alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Pembeli Bingung, Habis Belanja Bawanya Gimana!!

Pemko Banjarbaru dalam beberapa pekan terakhir mulai menjalankan kebijakan pengurangan kantong plastik. Dengan begitu, toko modern tidak lagi diperkenankan menyediakan kresek bagi para pembeli untuk membawa barang belanjaan.

Saat ini, sudah ada sejumlah minimarket yang menerapkan kebijakan tersebut. Seperti halnya, salah satu retail modern yang ada di Jalan Trikora, Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru.

Jika ingin berbelanja di sana, pembeli disarankan membawa kantong atau tas sendiri. Supaya, mudah membawa barang belanjaan. Sebab, kasir toko tidak memberikan kresek ataupun kantong lainnya.

“Kami sudah sekitar dua pekan tidak menyediakan kantong plastik. Sesuai peraturan Walikota Banjarbaru,” kata Rahmi, salah seorang kasir di toko modern tersebut.

Dia menambahkan, awalnya banyak pembeli yang kebingungan bagaimana cara membawa barang belanjaan. Karena, belum tahu bahwa mereka tidak lagi diberi kresek.

Namun, pihak toko menyiasatinya dengan cara memberikan kotak kardus sebagai penggantinya. “Sekarang pembeli sudah tahu semua. Jadi, kalau mau belanja banyak mereka yang membawa kantong sendiri,” tambahnya.

Secara terpisah, Kasi Pengelolaan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru Eka Shanty menjelaskan, kebijakan pengurangan kresek sesuai dengan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 66 tahun 2016.

“Akhir tahun ini masih tahap percobaan. Jadi, baru sebagian minimarket yang menerapkannya,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, Pemko Banjarbaru menargetkan pengurangan kantong plastik bisa maksimal pada Januari 2019. “Awal tahun depan semua toko modern tidak boleh lagi menyediakan kresek. Sebab, tahun ini sudah kami sosialisasikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan saat memimpin sosialisasi pengurangan kresek baru-baru tadi menyampaikan, pengurangan kantong plastik merupakan salah satu gerakan kampanye nasional yang perlu dilaksanakan dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat pelaku usaha.

“Tujuan kita untuk mengurangi bahaya dari penggunaan kantong plastik, karena bahannya mengandung racun,” ucapnya.

Dijelaskannya, racun yang ada di plastik dapat mencemari makanan dan lingkungan. Sehingga, akan berdampak kepada tubuh manusia dan hewan. “Lebih baik kita gunakan produk Banjarbaru yang sudah menasional yaitu tas dan bakul purun berasal dari Kampung Purun, di Kelurahan Palam,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas LH Banjarbaru, produksi sampah masyarakat Kota Idaman cukup banyak. Dalam sehari di kisaran 100 sampai 120 ton.

Dari jumlah itu, 20 hingga 30 persennya merupakan sampah plastik. “Sampah yang terkumpul ini datang dari 112 TPS resmi dan 60 TPS liar,” kata Kabid Persampahan Dinas LH Banjarbaru, Subhan.

Dia menyebut, besarnya produksi sampah membuat TPA Gunung Kupang hampir tidak mampu untuk menampungnya. “Dari data tim kita, paling lama TPA Gunung Kupang bakal penuh pada akhir 2019,” ungkapnya.

Apabila TPA penuh, Subhan mengatakan ada dua solusi yang akan ditempuh. Yang pertama, mengalihkan pendistribusian sampah ke TPA Regional yang juga berada di kawasan Gunung Kupang. “Teknis dan mekanismenya masih diatur dengan pihak provinsi,” paparnya.

Solusi kedua ialah dengan memilah jenis sampah yang bisa bermanfaat untuk didaur ulang. “Dari perhitungan kami, cara ini akan mengurangi sebesar 30 persen sampah. Jadi sebagian masih bisa ditampung di TPA Gunung Kupang,” pungkas Subhan. (ris/by/bin)

Pemko Banjarbaru dalam beberapa pekan terakhir mulai menjalankan kebijakan pengurangan kantong plastik. Dengan begitu, toko modern tidak lagi diperkenankan menyediakan kresek bagi para pembeli untuk membawa barang belanjaan.

Saat ini, sudah ada sejumlah minimarket yang menerapkan kebijakan tersebut. Seperti halnya, salah satu retail modern yang ada di Jalan Trikora, Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru.

Jika ingin berbelanja di sana, pembeli disarankan membawa kantong atau tas sendiri. Supaya, mudah membawa barang belanjaan. Sebab, kasir toko tidak memberikan kresek ataupun kantong lainnya.

“Kami sudah sekitar dua pekan tidak menyediakan kantong plastik. Sesuai peraturan Walikota Banjarbaru,” kata Rahmi, salah seorang kasir di toko modern tersebut.

Dia menambahkan, awalnya banyak pembeli yang kebingungan bagaimana cara membawa barang belanjaan. Karena, belum tahu bahwa mereka tidak lagi diberi kresek.

Namun, pihak toko menyiasatinya dengan cara memberikan kotak kardus sebagai penggantinya. “Sekarang pembeli sudah tahu semua. Jadi, kalau mau belanja banyak mereka yang membawa kantong sendiri,” tambahnya.

Secara terpisah, Kasi Pengelolaan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru Eka Shanty menjelaskan, kebijakan pengurangan kresek sesuai dengan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 66 tahun 2016.

“Akhir tahun ini masih tahap percobaan. Jadi, baru sebagian minimarket yang menerapkannya,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, Pemko Banjarbaru menargetkan pengurangan kantong plastik bisa maksimal pada Januari 2019. “Awal tahun depan semua toko modern tidak boleh lagi menyediakan kresek. Sebab, tahun ini sudah kami sosialisasikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan saat memimpin sosialisasi pengurangan kresek baru-baru tadi menyampaikan, pengurangan kantong plastik merupakan salah satu gerakan kampanye nasional yang perlu dilaksanakan dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat pelaku usaha.

“Tujuan kita untuk mengurangi bahaya dari penggunaan kantong plastik, karena bahannya mengandung racun,” ucapnya.

Dijelaskannya, racun yang ada di plastik dapat mencemari makanan dan lingkungan. Sehingga, akan berdampak kepada tubuh manusia dan hewan. “Lebih baik kita gunakan produk Banjarbaru yang sudah menasional yaitu tas dan bakul purun berasal dari Kampung Purun, di Kelurahan Palam,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas LH Banjarbaru, produksi sampah masyarakat Kota Idaman cukup banyak. Dalam sehari di kisaran 100 sampai 120 ton.

Dari jumlah itu, 20 hingga 30 persennya merupakan sampah plastik. “Sampah yang terkumpul ini datang dari 112 TPS resmi dan 60 TPS liar,” kata Kabid Persampahan Dinas LH Banjarbaru, Subhan.

Dia menyebut, besarnya produksi sampah membuat TPA Gunung Kupang hampir tidak mampu untuk menampungnya. “Dari data tim kita, paling lama TPA Gunung Kupang bakal penuh pada akhir 2019,” ungkapnya.

Apabila TPA penuh, Subhan mengatakan ada dua solusi yang akan ditempuh. Yang pertama, mengalihkan pendistribusian sampah ke TPA Regional yang juga berada di kawasan Gunung Kupang. “Teknis dan mekanismenya masih diatur dengan pihak provinsi,” paparnya.

Solusi kedua ialah dengan memilah jenis sampah yang bisa bermanfaat untuk didaur ulang. “Dari perhitungan kami, cara ini akan mengurangi sebesar 30 persen sampah. Jadi sebagian masih bisa ditampung di TPA Gunung Kupang,” pungkas Subhan. (ris/by/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

PKS Gaet Para Mantan

Retak yang Bikin Khawatir

/