alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Media Mainstream Tangkal Hoax di Medsos

BANJARMASIN – Jelang pemilu 2019, konten -konten di media sosial menjadi isu paling dominan dalam penyebaran berita palsu (hoax). Mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas dan mempengaruhi kepercayaan masyarakat, hoax dinilai merugikan.

“Informasi hoax itu sangat berbahaya kalau dibiarkan. Bisa memicu kemarahan, kebencian sampai disintegrasi bangsa,” ungkap Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti, di sela-sela pembukaan Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas Kaukus Media dan Pemilu di Banjarmasin, Selasa (16/10).

Maraknya media sosial yang turut menyebarkan berita bohong atau hoax dinilai sudah sangat meresahkan dan perlunya pengawasan, agar dampaknya tidak terlalu luas mempengaruhi masyarakat.

Di sini peranan media mainstream diperlukan untuk meredam dan menangkal informasi hoax tersebut. Media mainstream mempunyai peluang besar untuk menghambat meluasnya berita-berita hoax. Karena media mainstream berbeda dengan medsos. Media mainstream telah melalui verifikasi ketat yang akurat dari redaksi.

“Berbeda dengan medsos, tidak ada siapa pun yang akan memverifikasi, medsos yang dihasilkan tidak sesuai dengan etika jurnalistik,” ujarnya.

Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo mengimbau kepada seluruh wartawan di Kalsel khususnya jelang Pileg dan Pilpres ini dapat menjaga serta berpartisipasi positif. Caranya dengan memberitakan informasi yang benar dan terverifikasi, bukan malah menyebarkan berita-berita hoax atau ujaran kebencian.

“Bermedia sosial lah dengan bermartabat sehingga ujaran kebencian tidak laku lagi,” ujarnya.

Kaukus media saat ini terus berupaya menularkan semangat dalam bermedia bermartabat dan kesantunan bermedia. Tidak hanya di Kalsel saja tapi akan dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia.

“Ini situasi yang tidak kondusif, tapi mari kita bersama-sama menjaga agar tidak menjadi pola yang menasional, karena saya yakin di daerah bisa lebih baik,” katanya.

Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin Toto Fachrudin mengatakan perang melawan hoax sudah dilakukan Radar Banjarmasin sejak tiga tahun lalu. “Radar Banjarmasin yang berintegrasi dengan pusat pemberitaan di Jawa Pos bahkan membuka satu halaman khusus yang mengkanter posting-posting hoax di medsos,” ucap Wakil ketua PWI Kalsel ini.

Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas digelar Kemkominfo RI bersama PWI Kalsel. Narasumber dari praktisi media. Yakni Rektor Universitas Multimedia Nusantara Ninok Leksono, Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo dan Pimred arah.com Nurjaman Mochtar, dengan moderator Dwitri Waluyo, Redaktur Jaringan Pemberitaan Pemerintah. Di kesempatan itu juga sekaligus dilakukan deklarasi Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas. (gmp/ay/ran)

BANJARMASIN – Jelang pemilu 2019, konten -konten di media sosial menjadi isu paling dominan dalam penyebaran berita palsu (hoax). Mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas dan mempengaruhi kepercayaan masyarakat, hoax dinilai merugikan.

“Informasi hoax itu sangat berbahaya kalau dibiarkan. Bisa memicu kemarahan, kebencian sampai disintegrasi bangsa,” ungkap Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti, di sela-sela pembukaan Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas Kaukus Media dan Pemilu di Banjarmasin, Selasa (16/10).

Maraknya media sosial yang turut menyebarkan berita bohong atau hoax dinilai sudah sangat meresahkan dan perlunya pengawasan, agar dampaknya tidak terlalu luas mempengaruhi masyarakat.

Di sini peranan media mainstream diperlukan untuk meredam dan menangkal informasi hoax tersebut. Media mainstream mempunyai peluang besar untuk menghambat meluasnya berita-berita hoax. Karena media mainstream berbeda dengan medsos. Media mainstream telah melalui verifikasi ketat yang akurat dari redaksi.

“Berbeda dengan medsos, tidak ada siapa pun yang akan memverifikasi, medsos yang dihasilkan tidak sesuai dengan etika jurnalistik,” ujarnya.

Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo mengimbau kepada seluruh wartawan di Kalsel khususnya jelang Pileg dan Pilpres ini dapat menjaga serta berpartisipasi positif. Caranya dengan memberitakan informasi yang benar dan terverifikasi, bukan malah menyebarkan berita-berita hoax atau ujaran kebencian.

“Bermedia sosial lah dengan bermartabat sehingga ujaran kebencian tidak laku lagi,” ujarnya.

Kaukus media saat ini terus berupaya menularkan semangat dalam bermedia bermartabat dan kesantunan bermedia. Tidak hanya di Kalsel saja tapi akan dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia.

“Ini situasi yang tidak kondusif, tapi mari kita bersama-sama menjaga agar tidak menjadi pola yang menasional, karena saya yakin di daerah bisa lebih baik,” katanya.

Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin Toto Fachrudin mengatakan perang melawan hoax sudah dilakukan Radar Banjarmasin sejak tiga tahun lalu. “Radar Banjarmasin yang berintegrasi dengan pusat pemberitaan di Jawa Pos bahkan membuka satu halaman khusus yang mengkanter posting-posting hoax di medsos,” ucap Wakil ketua PWI Kalsel ini.

Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas digelar Kemkominfo RI bersama PWI Kalsel. Narasumber dari praktisi media. Yakni Rektor Universitas Multimedia Nusantara Ninok Leksono, Koordinator Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo dan Pimred arah.com Nurjaman Mochtar, dengan moderator Dwitri Waluyo, Redaktur Jaringan Pemberitaan Pemerintah. Di kesempatan itu juga sekaligus dilakukan deklarasi Editor’s Forum Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas. (gmp/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/