alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Merekalah Penentu Juara Pilpres 2019

Jangan remehkan suara kaum milenial dan emak-emak. Siapa yang bakal juara  pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang, mereka penentunya. 

Bagaimana perebutan suara emak-emak dan milenial di Banua?  Para wartawan koran ini selama satu pekan dikerahkan untuk mewawancarai mereka di 13 kabupaten/kota secara random.

Beberapa sikap dan pendapat mereka kami rangkum dalam bentuk laporan jurnalistik. Hanya untuk Anda. Selamat menikmati.

Beragam sikap mewarnai kaum muda di Banua menyambut pesta demokrasi lima tahunan. Memilih pasangan pemimpin negeri ini. Pilpres 2019, April tahun depan. Ada yang terkesan cuek, apatis dan kurang pengetahuan. Tak sedikit pula yang tertarik, meski bingung.

Setidaknya, itu tercermin dari pendapat-pendapat mereka yang dihimpun wartawan Radar Banjarmasin. Di tiga belas kabupaten/kota di Kalsel. Pendidikan dan sosialisasi politik kepada mereka sepertinya masih minim.

Dari kalangan pemilih pemula, istilah kerennya disebut generasi Y atau generasi milineal, banyak yang menganggap Pilpres tidak lebih penting ketimbang persoalan tugas sekolah. Atau pacar yang sedang ngambek.

“Mending memikirkan PR, lebih jelas manfaatnya. Politik senang menipu dan kotor,” cecar Sofian, siswa kelas XII dari salah satu SMA di Banjarmasin.

Di meja makan rumahnya, ayahnya sering membicarakan berita-berita tentang Jokowi versus Prabowo. Remaja kurus ini mengaku hanya menjadi pendengar. Dia enggan memberikan tanggapan balik. Hanya diam.

Sementara Riyan, 19 tahun, mahasiswa semester dua jurusan keperawatan bahkan telah mantap niat untuk tidak mencoblos. Alasannya, Pilpres kembali diramaikan oleh muka yang itu-itu juga. “Saya sebenarnya menantikan wajah baru. Ternyata enggak ada,” ucapnya.

Mungkinkah mereka galau? Wardhana, pelajar SMA kelas 3 lainnya mengaku hampir semua informasi yang diketahuinya tentang Pilpres, sebagian besar diperoleh dari media sosial (Medsos).

Di dunia maya, yang marak saling serang antara pendukung pasangan capres. Cari-cari kesalahan untuk diviralkan. Informasi hoax yang sengaja ditebarkan. Dan aneka ujaran-ujaran kebencian. “Membingungkan,” katanya.

Uneg-uneg nyaris serupa juga dilontarkan kaum bergenre “Y” di daerah. Mulai Tabalong hingga Kotabaru. Mereka menyaksikan praktik politik di negeri ini, tak ubahnya seperti medan pertempuran. Saling serang dan menjatuhkan.

“Mereka bukan mempertontonkan visi, misi, dan program. Tapi justru saling mencari kelemahan dan kekurangan. Tak pantas menjadi tontonan masyarakat,” semprot Andrey dari Tanah Bumbu.

Raisa dan Nurul dari Banjarbaru sepaham. Bahkan, kondisi perpolitikan di Indonesia, menurut mereka seperti kapal pecah saja. Tak elok untuk dipandang. Tak nyaman untuk dinikmati. “Saling menjatuhkan, itu sungguh tak sedap,” ucap Nurul.

Eka dari Tapin agak ekstrem. Meski sudah punya hak untuk memilih pada tahun depan, ia tak mau peduli. Warga Rantau yang kini kuliah di Banjarbaru ini cuek dengan keadaan politik. “Jangan tanya itu,” ujarnya.

Ada pula yang agak lucu. Walau mereka tak paham politik, beberapa kaum milenal akan ikut memilih karena ada ajakan dari orang-orang dekat. “Apa jar guru dan orang tua saja,” kata beberapa pelajar dari Kotabaru.

Walau banyak yang galau, namun ada pula kaum milenial yang melek dengan politik. Meski dengan wawasan seadanya. Sebagian besar, mengetahuinya dari cerita orang tua, saudara, dan medsos, tentu saja.

“Awalnya cuek, lama-lama menarik juga. Sekarang agak melek. Saya akan gunakan hak pilih nanti,” kata Anggi dari Banjarbaru.

Pilpres 2019 mendatang, menurut Devi dari Martapura,jangan dilewatkan. Sebab itu akan menjadi pengalaman perdananya dalam hidup.

Selain mencari-cari informasi di berbagai media, ia juga rajin bertanya kepada orang tuanya terkait perkembangan perpolitikan di Indonesia.

Lalu, bagaimana pandangan mereka tentang dua pasangan calon yang kini bersaing sengit, merayu dan memperebutkan suara mereka? Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga.

Hampir semua kalangan milenial yang ditemui, mengakses medsos. Sehingga, apa yang lagi viral dan tren tentang pasangan kandidat itu, mereka mengaku mengetahuinya.

Walau tidak terlalu mendalam, Anggi lebih mengenal banyak Jokowi ketimbang Prabowo. Hal itu lantaran capres ini banyak tampil di televisi, juga di medsos. Fotonya juga banyak dipasang di berbagai tempat. Di sekolah pun ada.

“Beliau kan Presiden. Terus aksi-aksinya juga menarik perhatian. Semisal beradegan naik motor Asian Games lalu,” ungkapnya.

Kendati begitu, Anggi juga kagum dengan capres yang satunya. Menariknya, ia justru lebih mengenal wakilnya, Sandiaga Uno. “Pak Sandi kayaknya anak muda banget. Suka lari dan gayanya tidak ke bapak-bapak-an. Cukup Oke lah,” nilainya.

Dika Putra, pelajar SMA swasta di Banjarbaru juga punya pendapat serupa. “Pak Jokowi sepertinya mencoba untuk lebih anak muda sih yang saya lihat. Main Youtube, modif motor sama pakai sneakers kan. Tapi berpikir juga sih, jangan-jangan ini cuma settingan,” katanya.

Sedangkan Angraini, siswa di Banjarmasin malah mengaku sudah lama menjadi follower Jokowi di Instagram. Rajin memberikan like di postingan, meski masih malu-malu untuk ikut berkomentar.

“Pak Jokowi itu keren. Dia menaiki motor gede klasik. Mengenakan sneakers Vans dan jaket kulit. Fasih mengutip film-film terkenal. Sedangkan Prabowo tampak sangat tua,” ujarnya.

Joko Susanto, pelajar dari Tanah Bumbu punya pendapat sederhana tentang para calon. Jokowi, kata dia, orangnya kalem, tapi giat bekerja. Sedangkan Prabowo, terlihat serius dan tegas. Maklum ia seorang jenderal.

Eva Yulinda, salah satu mahasiswi menilai, kedua sosok calon presiden sudah mengakomodir apa yang diinginkan para kaum muda. Seperti calon petahana, dalam beberapa kali kesempatan merangkul pemilih milenial.

Begitu pula dengan kandidat lawan. Sosok muda Cawapres, Sandiaga Uno seakan melawan strategi Jokowi yang mendekati pemilih muda seperti dirinya.

“Ada plus minus dari dua pasangan Capres dan Cawapres kali ini. Petahana memang memiliki prestasi. Sementara sang lawan, belum ada bukti. Ini yang susah,” tuturnya.

Mungkin karena pemula, mayoritas kaum milenial masih meraba dan menimbang. Kepada pasangan mana, suara mereka ditambatkan.

Rata-rata, mereka memastikannya menjelang hari H Pilpres 2019. April mendatang. Saat ditanya, rata-rata mereka mengelak. Dengan alasan, masih bingung alias galau.

Hampir semua kalangan milenial, pada hari-hari mendatang, para calon dan pendukungnya, berharap menyajikan tontonan politik yang mendidik. Menyampaikan program-program terbaik. Khusunya menyangkut generasi muda.

“Harapan kami semoga capres dan cawapres bisa memberikan pandangan ke depan tentang visi, misi, dan program. Jangan hanya mengumbar kebencian sana sini,” pinta Reza, pelajar di Pelaihari.

Sementara itu, jika kaum milenial terkesan malu-malu mengungkapkan isi hati. Tentang politik dan Pilpres 2019. Kaum ibu-ibu, sekarang tren disebut emak-emak, justru agresif. Mereka berada di jalur terbuka. Mengungkapkan pendapat dan sikap secara terus terang.

Rina Ramadhani, Nur Sari Kasih, dan Dwi Syafawi misalnya. Masih muda, sudah menikah, bekerja dan tinggal di Banjarmasin. Namun, bukan berarti ketiganya memiliki pandangan politik yang sama.

Ketiganya disodorkan daftar pertanyaan serupa. Siapa yang akan mereka coblos pada Pilpres nanti? Jika golput, apa alasannya? Apa kelebihan dan kekurangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi? Terakhir, apa perubahan yang mereka harapkan dari pemenang Pilpres?

“Jika boleh berandai-andai, Joko Widodo mestinya berpasangan dengan Sandiaga Uno, bukan KH Ma’ruf Amin,” kata Rina, 25 tahun, honorer.

Di matanya, Sandiaga adalah potret ideal pemuda Indonesia. Kaya, berpendidikan, ambisius dan pastinya tampan. “Kalau Jokowi, kinerjanya sudah terlihat. Tangkas! Suka terjun ke masyarakat,” imbuhnya.

Siapapun yang nantinya memenangi Pilpres, dia menuntut pengurangan utang negara. Rina mengaku ngeri membaca berita yang memuat angka-angka utang negara. “Nominalnya sungguh mencengangkan,” ujarnya.

Sementara Sari, 29 tahun, bersikap lebih apatis terhadap politik. Dia mengaku hampir tak pernah membicarakan politik dengan suami atau teman-temannya. Dia menjawab sekenanya saja. “Jokowi atau Prabowo, sebenarnya sama rata saja,” ujarnya.

Sekarang, pegawai bank ini lebih condong kepada Prabowo Subianto. Sekalipun Sari tak merasa tabu untuk mengubah pilihannya menjelang hari pencoblosan nanti. Dia tak ingin dicap sebagai pendukung fanatik salah satu paslon.

“Harapan saya atas Pilpres sama seperti kebanyakan orang. Kami ingin negeri ini tambah sejahtera,” tukasnya.

Sedangkan Dwi, 22 tahun, sedang bimbang menentukan pilihan. Dari segi kepribadian, dia mengagumi Jokowi. “Jokowi itu bersahaja,” ucapnya.

Ibu dari dari satu anak ini berharap, kedua kubu pendukung lebih mampu menahan diri. Tidak lebay, apalagi sampai menyebarkan hoax untuk menyudutkan dan menjatuhkan paslon lain. Dwi menilai perdebatan Pilpres, terutama di media sosial, sudah melampaui batas kewajaran.

“Saya merindukan masyarakat Indonesia yang ramah dan damai seperti dulu. Tidak terpecah-belah dan mudah diprovokasi seperti sekarang,” tegasnya.

Opini terbuka juga disampain Herviana. Dia menginginkan perubahan pada negeri ini dengan memilih presiden baru. Menurutnya, calon petahana memang memiliki program kerja nyata.

Namun, yang dirasakan bagi masyarakat Kalsel tak seberapa dengan infrastruktur di luar Kalimantan. “Ketimpangan masih terjadi. Yang menikmati hanya segelintir orang,” ujar perempuan yang baru lulus kuliah ini. 

Acil Yuni, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Pramuka Banjarmasin. Dia mengaku sumpek menjalani kehidupan. Ongkos hidup terbilang tinggi, kebutuhan pokok harganya kerap melonjak tinggi. Belum lagi soal susahnya mencari gas elpiji.

“Meski tak yakin-yakin amat dengan pemimpin baru. Tapi paling tidak ada perubahan dibandingkan sekarang,” ujarnya.

Laila, warga lainnya, bahkan menilai, lima tahun kepemimpinan petahana tak ada yang menonjol. Lapisan bahwa seperti dirinya tak mendapat imbas positif. Hidup tetap saja tak ada perubahan. “Lima tahun mendatang, kita tak mau lagi seperti ini,” tandasnya.

Emma beda sikap dengan Laila. Ia mengibaratkan Pilpres itu seperti memilih sayur di pasar. Harus teliti. Apakah bagus dan aman untuk dikonsumsi. “Kalau dirasakan sudah bagus, buat apa cari sayur yang lain,” katanya.

Pendapat dan sikap emak-emak di Kalsel terhadap Pilpres 2019 ternyata begitu terbukanya. Mereka tak sungkan lagi melontarkan kritik dan memuji. Sebagian besar mereka juga realistis dengan politik di Indonesia. Karena pasangan calonnya hanya dua pasang. Maka tak ada alternatif lain. Jika tak Jokowi – Ma’ruf, ya Prabowo – Sandi.

Nor Aisyah dari Tanah Bumbu berkata, kedua pasangan sebenarnya sama-sama baik. Antara capres dan cawapres saling mengisi kekosongan. Sehingga kekurangan mereka menjadi relatif sebagai satu tim. Pendukung setia Jokowi ini hanya berharap pesta demokrasi berjalan damai dan aman.

“Bagi yang kalah harus bisa menerima. Sedangkan yang menang tak boleh sombong. Kelak, Pilpres usai, seluruh rakyat jangan berkubu-kubu lagi,” ujarnya.

Senada disampaikan Wati dari Balangan. Ia mengisyaratkan pemimpin baru di Indonesia. Walau begitu, ia hormat dengan para kandidat. Jokowi dianggap merakyat. Prabowo tegas. Tetapi, ia harus memilih.

Menariknya, ada pula yang agak unik. Hatma dari Rantau mengaku tak suka dengan Jokowi maupun Prabowo. Ia sebelumnya berniat untuk golput saja. “Calonnya itu itu saja,” cetusnya.

Namun, dari waktu ke waktu ia memperhatikan sosok paling muda di kontestasi Pilpres ini. Sandiaga Uno. Hatinya tergerak. Ada calon pemimpin masih muda. Tampan, kaya, dan pintar pula. “Beliau idola saya,” sebutnya.

Ia punya harapan. Siapa pun kelak yang terpilih, bisa membawa bangsa ini menjadi lebih maju. Rakyatnya sejahtera.

Hal menggelitik lainnya yang terungkap dari wawancara dengan sejumlah emak-emak di Kalsel, adalah soal harga sembako yang mahal.

Tak peduli pendukung Jokowi atau Prabowo, sama saja. Pesan mereka tegas. Siapa pun yang memimpin lima tahun ke depan, yang penting harga kebutuhan pokok tidak melonjak lagi.

Ada yang berharap, ada pula yang apatis. Rabiatul contohnya. Emak-emak dari Tanjung ini tak tertarik dengan Pilpres. Ia tak ambil pusing. “Siapa pun yang jadi presiden, tak ada pengaruh dengan kita di daerah,” ujarnya.

Bagi dia, Pilpres berakhir, pesta pun usai. Rakyak kebanyakan seperti dirinya, tak akan mendapat pengaruh apa-apa. “Kita sudah berpengalaman ikut pemilihan presiden. Berkali-kali. Hasilnya, ya seperti itu itu saja,” katanya agak sinis.

Bagi emak-emak punya putra-putri pemilih pemula, lebih pusing lagi. Lia dari Martapura mengaku kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya.

“Saya saja kadang bingung harus jawab apa, banyak kejadian muncul tenggelam dan mengemuka lagi kasus baru jelang pilpres tahun 2019 mendatang. Mau tidak mau semua informasi di media sosial harus saya konfirmasi di beberapa media mapan dan terkenal. Di rumah tidak lagi percaya dengan yang viral, itu kadang menyesatkan. Itu yang sering ditanyakan anak,” ucapnya.

Lia sendiri mengaku telah menentukan pilihan. Tak akan berubah lagi. “Saya memilih calon presiden yang pro kesejahteraan PNS. Tebak saja sendiri,” tukasnya.

Nurul, warga Martapura memuji presiden saat ini. Menurutnya, Jokowi sangat baik secara personal. Sayangnya, Indonesia negara besar, masyarakatnya sangat majemuk, dan membutuhkan sosok yang bisa menyapa semua kalangan.

“Saya hanya mau perubahan. Seperti nasib saya juga perlu berubah setelah lama hidup sendiri,” celetuknya. (mof,fud,rvn, tris,ard,kry,zal,mam,dly,shn,mar,why,ibn,mr-152/ay/tri)

Jangan remehkan suara kaum milenial dan emak-emak. Siapa yang bakal juara  pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang, mereka penentunya. 

Bagaimana perebutan suara emak-emak dan milenial di Banua?  Para wartawan koran ini selama satu pekan dikerahkan untuk mewawancarai mereka di 13 kabupaten/kota secara random.

Beberapa sikap dan pendapat mereka kami rangkum dalam bentuk laporan jurnalistik. Hanya untuk Anda. Selamat menikmati.

Beragam sikap mewarnai kaum muda di Banua menyambut pesta demokrasi lima tahunan. Memilih pasangan pemimpin negeri ini. Pilpres 2019, April tahun depan. Ada yang terkesan cuek, apatis dan kurang pengetahuan. Tak sedikit pula yang tertarik, meski bingung.

Setidaknya, itu tercermin dari pendapat-pendapat mereka yang dihimpun wartawan Radar Banjarmasin. Di tiga belas kabupaten/kota di Kalsel. Pendidikan dan sosialisasi politik kepada mereka sepertinya masih minim.

Dari kalangan pemilih pemula, istilah kerennya disebut generasi Y atau generasi milineal, banyak yang menganggap Pilpres tidak lebih penting ketimbang persoalan tugas sekolah. Atau pacar yang sedang ngambek.

“Mending memikirkan PR, lebih jelas manfaatnya. Politik senang menipu dan kotor,” cecar Sofian, siswa kelas XII dari salah satu SMA di Banjarmasin.

Di meja makan rumahnya, ayahnya sering membicarakan berita-berita tentang Jokowi versus Prabowo. Remaja kurus ini mengaku hanya menjadi pendengar. Dia enggan memberikan tanggapan balik. Hanya diam.

Sementara Riyan, 19 tahun, mahasiswa semester dua jurusan keperawatan bahkan telah mantap niat untuk tidak mencoblos. Alasannya, Pilpres kembali diramaikan oleh muka yang itu-itu juga. “Saya sebenarnya menantikan wajah baru. Ternyata enggak ada,” ucapnya.

Mungkinkah mereka galau? Wardhana, pelajar SMA kelas 3 lainnya mengaku hampir semua informasi yang diketahuinya tentang Pilpres, sebagian besar diperoleh dari media sosial (Medsos).

Di dunia maya, yang marak saling serang antara pendukung pasangan capres. Cari-cari kesalahan untuk diviralkan. Informasi hoax yang sengaja ditebarkan. Dan aneka ujaran-ujaran kebencian. “Membingungkan,” katanya.

Uneg-uneg nyaris serupa juga dilontarkan kaum bergenre “Y” di daerah. Mulai Tabalong hingga Kotabaru. Mereka menyaksikan praktik politik di negeri ini, tak ubahnya seperti medan pertempuran. Saling serang dan menjatuhkan.

“Mereka bukan mempertontonkan visi, misi, dan program. Tapi justru saling mencari kelemahan dan kekurangan. Tak pantas menjadi tontonan masyarakat,” semprot Andrey dari Tanah Bumbu.

Raisa dan Nurul dari Banjarbaru sepaham. Bahkan, kondisi perpolitikan di Indonesia, menurut mereka seperti kapal pecah saja. Tak elok untuk dipandang. Tak nyaman untuk dinikmati. “Saling menjatuhkan, itu sungguh tak sedap,” ucap Nurul.

Eka dari Tapin agak ekstrem. Meski sudah punya hak untuk memilih pada tahun depan, ia tak mau peduli. Warga Rantau yang kini kuliah di Banjarbaru ini cuek dengan keadaan politik. “Jangan tanya itu,” ujarnya.

Ada pula yang agak lucu. Walau mereka tak paham politik, beberapa kaum milenal akan ikut memilih karena ada ajakan dari orang-orang dekat. “Apa jar guru dan orang tua saja,” kata beberapa pelajar dari Kotabaru.

Walau banyak yang galau, namun ada pula kaum milenial yang melek dengan politik. Meski dengan wawasan seadanya. Sebagian besar, mengetahuinya dari cerita orang tua, saudara, dan medsos, tentu saja.

“Awalnya cuek, lama-lama menarik juga. Sekarang agak melek. Saya akan gunakan hak pilih nanti,” kata Anggi dari Banjarbaru.

Pilpres 2019 mendatang, menurut Devi dari Martapura,jangan dilewatkan. Sebab itu akan menjadi pengalaman perdananya dalam hidup.

Selain mencari-cari informasi di berbagai media, ia juga rajin bertanya kepada orang tuanya terkait perkembangan perpolitikan di Indonesia.

Lalu, bagaimana pandangan mereka tentang dua pasangan calon yang kini bersaing sengit, merayu dan memperebutkan suara mereka? Jokowi – Ma’ruf Amin dan Prabowo – Sandiaga.

Hampir semua kalangan milenial yang ditemui, mengakses medsos. Sehingga, apa yang lagi viral dan tren tentang pasangan kandidat itu, mereka mengaku mengetahuinya.

Walau tidak terlalu mendalam, Anggi lebih mengenal banyak Jokowi ketimbang Prabowo. Hal itu lantaran capres ini banyak tampil di televisi, juga di medsos. Fotonya juga banyak dipasang di berbagai tempat. Di sekolah pun ada.

“Beliau kan Presiden. Terus aksi-aksinya juga menarik perhatian. Semisal beradegan naik motor Asian Games lalu,” ungkapnya.

Kendati begitu, Anggi juga kagum dengan capres yang satunya. Menariknya, ia justru lebih mengenal wakilnya, Sandiaga Uno. “Pak Sandi kayaknya anak muda banget. Suka lari dan gayanya tidak ke bapak-bapak-an. Cukup Oke lah,” nilainya.

Dika Putra, pelajar SMA swasta di Banjarbaru juga punya pendapat serupa. “Pak Jokowi sepertinya mencoba untuk lebih anak muda sih yang saya lihat. Main Youtube, modif motor sama pakai sneakers kan. Tapi berpikir juga sih, jangan-jangan ini cuma settingan,” katanya.

Sedangkan Angraini, siswa di Banjarmasin malah mengaku sudah lama menjadi follower Jokowi di Instagram. Rajin memberikan like di postingan, meski masih malu-malu untuk ikut berkomentar.

“Pak Jokowi itu keren. Dia menaiki motor gede klasik. Mengenakan sneakers Vans dan jaket kulit. Fasih mengutip film-film terkenal. Sedangkan Prabowo tampak sangat tua,” ujarnya.

Joko Susanto, pelajar dari Tanah Bumbu punya pendapat sederhana tentang para calon. Jokowi, kata dia, orangnya kalem, tapi giat bekerja. Sedangkan Prabowo, terlihat serius dan tegas. Maklum ia seorang jenderal.

Eva Yulinda, salah satu mahasiswi menilai, kedua sosok calon presiden sudah mengakomodir apa yang diinginkan para kaum muda. Seperti calon petahana, dalam beberapa kali kesempatan merangkul pemilih milenial.

Begitu pula dengan kandidat lawan. Sosok muda Cawapres, Sandiaga Uno seakan melawan strategi Jokowi yang mendekati pemilih muda seperti dirinya.

“Ada plus minus dari dua pasangan Capres dan Cawapres kali ini. Petahana memang memiliki prestasi. Sementara sang lawan, belum ada bukti. Ini yang susah,” tuturnya.

Mungkin karena pemula, mayoritas kaum milenial masih meraba dan menimbang. Kepada pasangan mana, suara mereka ditambatkan.

Rata-rata, mereka memastikannya menjelang hari H Pilpres 2019. April mendatang. Saat ditanya, rata-rata mereka mengelak. Dengan alasan, masih bingung alias galau.

Hampir semua kalangan milenial, pada hari-hari mendatang, para calon dan pendukungnya, berharap menyajikan tontonan politik yang mendidik. Menyampaikan program-program terbaik. Khusunya menyangkut generasi muda.

“Harapan kami semoga capres dan cawapres bisa memberikan pandangan ke depan tentang visi, misi, dan program. Jangan hanya mengumbar kebencian sana sini,” pinta Reza, pelajar di Pelaihari.

Sementara itu, jika kaum milenial terkesan malu-malu mengungkapkan isi hati. Tentang politik dan Pilpres 2019. Kaum ibu-ibu, sekarang tren disebut emak-emak, justru agresif. Mereka berada di jalur terbuka. Mengungkapkan pendapat dan sikap secara terus terang.

Rina Ramadhani, Nur Sari Kasih, dan Dwi Syafawi misalnya. Masih muda, sudah menikah, bekerja dan tinggal di Banjarmasin. Namun, bukan berarti ketiganya memiliki pandangan politik yang sama.

Ketiganya disodorkan daftar pertanyaan serupa. Siapa yang akan mereka coblos pada Pilpres nanti? Jika golput, apa alasannya? Apa kelebihan dan kekurangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi? Terakhir, apa perubahan yang mereka harapkan dari pemenang Pilpres?

“Jika boleh berandai-andai, Joko Widodo mestinya berpasangan dengan Sandiaga Uno, bukan KH Ma’ruf Amin,” kata Rina, 25 tahun, honorer.

Di matanya, Sandiaga adalah potret ideal pemuda Indonesia. Kaya, berpendidikan, ambisius dan pastinya tampan. “Kalau Jokowi, kinerjanya sudah terlihat. Tangkas! Suka terjun ke masyarakat,” imbuhnya.

Siapapun yang nantinya memenangi Pilpres, dia menuntut pengurangan utang negara. Rina mengaku ngeri membaca berita yang memuat angka-angka utang negara. “Nominalnya sungguh mencengangkan,” ujarnya.

Sementara Sari, 29 tahun, bersikap lebih apatis terhadap politik. Dia mengaku hampir tak pernah membicarakan politik dengan suami atau teman-temannya. Dia menjawab sekenanya saja. “Jokowi atau Prabowo, sebenarnya sama rata saja,” ujarnya.

Sekarang, pegawai bank ini lebih condong kepada Prabowo Subianto. Sekalipun Sari tak merasa tabu untuk mengubah pilihannya menjelang hari pencoblosan nanti. Dia tak ingin dicap sebagai pendukung fanatik salah satu paslon.

“Harapan saya atas Pilpres sama seperti kebanyakan orang. Kami ingin negeri ini tambah sejahtera,” tukasnya.

Sedangkan Dwi, 22 tahun, sedang bimbang menentukan pilihan. Dari segi kepribadian, dia mengagumi Jokowi. “Jokowi itu bersahaja,” ucapnya.

Ibu dari dari satu anak ini berharap, kedua kubu pendukung lebih mampu menahan diri. Tidak lebay, apalagi sampai menyebarkan hoax untuk menyudutkan dan menjatuhkan paslon lain. Dwi menilai perdebatan Pilpres, terutama di media sosial, sudah melampaui batas kewajaran.

“Saya merindukan masyarakat Indonesia yang ramah dan damai seperti dulu. Tidak terpecah-belah dan mudah diprovokasi seperti sekarang,” tegasnya.

Opini terbuka juga disampain Herviana. Dia menginginkan perubahan pada negeri ini dengan memilih presiden baru. Menurutnya, calon petahana memang memiliki program kerja nyata.

Namun, yang dirasakan bagi masyarakat Kalsel tak seberapa dengan infrastruktur di luar Kalimantan. “Ketimpangan masih terjadi. Yang menikmati hanya segelintir orang,” ujar perempuan yang baru lulus kuliah ini. 

Acil Yuni, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Pramuka Banjarmasin. Dia mengaku sumpek menjalani kehidupan. Ongkos hidup terbilang tinggi, kebutuhan pokok harganya kerap melonjak tinggi. Belum lagi soal susahnya mencari gas elpiji.

“Meski tak yakin-yakin amat dengan pemimpin baru. Tapi paling tidak ada perubahan dibandingkan sekarang,” ujarnya.

Laila, warga lainnya, bahkan menilai, lima tahun kepemimpinan petahana tak ada yang menonjol. Lapisan bahwa seperti dirinya tak mendapat imbas positif. Hidup tetap saja tak ada perubahan. “Lima tahun mendatang, kita tak mau lagi seperti ini,” tandasnya.

Emma beda sikap dengan Laila. Ia mengibaratkan Pilpres itu seperti memilih sayur di pasar. Harus teliti. Apakah bagus dan aman untuk dikonsumsi. “Kalau dirasakan sudah bagus, buat apa cari sayur yang lain,” katanya.

Pendapat dan sikap emak-emak di Kalsel terhadap Pilpres 2019 ternyata begitu terbukanya. Mereka tak sungkan lagi melontarkan kritik dan memuji. Sebagian besar mereka juga realistis dengan politik di Indonesia. Karena pasangan calonnya hanya dua pasang. Maka tak ada alternatif lain. Jika tak Jokowi – Ma’ruf, ya Prabowo – Sandi.

Nor Aisyah dari Tanah Bumbu berkata, kedua pasangan sebenarnya sama-sama baik. Antara capres dan cawapres saling mengisi kekosongan. Sehingga kekurangan mereka menjadi relatif sebagai satu tim. Pendukung setia Jokowi ini hanya berharap pesta demokrasi berjalan damai dan aman.

“Bagi yang kalah harus bisa menerima. Sedangkan yang menang tak boleh sombong. Kelak, Pilpres usai, seluruh rakyat jangan berkubu-kubu lagi,” ujarnya.

Senada disampaikan Wati dari Balangan. Ia mengisyaratkan pemimpin baru di Indonesia. Walau begitu, ia hormat dengan para kandidat. Jokowi dianggap merakyat. Prabowo tegas. Tetapi, ia harus memilih.

Menariknya, ada pula yang agak unik. Hatma dari Rantau mengaku tak suka dengan Jokowi maupun Prabowo. Ia sebelumnya berniat untuk golput saja. “Calonnya itu itu saja,” cetusnya.

Namun, dari waktu ke waktu ia memperhatikan sosok paling muda di kontestasi Pilpres ini. Sandiaga Uno. Hatinya tergerak. Ada calon pemimpin masih muda. Tampan, kaya, dan pintar pula. “Beliau idola saya,” sebutnya.

Ia punya harapan. Siapa pun kelak yang terpilih, bisa membawa bangsa ini menjadi lebih maju. Rakyatnya sejahtera.

Hal menggelitik lainnya yang terungkap dari wawancara dengan sejumlah emak-emak di Kalsel, adalah soal harga sembako yang mahal.

Tak peduli pendukung Jokowi atau Prabowo, sama saja. Pesan mereka tegas. Siapa pun yang memimpin lima tahun ke depan, yang penting harga kebutuhan pokok tidak melonjak lagi.

Ada yang berharap, ada pula yang apatis. Rabiatul contohnya. Emak-emak dari Tanjung ini tak tertarik dengan Pilpres. Ia tak ambil pusing. “Siapa pun yang jadi presiden, tak ada pengaruh dengan kita di daerah,” ujarnya.

Bagi dia, Pilpres berakhir, pesta pun usai. Rakyak kebanyakan seperti dirinya, tak akan mendapat pengaruh apa-apa. “Kita sudah berpengalaman ikut pemilihan presiden. Berkali-kali. Hasilnya, ya seperti itu itu saja,” katanya agak sinis.

Bagi emak-emak punya putra-putri pemilih pemula, lebih pusing lagi. Lia dari Martapura mengaku kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya.

“Saya saja kadang bingung harus jawab apa, banyak kejadian muncul tenggelam dan mengemuka lagi kasus baru jelang pilpres tahun 2019 mendatang. Mau tidak mau semua informasi di media sosial harus saya konfirmasi di beberapa media mapan dan terkenal. Di rumah tidak lagi percaya dengan yang viral, itu kadang menyesatkan. Itu yang sering ditanyakan anak,” ucapnya.

Lia sendiri mengaku telah menentukan pilihan. Tak akan berubah lagi. “Saya memilih calon presiden yang pro kesejahteraan PNS. Tebak saja sendiri,” tukasnya.

Nurul, warga Martapura memuji presiden saat ini. Menurutnya, Jokowi sangat baik secara personal. Sayangnya, Indonesia negara besar, masyarakatnya sangat majemuk, dan membutuhkan sosok yang bisa menyapa semua kalangan.

“Saya hanya mau perubahan. Seperti nasib saya juga perlu berubah setelah lama hidup sendiri,” celetuknya. (mof,fud,rvn, tris,ard,kry,zal,mam,dly,shn,mar,why,ibn,mr-152/ay/tri)

Most Read

Artikel Terbaru

/