alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Budaya Sungai Masih Kuat, CG Event Organizer Lebih Pilih Banjarmasin

Festival Jukung 2018 dibuka pagi ini (15/12) di Siring Pierre Tendean. Lomba kayuh perahu tradisional di Sungai Martapura itu memperebutkan total hadiah sebesar Rp55 juta.

Bukan sekadar lomba balap biasa, festival juga bakal diramaikan pementasan budaya sungai dari kota-kota lain di Indonesia. Sebutlah Surakarta dengan Bengawan Solo, Bandung dengan Sungai Citarum, Palembang dengan Sungai Musi, dan Pontianak dengan Sungai Kapuas.

Festival ini didukung penuh oleh Convergence Global. Event organizer yang berkantor di Jakarta dan telah berpengalaman menangani event berskala internasional.

“Mengapa kami memilih Banjarmasin? Karena budaya sungainya masih kuat. Di daerah lain, masyarakat sungainya kian bergeser ke tengah perkotaan. Tapi di sini, bocah kecil sudah dicemplungkan ke sungai,” kata Irfan Nugroho, ketua panitia pelaksana sekaligus perwakilan Convergence Global.

Event ini mengusung konsep sport-tourism. Kejuaraan non prestasi yang lebih ditujukan untuk menarik wisatawan. “Kebanggaan masyarakat Banjarmasin atas budaya sungainya. Itulah yang mau kami jual,” tegasnya.

Irfan memastikan, seratus lebih peserta lomba telah mengkonfirmasi kedatangan. “Mereka datang dari komunitas dan kampung-kampung di Banjarmasin,” tukasnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banjarmasin, AN Djaya menekankan target pemko ke depan.

“Dalam dua-tiga tahun mendatang, skalanya harus mendunia. Negara-negara lain yang tersohor dengan budaya sungainya harus turut diundang,” ujarnya.

Dalam festival perdana ini, hanya Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok yang bisa berkunjung ke Banjarmasin. “Karena waktunya sangat mepet, cuma China yang sempat terkonfirmasi,” ungkapnya.

Kehadiran perwakilan negara tetangga itu tentu bukan untuk menjadi peserta lomba, tapi lebih kepada misi observasi lingkungan. “Mereka ingin mengenalkan konsep pemurnian air sungai,” terangnya.

Terkait teknis acara, lintasan balap sejauh 400 meter dimulai dari Jembatan Pasar Lama sampai Menara Pandang. Agak mengkhawatirkan mengingat Sungai Martapura sepekan terakhir terus diserbu enceng gondok dan sampah dari hulu.

“Wali kota sudah menginstruksikan. Area ini harus aman dan bersih selama lomba balap berlangsung. Sudah diantisipasi,” janji Djaya. (fud/at/dye)

Festival Jukung 2018 dibuka pagi ini (15/12) di Siring Pierre Tendean. Lomba kayuh perahu tradisional di Sungai Martapura itu memperebutkan total hadiah sebesar Rp55 juta.

Bukan sekadar lomba balap biasa, festival juga bakal diramaikan pementasan budaya sungai dari kota-kota lain di Indonesia. Sebutlah Surakarta dengan Bengawan Solo, Bandung dengan Sungai Citarum, Palembang dengan Sungai Musi, dan Pontianak dengan Sungai Kapuas.

Festival ini didukung penuh oleh Convergence Global. Event organizer yang berkantor di Jakarta dan telah berpengalaman menangani event berskala internasional.

“Mengapa kami memilih Banjarmasin? Karena budaya sungainya masih kuat. Di daerah lain, masyarakat sungainya kian bergeser ke tengah perkotaan. Tapi di sini, bocah kecil sudah dicemplungkan ke sungai,” kata Irfan Nugroho, ketua panitia pelaksana sekaligus perwakilan Convergence Global.

Event ini mengusung konsep sport-tourism. Kejuaraan non prestasi yang lebih ditujukan untuk menarik wisatawan. “Kebanggaan masyarakat Banjarmasin atas budaya sungainya. Itulah yang mau kami jual,” tegasnya.

Irfan memastikan, seratus lebih peserta lomba telah mengkonfirmasi kedatangan. “Mereka datang dari komunitas dan kampung-kampung di Banjarmasin,” tukasnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banjarmasin, AN Djaya menekankan target pemko ke depan.

“Dalam dua-tiga tahun mendatang, skalanya harus mendunia. Negara-negara lain yang tersohor dengan budaya sungainya harus turut diundang,” ujarnya.

Dalam festival perdana ini, hanya Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok yang bisa berkunjung ke Banjarmasin. “Karena waktunya sangat mepet, cuma China yang sempat terkonfirmasi,” ungkapnya.

Kehadiran perwakilan negara tetangga itu tentu bukan untuk menjadi peserta lomba, tapi lebih kepada misi observasi lingkungan. “Mereka ingin mengenalkan konsep pemurnian air sungai,” terangnya.

Terkait teknis acara, lintasan balap sejauh 400 meter dimulai dari Jembatan Pasar Lama sampai Menara Pandang. Agak mengkhawatirkan mengingat Sungai Martapura sepekan terakhir terus diserbu enceng gondok dan sampah dari hulu.

“Wali kota sudah menginstruksikan. Area ini harus aman dan bersih selama lomba balap berlangsung. Sudah diantisipasi,” janji Djaya. (fud/at/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/