alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Tombol Hapus

EVOLUSI seharusnya sempat menciptakan tombol hapus di otak homo sapiens.

Oleh: Muhammad Syarafuddin, Editor Radar Banjarmasin

Andaikan ada, seperti komputer, saya akan memencetnya untuk menghapus memori tahun 2021. Karena ini tahun yang berat.

Awal tahun, ibu kota provinsi dan belasan kabupaten dilanda banjir terburuk.

Bagi orang Banjarmasin, tinggal di sebuah kota yang memiliki banyak sungai, calap (genangan) adalah hal biasa. Maka tak ada yang menyangka bakal menghadapi bencana seluas dan separah itu.

Begitu banjir surut, muncul bencana susulan: pemilu ulang.

Pilkada untuk memilih gubernur dan wali kota berujung sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK). Dari bilik pencoblosan suara, pertarungan beralih ke meja sidang.

Antara pendukung petahana dan penantang ikut tegang. Yang mencoba netral pun kesulitan.

Baca Juga :  Madam dan Mudik

Melewati pertengahan tahun, seusai kegembiraan berkat dimulainya vaksinasi, wajah wabah yang sebenarnya tersingkap.

Dilaporkan, pada bulan Juni ada 51 kasus kematian pasien covid. Ditambah 285 kasus kematian pada Juli. Agustus, naik dua kali lipat menjadi 645 kasus kematian.

Itu kematian tertinggi dalam sejarah pandemi Kalimantan Selatan.

Ingat, angka 981 kematian itu data resmi. Artinya, entah berapa yang meninggal dunia tanpa terlacak oleh tes usap.

Dan pemerintah tergagap. Menghadapinya dengan berjilid-jilid pembatasan.

PPKM yang tak berkesudahan membuat dunia usaha babak belur. Pernyataan bahwa perekonomian beranjak pulih terdengar seperti klaim kosong.

Tentu ada hal baik untuk disebut. Setelah hampir dua tahun, pelan tapi pasti, sekolah dan kampus kembali dibuka. Akhirnya, anak-anak kembali bertatap muka dengan gurunya di kelas.

Baca Juga :  Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Sayang, di penghujung tahun, masyarakat dipaksa menghadapi kenaikan harga-harga barang kebutuhan.

Harga tabung gas non subsidi resmi dinaikkan. Minyak goreng sudah lebih dulu. Sedangkan cabai rawit kini lebih mahal dari daging sapi. Sementara upah minimum cuma dinaikkan satu persen.

Saya tak bermaksud merangkum semacam kaleidoskop yang muram. Mengajak pembaca untuk menatap tahun depan dengan pesimis.

Hanya khawatir, setelah melewati tahun 2021 dengan selamat, masalah-masalah yang bisa dihindari kembali terulang pada tahun 2022.

Kalau sudah begitu, apa gunanya merancang resolusi tahun baru?

Kalau sudah begini, tombol hapus memang tak diperlukan. Karena kita memang pelupa.
Beberapa tahun mendatang, kita bakal menjumpai masalah-masalah yang sama. Dan kembali berpura-pura terkejut. (*)

EVOLUSI seharusnya sempat menciptakan tombol hapus di otak homo sapiens.

Oleh: Muhammad Syarafuddin, Editor Radar Banjarmasin

Andaikan ada, seperti komputer, saya akan memencetnya untuk menghapus memori tahun 2021. Karena ini tahun yang berat.

Awal tahun, ibu kota provinsi dan belasan kabupaten dilanda banjir terburuk.

Bagi orang Banjarmasin, tinggal di sebuah kota yang memiliki banyak sungai, calap (genangan) adalah hal biasa. Maka tak ada yang menyangka bakal menghadapi bencana seluas dan separah itu.

Begitu banjir surut, muncul bencana susulan: pemilu ulang.

Pilkada untuk memilih gubernur dan wali kota berujung sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK). Dari bilik pencoblosan suara, pertarungan beralih ke meja sidang.

Antara pendukung petahana dan penantang ikut tegang. Yang mencoba netral pun kesulitan.

Baca Juga :  Ibu Kota

Melewati pertengahan tahun, seusai kegembiraan berkat dimulainya vaksinasi, wajah wabah yang sebenarnya tersingkap.

Dilaporkan, pada bulan Juni ada 51 kasus kematian pasien covid. Ditambah 285 kasus kematian pada Juli. Agustus, naik dua kali lipat menjadi 645 kasus kematian.

Itu kematian tertinggi dalam sejarah pandemi Kalimantan Selatan.

Ingat, angka 981 kematian itu data resmi. Artinya, entah berapa yang meninggal dunia tanpa terlacak oleh tes usap.

Dan pemerintah tergagap. Menghadapinya dengan berjilid-jilid pembatasan.

PPKM yang tak berkesudahan membuat dunia usaha babak belur. Pernyataan bahwa perekonomian beranjak pulih terdengar seperti klaim kosong.

Tentu ada hal baik untuk disebut. Setelah hampir dua tahun, pelan tapi pasti, sekolah dan kampus kembali dibuka. Akhirnya, anak-anak kembali bertatap muka dengan gurunya di kelas.

Baca Juga :  Dampak Pelaksanaan Event Women-20 Bagi Kalimantan Selatan

Sayang, di penghujung tahun, masyarakat dipaksa menghadapi kenaikan harga-harga barang kebutuhan.

Harga tabung gas non subsidi resmi dinaikkan. Minyak goreng sudah lebih dulu. Sedangkan cabai rawit kini lebih mahal dari daging sapi. Sementara upah minimum cuma dinaikkan satu persen.

Saya tak bermaksud merangkum semacam kaleidoskop yang muram. Mengajak pembaca untuk menatap tahun depan dengan pesimis.

Hanya khawatir, setelah melewati tahun 2021 dengan selamat, masalah-masalah yang bisa dihindari kembali terulang pada tahun 2022.

Kalau sudah begitu, apa gunanya merancang resolusi tahun baru?

Kalau sudah begini, tombol hapus memang tak diperlukan. Karena kita memang pelupa.
Beberapa tahun mendatang, kita bakal menjumpai masalah-masalah yang sama. Dan kembali berpura-pura terkejut. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/