alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Jengah Dengan Pampangan, Ibnu Buka Sayembara

BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina jengah melihat sampah dan gulma yang mengotori Sungai Martapura. Apalagi ketika lomba balap jukung berlangsung. Saat masyarakat dan tamu berdatangan menonton.

“Tensi sampah sungai kian naik. Saya mungkin masih menoleransi sampah organik. Tapi penampakan sampah domestik lah yang tidak bisa saya terima,” ungkap Ibnu.

Sungai Martapura sudah bak toserba (toko serba ada). Bayangkan, bersama gunungan gulma, ikut mengapung helm sepeda motor hingga kasur tidur.

Dalam pidatonya, Ibnu lantas mengumumkan sayembara. Dia menjanjikan hadiah menarik bagi warga yang berani memotret pembuang sampah ke sungai. “Unggah ke sosial media, apakah Instagram atau Facebook, lalu tag akun saya. Tiga foto paling menarik bakal dikasih hadiah,” serunya.

Ibnu mengajak warga menjadi perpanjangan mata dan telinga pemko. Kepedulian pada sungai harus ditunjukkan dalam aksi nyata. Dalam hal ini lewat dokumentasi. Menjatuhkan sanksi sosial dengan mempermalukan si pelaku. “Bantu kami mengawsi,” ujarnya.

Dalam sepekan terakhir, pemko kewalahan menghadapi serbuan enceng gondok dari hulu Sungai Martapura. Pampangan di Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Antasari telah melumpuhkan aktivitas wisata susur sungai.

Masalah klasik ini terus terjadi setiap musim hujan tiba. “Kalau cuma bergantung pada kapal sapu-sapu dan pasukan turbo, jelas kewalahan,” ujarnya.

Menurut Ibnu, inilah momen yang tepat untuk kembali mengingatkan pemerintah pusat atas hasil Kongres Sungai Indonesia III pada tahun 2017 kemarin. Dimana Banjarmasin menjadi tuan rumahnya.

Kongres telah membuat rekomendasi perlunya badan koordinasi sungai. Yang berwenang mengurusi daerah aliran Sungai Barito dan anaknya Sungai Martapura.

“Kedua sungai ini lintas kabupaten, bahkan lintas provinsi. Pemko tidak bisa berbuat banyak kalau seorang diri. Konsep satu sungai satu manajemen itu harus digaungkan lagi,” pungkasnya. (fud)

BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina jengah melihat sampah dan gulma yang mengotori Sungai Martapura. Apalagi ketika lomba balap jukung berlangsung. Saat masyarakat dan tamu berdatangan menonton.

“Tensi sampah sungai kian naik. Saya mungkin masih menoleransi sampah organik. Tapi penampakan sampah domestik lah yang tidak bisa saya terima,” ungkap Ibnu.

Sungai Martapura sudah bak toserba (toko serba ada). Bayangkan, bersama gunungan gulma, ikut mengapung helm sepeda motor hingga kasur tidur.

Dalam pidatonya, Ibnu lantas mengumumkan sayembara. Dia menjanjikan hadiah menarik bagi warga yang berani memotret pembuang sampah ke sungai. “Unggah ke sosial media, apakah Instagram atau Facebook, lalu tag akun saya. Tiga foto paling menarik bakal dikasih hadiah,” serunya.

Ibnu mengajak warga menjadi perpanjangan mata dan telinga pemko. Kepedulian pada sungai harus ditunjukkan dalam aksi nyata. Dalam hal ini lewat dokumentasi. Menjatuhkan sanksi sosial dengan mempermalukan si pelaku. “Bantu kami mengawsi,” ujarnya.

Dalam sepekan terakhir, pemko kewalahan menghadapi serbuan enceng gondok dari hulu Sungai Martapura. Pampangan di Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Antasari telah melumpuhkan aktivitas wisata susur sungai.

Masalah klasik ini terus terjadi setiap musim hujan tiba. “Kalau cuma bergantung pada kapal sapu-sapu dan pasukan turbo, jelas kewalahan,” ujarnya.

Menurut Ibnu, inilah momen yang tepat untuk kembali mengingatkan pemerintah pusat atas hasil Kongres Sungai Indonesia III pada tahun 2017 kemarin. Dimana Banjarmasin menjadi tuan rumahnya.

Kongres telah membuat rekomendasi perlunya badan koordinasi sungai. Yang berwenang mengurusi daerah aliran Sungai Barito dan anaknya Sungai Martapura.

“Kedua sungai ini lintas kabupaten, bahkan lintas provinsi. Pemko tidak bisa berbuat banyak kalau seorang diri. Konsep satu sungai satu manajemen itu harus digaungkan lagi,” pungkasnya. (fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/