Kalsel, perekam dilakukan di Banjarmasin, tepatnya di Kantor Pos di Jalan Teluk Tiram Banjarmasin.

Di sanalah perwakilan Visa Facilitation Service (VSF) Tasheel berkantor. “Kan kasihan calon jemaah yang datang dari jauh. Selain berat ongkos, waktu mereka pun akan terbuang. Ini menyulitkan bagi kami,” keluh Saridi.

Belum lagi soal kemampuan server perekaman yang tak sebanding dengan jumlah jemaah calon umrah. Saridi menyebeut, tiap tahun jemaah umrah asal Kalsel rata-rata mencapai 25 ribu orang.

Sementara, kemampuan server hanya mampu melayani 65 jemaah perhari. “Idealnya tiap hari ada 200 perekaman. Belum lagi jika ada trouble dengan internet. Ini salah satu yang kami takutkan,” tukasnya.

Saridi mencontohkan, pada tanggal 28 Desember mendatang ada sebanyak 40 calon jemaah umrah yang akan diberangkatkan melalui travelnya. Namun, seluruhnya belum melakukan perekaman geometrik. “Terus terang, kami sangat resah dengan kebijakan ini,” imbuhnya.

Kebijakan terbaru ini diakuinya sungguh memberatkan. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, dimana ketika meminta pembuatan visa, pihak travel hanya menyampaikan paspor saja ke provider untuk diteruskan ke Arab Saudi.

“Kami tak bisa apa-apa, hanya bisa meminta untuk ditunda dulu kebijakan ini,” harapnya.

Yang lebih aneh lagi, pihak ketiga perekaman biometrik ternyata tak pernah melaporakan keberadaan kantornya kepada Kementerian Agama (Kemenag) Kalsel.

Kepala Kemenag Kalsel, H Noor Fahmi mengungkapkan orang VSF Tasheel belum pernah datang kepada pihaknya. “Kami sama sekali tak tahu. Bahkan personelnya pun tak tahu berapa jumlahnya,” kata Fahmi kemarin.

 Berbeda ketika perekaman biometrik jemaah haji lalu yang dilakukan pada saat jelang keberangkatan, yakni ketika jemaah haji berada di asrama.

“Memang ini menyusahkan bagi jemaah umrah,” ucapnya. “Mereka yang berasal dari jauh seperti dari Kotabaru, perlu transport lagi. Apalagi jika dilakukan lebih dari satu hari, maka perlu biaya tambahan lagi,” tambahnya.

Fahmi berharap, ada formula khusus dari pemerintah pusat mengenai keresahan pengusaha travel ini.

“Kalau saya dengar, biaya sidik jari dan geometrik tak mahal. Cuma ketika yang melakukan dari daerah jauh, otomatis biaya yang dikeluarkan akan berdampak. Ini yang kami dengar pula keluhan dari pihak pengusaha travel,” tambahnya.

Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi menuturkan ada kemungkinan implementasi kewajiban perekaman biometrik tersebut ditunda.

Sebab persiapan dan peraturannya terlalu cepat. Butuh waktu sosialiasi untuk penerapannya di Indonesia dengan kondisi geografis yang begitu luas.

’’Paling tidak kalau memang mau diterapkan, kasih waktu sekitar dua bulan lah,’’ katanya. Jangan diterapkan dalam sebulan ini. Sebab pihak travel yang baru merekrut jamaah umrah, mengalami sejumlah kendala. Dia menegaskan urusan biaya perekaman biometrik bukan jadi persoalan.

Yang menjadi persoalan bagi Syam adalah mobilitas calon jemaah umrah. Dia mengatakan untuk calon jamaah umrah yang tinggal di kota besar, dan kebetulan ada perwakilan VSF Tasheel tentu tidak kesulitan.

Tetapi bagi jamaah yang di pedalaman dan jauh dari pusat kota, butuh waktu dan biaya untuk kekota sekedar rekam biometrik.

Dia berharap selain ada perpanjangan waktu, perekaman biometrik bisa dilakukan saat jamaah akan terbang umrah. Jadi bisa diterapkan di bandara-bandara titik keberangkatan. Dengan demikian visa umrah bisa dikeluarkan dahulu, tanpa harus ada perekaman biometrik.

Syam menjelaskan sistem baru berupa kewajiban rekam biometrik itu dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. Kementerian ini bertugas sebagai otoritas yang menerbitkan visa umrah. Sementara dalam proses pengurusan visa umrah, sistemnya ada di Kementerian Haji Arab Saudi.

Direktur Pembinaan Haji Khusus dan Umrah Kemenag Arfi Hatim belum bersedia berkomentar banyak terkait pemberlakuan rekam biometrik untuk visa umrah tersebut. Pada prinsipnya dia mengatakan pemerintah Indonesia menghormati peraturan yang dibuat oleh pemerintah Saudi.

Namun dia berharap pemerintah Saudi supaya juga mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang begitu luas. Sementara itu calon jamaah umrahnya juga tersebar dari banyak wilayah.

Dia berharap pihak Saudi bersedia duduk bersama dengan pemerintah Indonesia, untuk mencari sejumlah solusi atau alternatif. Sehingga tidak membebani atau merepotkan calon jamaah asal Indonesia.(mof/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/