alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Untuk Pertama Kalinya, FISIP ULM Gelar Sociologi Literacy Day

Untuk pertama kalinya Sociology Literacy Day digelar di Universitas Lambung Mangkurat. Program baru itu digagas Program Studi Sosiologi di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP).

Tia Lalita, Banjarmasin

Tidak cuma mahasiswi yang duduk lesehan di halaman Fisip ULM. Beberapa mahasiswa juga duduk mengelilingi pemateri dari IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).

Mahasiswa Sosiologi itu diajari membuat kerajinan tangan. IWAPI berbagi ilmu seputar pembuatan cincin, gelang dan bros. Bahan yang dipakai tak biasa, menggunakan batu-batuan alam berwarna cantik.

Ini hanya salah satu rentetan kegiatan yang digelar selama dua hari pada 14-15 Desember. Prodi termuda di kampus itu baru pertama kali mengadakannya. Digarap para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos).

Sosiology Literacy Day sebenarnya diawali lomba fotografi terlebih dulu pada 8-12 Desember. Mengangkat ‘Masyarakat Sungai’ sebagai tema. Dengan mengajak kalangan pelajar SMA sederajat se-Banjarmasin sebagai peserta.

Berlanjut pembukaan, Jumat tadi. Tidak hanya ditandai dengan pemotongan pita, juga ada hiburan. Mereka sengaja mengangkat penampilan-penampilan bertema etnik sebagai suguhan. Mulai dari seni bela diri bakuntau, tari enggang, dan penampilan musikus sape.

“Konsep etnik dipilih agar terlihat beda. Selama ini acara kampus lebih sering mengandalkan penampilan hiburan modern,” ucap ketua panitia, Ribka Aprilia. Di hari yang sama, juga dilakukan bedah buku Hujan karya Tere Liye oleh Variniah, dosen di prodi tersebut. 

Keseruan berlanjut pada hari Minggu (15/12). Siapa saja boleh datang ke gelaran itu. Area acara juga dilengkapi dengan beberapa stan bazaar. Yang menjual makanan, karya kerajinan tangan, benda-benda etnik, buku dan sebagainya.

Malam puncak diisi dengan peragaan busana bertema dayak dan tenun Pagatan. “Tak lupa juga penampilan akustikan dan madihin untuk lebih meramaikan suasana,” jelasnya.

Ribka menyebut acara ini punya dua tujuan. Pertama, sebagai ajang unjuk eksistensi. Menunjukkan bahwa prodi Sosiologi ada dan tampil di tengah-tengah kampus ini. Kedua, sebagai ajang pembuktian. Artinya, meski baru berdiri, prodi ini tak bisa disepelekan.

“Pastinya kami kenalkan juga prodi ini ke siswa-siswa SMA di Banjarmasin. Biar mereka lebih tahu dan bisa menentukan pilihan untuk lanjut studi ke prodi ini,” pesannya.

Secara keseluruhan, gelaran itu cukup mencolok sehingga menarik perhatian. Ribka berharap, Sociology Literacy Day selanjutnya bisa lebih meriah lagi. “Rangkaian acaranya lebih banyak. Goals kami mengenalkan prodi juga tercapai,” tekadnya.

Sebagai pengunjung, Rahma (21) berkeliling bazaar. Stan buku jadi incarannya. Dia memang doyan baca buku. “Asyik juga ada event begini di lingkungan kampus. Harapannya semoga lebih sering lagi diadakan,” sebut mahasiswi FKIP ULM itu.(ma/dye)

Untuk pertama kalinya Sociology Literacy Day digelar di Universitas Lambung Mangkurat. Program baru itu digagas Program Studi Sosiologi di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP).

Tia Lalita, Banjarmasin

Tidak cuma mahasiswi yang duduk lesehan di halaman Fisip ULM. Beberapa mahasiswa juga duduk mengelilingi pemateri dari IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).

Mahasiswa Sosiologi itu diajari membuat kerajinan tangan. IWAPI berbagi ilmu seputar pembuatan cincin, gelang dan bros. Bahan yang dipakai tak biasa, menggunakan batu-batuan alam berwarna cantik.

Ini hanya salah satu rentetan kegiatan yang digelar selama dua hari pada 14-15 Desember. Prodi termuda di kampus itu baru pertama kali mengadakannya. Digarap para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos).

Sosiology Literacy Day sebenarnya diawali lomba fotografi terlebih dulu pada 8-12 Desember. Mengangkat ‘Masyarakat Sungai’ sebagai tema. Dengan mengajak kalangan pelajar SMA sederajat se-Banjarmasin sebagai peserta.

Berlanjut pembukaan, Jumat tadi. Tidak hanya ditandai dengan pemotongan pita, juga ada hiburan. Mereka sengaja mengangkat penampilan-penampilan bertema etnik sebagai suguhan. Mulai dari seni bela diri bakuntau, tari enggang, dan penampilan musikus sape.

“Konsep etnik dipilih agar terlihat beda. Selama ini acara kampus lebih sering mengandalkan penampilan hiburan modern,” ucap ketua panitia, Ribka Aprilia. Di hari yang sama, juga dilakukan bedah buku Hujan karya Tere Liye oleh Variniah, dosen di prodi tersebut. 

Keseruan berlanjut pada hari Minggu (15/12). Siapa saja boleh datang ke gelaran itu. Area acara juga dilengkapi dengan beberapa stan bazaar. Yang menjual makanan, karya kerajinan tangan, benda-benda etnik, buku dan sebagainya.

Malam puncak diisi dengan peragaan busana bertema dayak dan tenun Pagatan. “Tak lupa juga penampilan akustikan dan madihin untuk lebih meramaikan suasana,” jelasnya.

Ribka menyebut acara ini punya dua tujuan. Pertama, sebagai ajang unjuk eksistensi. Menunjukkan bahwa prodi Sosiologi ada dan tampil di tengah-tengah kampus ini. Kedua, sebagai ajang pembuktian. Artinya, meski baru berdiri, prodi ini tak bisa disepelekan.

“Pastinya kami kenalkan juga prodi ini ke siswa-siswa SMA di Banjarmasin. Biar mereka lebih tahu dan bisa menentukan pilihan untuk lanjut studi ke prodi ini,” pesannya.

Secara keseluruhan, gelaran itu cukup mencolok sehingga menarik perhatian. Ribka berharap, Sociology Literacy Day selanjutnya bisa lebih meriah lagi. “Rangkaian acaranya lebih banyak. Goals kami mengenalkan prodi juga tercapai,” tekadnya.

Sebagai pengunjung, Rahma (21) berkeliling bazaar. Stan buku jadi incarannya. Dia memang doyan baca buku. “Asyik juga ada event begini di lingkungan kampus. Harapannya semoga lebih sering lagi diadakan,” sebut mahasiswi FKIP ULM itu.(ma/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/