alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

ULM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Sutarto Hadi : Jangan sampai Guru Besar Hanya Nama

BANJARMASIN – Tiga guru besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dikukuhkan, Senin (3/12). Sidang senat terbuka itu dipimpin langsung oleh Rektor ULM, Sutarto Hadi.

Ketiga nama yang dikukuhkan, yakni Ahmad Suriansyah dari Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Mijani Rahman dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, dan Iryanti Fatyasari Nata dari Fakutas Teknik.

Dengan begitu, tiga akademisi ini menambah jumlah guru besar di ULM. Sehingga total menjadi 43 orang.

Sutarto Hadi bertekad untuk mendorong upaya penambahan guru besar tersebut. “Setidaknya 10 persen dari jumlah dosen ULM dinobatkan menjadi guru besar,” ujarnya.

Keberadaan para guru besar ini diharapkan dapat meningkatkan atmosfir akademis di ULM. Terlebih dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan berkontribusi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mengemban predikat guru besar juga harus siap tantangan. Sutarto menuntut agar 43 guru besar itu terus menelurkan karya. Lewat jurnal-jurnal penelitan bertaraf internasional. “Jangan sampai GBHN (Guru Besar Hanya Nama), terus berkarya,” ucapnya.

Wujud kontribusi guru besar tak sebatas membuat penelitian. Melainkan mendorong perkembangan para dosen-dosen muda dan mahasiswa untuk lebih produktif lagi.

Ketika guru besar mencapai 10 persen, Sutarto yakin ULM dapat melejit hingga ke mancanegara. Salah satu syaratnya lewat publikasi jurnal internasional.

Sejauh ini ULM sudah menarik banyak perhatian. Seperti yang datang dari kelompok studi dari Australia baru-baru ini. Kedatangan mereka untuk belajar terkait pengelolaan lingkungan lahan basah dan upaya penutupan lahan bekas tambang.

“Artinya kampus ini bisa menjadi rujukan-rujukan peneliti dari luar negeri ketika kita punya karya yang unggul dan berkualitas,” tegasnya.

Salah satu pofesor yang dilantik, Ahmad Suriansyah menuturkan rasa syukurnya. “Ini posisi tertinggi selama saya menjadi akademisi,” ujarnya.

Dalam orasinya, Suriansyah menyampaikan hasil penelitiannya terkait budaya mutu. Setidaknya ada sepuluh tiang budaya mutu yang harus diaplikasikan di dunia pendidikan kedepannya. “Semoga dapat diterapkan dan menghasilkan generasi yang bermutu,” harapnya.

Untuk meraih predikat ini, banyak tahapan yang ia lalui. Terutama untuk memenuhi syarat menembus jurnal internasional. “Prosesnya 1,5 tahun, berbagai persyaratan berat dan ketat harus dipenuhi,” tuntasnya. (tln/at/nur)

BANJARMASIN – Tiga guru besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dikukuhkan, Senin (3/12). Sidang senat terbuka itu dipimpin langsung oleh Rektor ULM, Sutarto Hadi.

Ketiga nama yang dikukuhkan, yakni Ahmad Suriansyah dari Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Mijani Rahman dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, dan Iryanti Fatyasari Nata dari Fakutas Teknik.

Dengan begitu, tiga akademisi ini menambah jumlah guru besar di ULM. Sehingga total menjadi 43 orang.

Sutarto Hadi bertekad untuk mendorong upaya penambahan guru besar tersebut. “Setidaknya 10 persen dari jumlah dosen ULM dinobatkan menjadi guru besar,” ujarnya.

Keberadaan para guru besar ini diharapkan dapat meningkatkan atmosfir akademis di ULM. Terlebih dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan berkontribusi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mengemban predikat guru besar juga harus siap tantangan. Sutarto menuntut agar 43 guru besar itu terus menelurkan karya. Lewat jurnal-jurnal penelitan bertaraf internasional. “Jangan sampai GBHN (Guru Besar Hanya Nama), terus berkarya,” ucapnya.

Wujud kontribusi guru besar tak sebatas membuat penelitian. Melainkan mendorong perkembangan para dosen-dosen muda dan mahasiswa untuk lebih produktif lagi.

Ketika guru besar mencapai 10 persen, Sutarto yakin ULM dapat melejit hingga ke mancanegara. Salah satu syaratnya lewat publikasi jurnal internasional.

Sejauh ini ULM sudah menarik banyak perhatian. Seperti yang datang dari kelompok studi dari Australia baru-baru ini. Kedatangan mereka untuk belajar terkait pengelolaan lingkungan lahan basah dan upaya penutupan lahan bekas tambang.

“Artinya kampus ini bisa menjadi rujukan-rujukan peneliti dari luar negeri ketika kita punya karya yang unggul dan berkualitas,” tegasnya.

Salah satu pofesor yang dilantik, Ahmad Suriansyah menuturkan rasa syukurnya. “Ini posisi tertinggi selama saya menjadi akademisi,” ujarnya.

Dalam orasinya, Suriansyah menyampaikan hasil penelitiannya terkait budaya mutu. Setidaknya ada sepuluh tiang budaya mutu yang harus diaplikasikan di dunia pendidikan kedepannya. “Semoga dapat diterapkan dan menghasilkan generasi yang bermutu,” harapnya.

Untuk meraih predikat ini, banyak tahapan yang ia lalui. Terutama untuk memenuhi syarat menembus jurnal internasional. “Prosesnya 1,5 tahun, berbagai persyaratan berat dan ketat harus dipenuhi,” tuntasnya. (tln/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/