alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Suami Pulang Bawa HIV (1)

BANJARMASIN – Hari ini, 1 Desember ditetapkan sebagai hari AIDS sedunia 1988, diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia ini pun telah sampai dan menyebar di seluruh kabupaten kota di Kalsel. Sejak ditemukan tahun 2002, hingga Juni 2018, Dinas Kesehatan Kalsel dan Komisi Penanggulangan AIDS mencatat sudah ada 2.158 kasus.

Tahun ini saja, ditemukan 55 kasus baru. Temuan ini diprediksi terus bertambah hingga akhir tahun, seiring semakin meningkatnya faktor risiko yang bisa menularkan HIV/AIDS, seperti pergaulan dan seks bebas.

Kasus HIV/AIDS mulai meroket pada 2011, kala itu temuan kasus HIV/AIDS mencapai 117 kasus. Padahal, di tahun sebelumnya hanya puluhan kasus. Contohnya pada 2009 dan 2010, hanya ditemukan 51 dan 72 kasus.

“Setelah itu terus meningkat. Puncaknya pada tahun 2017 tadi. Angkanya mencapai 412 kasus,” terang Sekretaris KPA Kalsel, Mursalin kemarin.

Sementara itu, korban meninggal karena HIV/AIDS, sampai saat ini sudah mencapai 188 orang.

Dari Data KPA Kalsel, lima besar daerah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terbanyak ada di Kota Banjarmasin, yakni sebanyak 757 kasus (35,1 persen), disusul Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 298 kasus (13,8 persen), Kota Banjarbaru sebanyak 257 kasus (11,9 persen) Kabupaten Banjar 121 kasus (5,6 persen) dan Kabupaten Tabalong mencapai 95 kasus (4,4 persen).

Ironisnya, pengidap HIV/AIDS di Kalsel, didominasi anak muda dengan rentang usia 20-29 tahun. Jumlahnya mencapai 822 orang atau 38,1 persen dari usia di bawah 1 tahun hingga lebih dari 60 tahun.

“Selain semakin tingginya budaya permisif terhadap perilaku yang dinilai melanggar norma agama dan budaya, dilatari pula minimnya pengetahuan tentang pencegahan dan penularan HIV/AIDS,” sebut Mursalin.

Tingginya penemuan kasus HIV dan AIDS, menurutnya juga menunjukkan semakin efektif dan aktifnya program penanggulangan di kabupaten dan kota, sehingga berhasil membongkar kasus yang selama ini tersembunyi.

“Masyarakat semakin terbuka untuk memeriksakan dirinya untuk mengikuti Voluntary Counselling and Testing (VCT) untuk HIV,” ujarnya.

KPA Kalsel mencatat, sebesar 16,7 persen populasi kunci yang terkena HIV dan AIDS adalah Wanita Pekerja Seks (WPS) yang berada di lokasi prostitusi di Kabupaten dan Kota.

Sementara, sebanyak 644 Kasus HIV dan AIDS atau 29,8% adalah laki-laki yang pernah berhubungan seks dengan populasi kunci yang sebelumnya sudah terpapar virus ini.

Alhasil, dari perilaku berisiko para pria ini, sebanyak 479 kasus atau 22,2 persen ditemukan dari Ibu-Ibu Rumah Tangga (Pasangan Risti).

Ironis, ujung akhir dampak dari perilaku berisiko laki-laki berisiko tinggi ini, dilahirkannya anak-anak dengan HIV AIDS dari ibu-ibu positif, jumlahnya sebanyak 2,6 persen.

“Terjangkitnya virus ini dilatari hubungan seksual, persentasenya sebesar 86 persen. Sisanya dilatari penggunaan narkoba jenis suntik, transfusi darah hingga tertular dari ibu ke anak,” beber Mursalin.

BANJARMASIN – Hari ini, 1 Desember ditetapkan sebagai hari AIDS sedunia 1988, diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia ini pun telah sampai dan menyebar di seluruh kabupaten kota di Kalsel. Sejak ditemukan tahun 2002, hingga Juni 2018, Dinas Kesehatan Kalsel dan Komisi Penanggulangan AIDS mencatat sudah ada 2.158 kasus.

Tahun ini saja, ditemukan 55 kasus baru. Temuan ini diprediksi terus bertambah hingga akhir tahun, seiring semakin meningkatnya faktor risiko yang bisa menularkan HIV/AIDS, seperti pergaulan dan seks bebas.

Kasus HIV/AIDS mulai meroket pada 2011, kala itu temuan kasus HIV/AIDS mencapai 117 kasus. Padahal, di tahun sebelumnya hanya puluhan kasus. Contohnya pada 2009 dan 2010, hanya ditemukan 51 dan 72 kasus.

“Setelah itu terus meningkat. Puncaknya pada tahun 2017 tadi. Angkanya mencapai 412 kasus,” terang Sekretaris KPA Kalsel, Mursalin kemarin.

Sementara itu, korban meninggal karena HIV/AIDS, sampai saat ini sudah mencapai 188 orang.

Dari Data KPA Kalsel, lima besar daerah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terbanyak ada di Kota Banjarmasin, yakni sebanyak 757 kasus (35,1 persen), disusul Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 298 kasus (13,8 persen), Kota Banjarbaru sebanyak 257 kasus (11,9 persen) Kabupaten Banjar 121 kasus (5,6 persen) dan Kabupaten Tabalong mencapai 95 kasus (4,4 persen).

Ironisnya, pengidap HIV/AIDS di Kalsel, didominasi anak muda dengan rentang usia 20-29 tahun. Jumlahnya mencapai 822 orang atau 38,1 persen dari usia di bawah 1 tahun hingga lebih dari 60 tahun.

“Selain semakin tingginya budaya permisif terhadap perilaku yang dinilai melanggar norma agama dan budaya, dilatari pula minimnya pengetahuan tentang pencegahan dan penularan HIV/AIDS,” sebut Mursalin.

Tingginya penemuan kasus HIV dan AIDS, menurutnya juga menunjukkan semakin efektif dan aktifnya program penanggulangan di kabupaten dan kota, sehingga berhasil membongkar kasus yang selama ini tersembunyi.

“Masyarakat semakin terbuka untuk memeriksakan dirinya untuk mengikuti Voluntary Counselling and Testing (VCT) untuk HIV,” ujarnya.

KPA Kalsel mencatat, sebesar 16,7 persen populasi kunci yang terkena HIV dan AIDS adalah Wanita Pekerja Seks (WPS) yang berada di lokasi prostitusi di Kabupaten dan Kota.

Sementara, sebanyak 644 Kasus HIV dan AIDS atau 29,8% adalah laki-laki yang pernah berhubungan seks dengan populasi kunci yang sebelumnya sudah terpapar virus ini.

Alhasil, dari perilaku berisiko para pria ini, sebanyak 479 kasus atau 22,2 persen ditemukan dari Ibu-Ibu Rumah Tangga (Pasangan Risti).

Ironis, ujung akhir dampak dari perilaku berisiko laki-laki berisiko tinggi ini, dilahirkannya anak-anak dengan HIV AIDS dari ibu-ibu positif, jumlahnya sebanyak 2,6 persen.

“Terjangkitnya virus ini dilatari hubungan seksual, persentasenya sebesar 86 persen. Sisanya dilatari penggunaan narkoba jenis suntik, transfusi darah hingga tertular dari ibu ke anak,” beber Mursalin.

Most Read

Artikel Terbaru

/