alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

AIMI Tekankan Pentingnya ASI

BANJARMASIN-Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Wilayah Kalimantan Selatan kembali menggelar SosialisASI, kemarin (15/12).

Ini kali kedua bagi perkumpulan ini mengadakan acara bertajuk serupa. Kali ini mereka mengundang 33 Penyuluh Perkawinan dari 5 kecamatan di Banjarmasin. Setelah sebelumnya, mereka mengundang para ustaz dan ustazah sebagai peserta.

Kegiatan ini dirasa penting. Mengingat data pemantauan status gizi di Indonesia pada 2017 menunjukkan cakupan pemberian ASI hanya 35.7 persen. “Artinya sangat jauh dari seratus persen,” ujar Rizsa Hasan Aman, Ketua AIMI Wilayah Kalsel.

Rendahnya persentase menunjukkan minimnya kepedulian terhadap pentingnya pemberian ASI. Padahal, menurut Rizsa, orang yang kuat berasal keluarga yang sehat. Salah satunya dimulai dari ASI yang tercukupi.

Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan kesadaran memberi ASI menurun. Pertama karena revolusi teknologi. Menyusui anak secara langsung tergantikan dengan produk-produk susu formula.

Apalagi jika susu yang terjual menawarkan beragam asupan nutrisi yang dirasa mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Padahal, ASI juga dikenal sangat berperan dalam pertumbuhan bayi.

Tak hanya itu, revolusi teknologi juga merembet pada peralatan menyusui. Semakin praktis, canggih dan menarik dilihat.

Enggan memberikan ASI juga bisa dipengaruhi karena faktor lingkungan. Terutama ketika berada di depan umum. Selain karena tak siap, ibu menyusui kerap memilih menghindar dari pelecehan ketika dalam keadaan ini.

Pelecehan terhadap ibu menyusui di tempat umum sebenarnya klise. Menurut Risza, ada langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari pelecehan tersebut. Misalnya dengan memakai celemek khusus menyusui, kerudung panjang, atau masuk ke ruang khusus menyusui.

Mereka sengaja mengundang Penyuluh Perkawinan. Berharap informasi terkait pentingnya ASI bisa disisipkan dalam pembekalan calon pengantin.

“Sehingga pasangan Pasutri lebih siap untuk membina rumah tangga, terutama punya momongan,” ujarnya.
Oleh karena itu, kegiatan ini mengangkat tema “Pernikahan Langkah Awal Membangun GenerASI GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, dan Sehat)”.

Rizsa berharap, kepedulian terhadap pemberian ASI meningkat di Banjarmasin. Dari yang awalnya memakai dot dan susu formula. “Perlahan kita kembalikan ke gaya hidup semula, dengan memberi ASI langsung,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Sya’rani selaku Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kota Banjarmasin mengapresiasi kegiatan ini. Tawaran sosialisASI dari AIMI ini menurutnya sangat penting.

“Terutama untuk menambah wawasan para penyuluh kami, lebih-lebih ini memang menyangkut ajaran Alquran tentang menyusui,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, bahwa dengan menyusui, ikatan emosional bayi dan ibu semakin rekat. Menyusui juga sebagai bentuk curahan kasih seorang ibu terhadap anak.

“Lewat sosialisASI ini, fungsi penyuluh yang edukatif, informatif, protektif, dan advokatif terpenuhi,” pungkasnya.

Sosialisasi itu berlangsung pukul 9.00 hingga 12 Wita. Dengan mengajak Wakil Rektor UIN Banjarmasin Sukarni dan Dokter Spesialis Anak Ari Yunanto sebagai pemateri.(tia)

BANJARMASIN-Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Wilayah Kalimantan Selatan kembali menggelar SosialisASI, kemarin (15/12).

Ini kali kedua bagi perkumpulan ini mengadakan acara bertajuk serupa. Kali ini mereka mengundang 33 Penyuluh Perkawinan dari 5 kecamatan di Banjarmasin. Setelah sebelumnya, mereka mengundang para ustaz dan ustazah sebagai peserta.

Kegiatan ini dirasa penting. Mengingat data pemantauan status gizi di Indonesia pada 2017 menunjukkan cakupan pemberian ASI hanya 35.7 persen. “Artinya sangat jauh dari seratus persen,” ujar Rizsa Hasan Aman, Ketua AIMI Wilayah Kalsel.

Rendahnya persentase menunjukkan minimnya kepedulian terhadap pentingnya pemberian ASI. Padahal, menurut Rizsa, orang yang kuat berasal keluarga yang sehat. Salah satunya dimulai dari ASI yang tercukupi.

Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan kesadaran memberi ASI menurun. Pertama karena revolusi teknologi. Menyusui anak secara langsung tergantikan dengan produk-produk susu formula.

Apalagi jika susu yang terjual menawarkan beragam asupan nutrisi yang dirasa mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Padahal, ASI juga dikenal sangat berperan dalam pertumbuhan bayi.

Tak hanya itu, revolusi teknologi juga merembet pada peralatan menyusui. Semakin praktis, canggih dan menarik dilihat.

Enggan memberikan ASI juga bisa dipengaruhi karena faktor lingkungan. Terutama ketika berada di depan umum. Selain karena tak siap, ibu menyusui kerap memilih menghindar dari pelecehan ketika dalam keadaan ini.

Pelecehan terhadap ibu menyusui di tempat umum sebenarnya klise. Menurut Risza, ada langkah yang bisa dilakukan untuk menghindari pelecehan tersebut. Misalnya dengan memakai celemek khusus menyusui, kerudung panjang, atau masuk ke ruang khusus menyusui.

Mereka sengaja mengundang Penyuluh Perkawinan. Berharap informasi terkait pentingnya ASI bisa disisipkan dalam pembekalan calon pengantin.

“Sehingga pasangan Pasutri lebih siap untuk membina rumah tangga, terutama punya momongan,” ujarnya.
Oleh karena itu, kegiatan ini mengangkat tema “Pernikahan Langkah Awal Membangun GenerASI GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul, dan Sehat)”.

Rizsa berharap, kepedulian terhadap pemberian ASI meningkat di Banjarmasin. Dari yang awalnya memakai dot dan susu formula. “Perlahan kita kembalikan ke gaya hidup semula, dengan memberi ASI langsung,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Sya’rani selaku Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kota Banjarmasin mengapresiasi kegiatan ini. Tawaran sosialisASI dari AIMI ini menurutnya sangat penting.

“Terutama untuk menambah wawasan para penyuluh kami, lebih-lebih ini memang menyangkut ajaran Alquran tentang menyusui,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, bahwa dengan menyusui, ikatan emosional bayi dan ibu semakin rekat. Menyusui juga sebagai bentuk curahan kasih seorang ibu terhadap anak.

“Lewat sosialisASI ini, fungsi penyuluh yang edukatif, informatif, protektif, dan advokatif terpenuhi,” pungkasnya.

Sosialisasi itu berlangsung pukul 9.00 hingga 12 Wita. Dengan mengajak Wakil Rektor UIN Banjarmasin Sukarni dan Dokter Spesialis Anak Ari Yunanto sebagai pemateri.(tia)

Most Read

Artikel Terbaru

/