alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Jegal Penyelundupan dan Penambangan Liar, Dishut Selamatkan Kekayaan Negara Ratusan Juta

Meskipun penambangan dan penebangan liar dilarang dan dikenakan sanksi pidana, rupanya masih ada saja oknum-oknum yang nekat beroperasi. Termasuk di Kalsel. Beruntung aksi-aksi liar ini dijegal oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel.

MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Selama setengah tahun terakhir, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel sukses mengamankan 145 meter kubik (m3) berbagai macam jenis kayu hutan. Baik jenis ulin, meranti ddl yang semuanya berhasil disita Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel melalui Polisi Hutan & Tenaga Kontrak Pengamanan Hutan atau disingkat TKPH.

Untuk menindaklanjuti barang temuan dari hasil penebangan liar ini, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel melakukan lelang Senin (17/12) tadi. Program lelang ini memang rutin digelar Dishut Kalsel selama dua kali dalam satu tahun.

“Sesuai arahan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Dr Hanif Faisal Nurofiq, usai dirposes dan didata, kita langsung adakan lelang terhadap seluruh barang tangkapan ini. Lelang ini sendiri bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan barang bukti agar tidak rusak dan lapuk,” kata Kepala Seksi Pencegahan Kerusakan & Pengamanan Hutan (PKPH) Dinas Kehutanan Prov Kalsel, Panjta Satata.

Proses lelang berjalan lancar. “Bahkan banyak peminatnya. Namun yang terpenting kita sudah berhasil menyelamatkan kekayaan negara dari para pelaku penebangan liar ini, totalnya sebesar Rp.118.000.000,” tegasnya ucapnya seraya menambahkan lelang dimenangkan oleh perseorangan asal Batu Licin. U

Masih berkaitan dengan tindakan kriminal terhadap hutan Kalsel, baru-baru tadi juga, Dinas Kehutanan Kalsel telah mengamankan satu unit alat berat jenis Ekskavator. Alat berat ini digunakan untuk melakukan pertambangan liar di Kabupaten Banjar, tepatnya di Desa Pakutik.

“Benar, satu unit alat berat jenis ekskavator PC 320 telah kita amankan. Unit ini diketahui digunakan oleh oknum untuk menambang batu bara secara ilegal, saat ini kita tengah memanggil saksi-saksi terkait aktivitas yang merugikan negara dan masyarakat ini,” jelas Pantja.

Terkait kronologis penemuan alat berat ini, dia mengatakan berasal dari laporan masyarakat. “Laporan masuk tanggal 13 Desember, dan tim segera ke lokasi untuk mengecek,” ceritanya.

Saat dilakukan pengecekan memang ada indikasi penambangan liar. Selain ditemukannya satu unit alat berat yang baru digunakan, juga ada bekas galian serta mesin pompa air.

“Ketika tim tiba di lokasi memang tidak ada aktivitas, lantaran sedang istirahat. Tapi saat itu ada seorang yang bertugas menjaga alat berat, nah yang bersangkutan kita jadikan saksi,” ujarnya.

Saat ini timnya tengah mengumpulkan data dan melakukan pengembangan terkait temuan ini. “Sudah tahap pemeriksaan saksi sebanyak empat orang. Untuk pemilik atau yang punya tambang masih dalam penyelidikan PPNS Kehutanan ” tuturnya.

Dengan diamankannya temuan alat berat ini, artinya Dishut Kalsel sejak akhir tahun 2017 lalu sudah berhasil mengamankan dua unit alat berat yang digunakan untuk melakukan pertambangan ilegal di Kalsel.

“Sebelum ini kita juga mengamankan satu eksavator jenis sama. Itu tidak ada pemiliknya. Akhirnya kita lelang dan sekarang sudah kelar. Yang kedua ini juga akan diproses secepatnya,” ceritanya.

Adapapun karena aktivitas liar yang sangat merugikan negara ini. Pantja menyatakan kalau pelaku telah melanggar UU No 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.

“Pelaku akan dijerat dengan pasal 89 ayat 1 huruf a dan b, yang mana kurungan minimalnya 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Untuk dendanya paling rendah 1,5 miliar dan paling banyak 10 miliar,” sebutnya.

Pantja juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak segan-segan melaporkan ke pihak Dishut Kalsel apabila menemukan pelanggaran terhadap hutan di wilayah Kalsel.

“Kalau ada masyarakat yang menemukan atau mengetahui pelanggaran seperti pembalakan atau penebangan liar dan pertambangan ilegal, segera laporkan ke kita,” pesannya menutup wawancara. (rvn/ay/ran)

Meskipun penambangan dan penebangan liar dilarang dan dikenakan sanksi pidana, rupanya masih ada saja oknum-oknum yang nekat beroperasi. Termasuk di Kalsel. Beruntung aksi-aksi liar ini dijegal oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel.

MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

Selama setengah tahun terakhir, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel sukses mengamankan 145 meter kubik (m3) berbagai macam jenis kayu hutan. Baik jenis ulin, meranti ddl yang semuanya berhasil disita Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel melalui Polisi Hutan & Tenaga Kontrak Pengamanan Hutan atau disingkat TKPH.

Untuk menindaklanjuti barang temuan dari hasil penebangan liar ini, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel melakukan lelang Senin (17/12) tadi. Program lelang ini memang rutin digelar Dishut Kalsel selama dua kali dalam satu tahun.

“Sesuai arahan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Dr Hanif Faisal Nurofiq, usai dirposes dan didata, kita langsung adakan lelang terhadap seluruh barang tangkapan ini. Lelang ini sendiri bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan barang bukti agar tidak rusak dan lapuk,” kata Kepala Seksi Pencegahan Kerusakan & Pengamanan Hutan (PKPH) Dinas Kehutanan Prov Kalsel, Panjta Satata.

Proses lelang berjalan lancar. “Bahkan banyak peminatnya. Namun yang terpenting kita sudah berhasil menyelamatkan kekayaan negara dari para pelaku penebangan liar ini, totalnya sebesar Rp.118.000.000,” tegasnya ucapnya seraya menambahkan lelang dimenangkan oleh perseorangan asal Batu Licin. U

Masih berkaitan dengan tindakan kriminal terhadap hutan Kalsel, baru-baru tadi juga, Dinas Kehutanan Kalsel telah mengamankan satu unit alat berat jenis Ekskavator. Alat berat ini digunakan untuk melakukan pertambangan liar di Kabupaten Banjar, tepatnya di Desa Pakutik.

“Benar, satu unit alat berat jenis ekskavator PC 320 telah kita amankan. Unit ini diketahui digunakan oleh oknum untuk menambang batu bara secara ilegal, saat ini kita tengah memanggil saksi-saksi terkait aktivitas yang merugikan negara dan masyarakat ini,” jelas Pantja.

Terkait kronologis penemuan alat berat ini, dia mengatakan berasal dari laporan masyarakat. “Laporan masuk tanggal 13 Desember, dan tim segera ke lokasi untuk mengecek,” ceritanya.

Saat dilakukan pengecekan memang ada indikasi penambangan liar. Selain ditemukannya satu unit alat berat yang baru digunakan, juga ada bekas galian serta mesin pompa air.

“Ketika tim tiba di lokasi memang tidak ada aktivitas, lantaran sedang istirahat. Tapi saat itu ada seorang yang bertugas menjaga alat berat, nah yang bersangkutan kita jadikan saksi,” ujarnya.

Saat ini timnya tengah mengumpulkan data dan melakukan pengembangan terkait temuan ini. “Sudah tahap pemeriksaan saksi sebanyak empat orang. Untuk pemilik atau yang punya tambang masih dalam penyelidikan PPNS Kehutanan ” tuturnya.

Dengan diamankannya temuan alat berat ini, artinya Dishut Kalsel sejak akhir tahun 2017 lalu sudah berhasil mengamankan dua unit alat berat yang digunakan untuk melakukan pertambangan ilegal di Kalsel.

“Sebelum ini kita juga mengamankan satu eksavator jenis sama. Itu tidak ada pemiliknya. Akhirnya kita lelang dan sekarang sudah kelar. Yang kedua ini juga akan diproses secepatnya,” ceritanya.

Adapapun karena aktivitas liar yang sangat merugikan negara ini. Pantja menyatakan kalau pelaku telah melanggar UU No 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.

“Pelaku akan dijerat dengan pasal 89 ayat 1 huruf a dan b, yang mana kurungan minimalnya 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Untuk dendanya paling rendah 1,5 miliar dan paling banyak 10 miliar,” sebutnya.

Pantja juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak segan-segan melaporkan ke pihak Dishut Kalsel apabila menemukan pelanggaran terhadap hutan di wilayah Kalsel.

“Kalau ada masyarakat yang menemukan atau mengetahui pelanggaran seperti pembalakan atau penebangan liar dan pertambangan ilegal, segera laporkan ke kita,” pesannya menutup wawancara. (rvn/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/