alexametrics
23.4 C
Banjarmasin
Tuesday, 16 August 2022

Janji Bangun Jembatan di Pulau Bromo, Studi Kelayakannya Saja Baru Mulai

BANJARMASIN – Hampir tiga tahun berlalu, pembangunan jembatan untuk membuka akses ke Pulau Bromo masih sebatas rencana. Pemko bahkan baru hendak memulai studi kelayakannya.

“Apakah proyek ini layak diteruskan atau tidak? Jawabannya belum ada. Masih harus menunggu studi ini kelar dulu,” kata Plt (Pelaksana Tugas) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banjarmasin, Joko Pitoyo.

Awal pekan tadi, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina rembuk bersama Dinas PUPR dan konsultan pemegang studi kelayakan. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II juga diajak hadir untuk memberi masukan.

Pulau Bromo adalah delta kecil di muara Sungai Martapura. Permukiman di Banjarmasin Selatan itu terpisah dari daratan ibukota. Masyarakat sangat tergantung dengan kapal feri untuk keperluan transportasi.

Belum lama ini, sempat beredar desain jembatan untuk Pulau Bromo. Jembatan gantung yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda motor.

“Itu cuma gambaran awal saja. Tapi desain sebenarnya belum ada. Setelah studi ini menyatakan layak diteruskan, tahapan berikutnya, tahun depan kami bikin DED (Detail Engineering Design). Jadi tahun 2020 baru bisa mulai dibangun,” bebernya.

Banyak hal yang harus diperhitungkan. Salah satunya, apakah alokasi anggaran untuk proyek ini sepadan dengan manfaat yang diperoleh masyarakat dan pemko. “Ya, terutama dari segi ekonomi dan konstruksi, layak atau enggak,” tukasnya.

Masalah utamanya adalah tantangan alam. Daratan Banjarmasin dan Pulau Bromo dipisahkan oleh sungai selebar 180 meter. “Ya, ini memang berat. Karena sungainya terlalu lebar,” aku Joko.

Banyak yang sangsi dengan proyek ini, tapi Joko berharap bisa diteruskan. “Sebab, kalau sedang surut, kapal feri tak bisa masuk. Warga terpaksa menunggu sungai kembali pasang. Bisa berjam-jam, kasihan,” jelasnya.

Selain membuka akses ke daerah terpencil, pemko juga menginginkan agar Pulau Bromo bisa menjadi tujuan wisata baru. “Konsep ekowisata telah disiapkan untuk Pulau Bromo,” tandasnya.

Konsultan diberi waktu selama tiga bulan untuk menuntaskan studi kelayakan tersebut. Pembangunan jembatan ini merupakan janji pasangan Ibnu Sina dan Hermansyah kepada masyarakat Pulau Bromo pada masa kampanye Pilkada 2015 silam.

“Jembatan gantung ini demi mendukung perpindahan orang dan barang dari daerah terpencil tersebut. Dengan sisa masa dua tahun kepemimpinan kami, semoga bisa terwujud,” kata Ibnu beberapa waktu lalu. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Hampir tiga tahun berlalu, pembangunan jembatan untuk membuka akses ke Pulau Bromo masih sebatas rencana. Pemko bahkan baru hendak memulai studi kelayakannya.

“Apakah proyek ini layak diteruskan atau tidak? Jawabannya belum ada. Masih harus menunggu studi ini kelar dulu,” kata Plt (Pelaksana Tugas) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banjarmasin, Joko Pitoyo.

Awal pekan tadi, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina rembuk bersama Dinas PUPR dan konsultan pemegang studi kelayakan. Balai Wilayah Sungai Kalimantan II juga diajak hadir untuk memberi masukan.

Pulau Bromo adalah delta kecil di muara Sungai Martapura. Permukiman di Banjarmasin Selatan itu terpisah dari daratan ibukota. Masyarakat sangat tergantung dengan kapal feri untuk keperluan transportasi.

Belum lama ini, sempat beredar desain jembatan untuk Pulau Bromo. Jembatan gantung yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda motor.

“Itu cuma gambaran awal saja. Tapi desain sebenarnya belum ada. Setelah studi ini menyatakan layak diteruskan, tahapan berikutnya, tahun depan kami bikin DED (Detail Engineering Design). Jadi tahun 2020 baru bisa mulai dibangun,” bebernya.

Banyak hal yang harus diperhitungkan. Salah satunya, apakah alokasi anggaran untuk proyek ini sepadan dengan manfaat yang diperoleh masyarakat dan pemko. “Ya, terutama dari segi ekonomi dan konstruksi, layak atau enggak,” tukasnya.

Masalah utamanya adalah tantangan alam. Daratan Banjarmasin dan Pulau Bromo dipisahkan oleh sungai selebar 180 meter. “Ya, ini memang berat. Karena sungainya terlalu lebar,” aku Joko.

Banyak yang sangsi dengan proyek ini, tapi Joko berharap bisa diteruskan. “Sebab, kalau sedang surut, kapal feri tak bisa masuk. Warga terpaksa menunggu sungai kembali pasang. Bisa berjam-jam, kasihan,” jelasnya.

Selain membuka akses ke daerah terpencil, pemko juga menginginkan agar Pulau Bromo bisa menjadi tujuan wisata baru. “Konsep ekowisata telah disiapkan untuk Pulau Bromo,” tandasnya.

Konsultan diberi waktu selama tiga bulan untuk menuntaskan studi kelayakan tersebut. Pembangunan jembatan ini merupakan janji pasangan Ibnu Sina dan Hermansyah kepada masyarakat Pulau Bromo pada masa kampanye Pilkada 2015 silam.

“Jembatan gantung ini demi mendukung perpindahan orang dan barang dari daerah terpencil tersebut. Dengan sisa masa dua tahun kepemimpinan kami, semoga bisa terwujud,” kata Ibnu beberapa waktu lalu. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/