alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Mantan Dirut PDAM Bandarmasih Bebas, ini yang Akan Dilakukan Setelah Keluar Tahanan

BANJARMASIN – Mantan Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Muslih keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Banjarbaru, kemarin (15/10) pagi. Terpidana kasus penyuapan itu “bebas” lebih awal. Dari masa hukuman yang semestinya dia jalani hingga Februari tahun depan.

Muslih disambut keluarga besar dengan selamatan. Dari rumah ibunya di Jalan Antasan Kecil Timur, Banjarmasin Utara. Masakan seperti kari daging, ayam masak habang, nasi samin dan acar telah menunggu para tamu.

Sejumlah karyawan PDAM datang berkunjung. Tak ketinggalan beberapa pejabat teras pemko. Mengenakan kemeja batik warna terang dan jins biru pudar, Muslih tampak berbeda. Dengan dahi menghitam, brewokan dan uban yang semakin banyak.

“Alhamdulillah, saya memperoleh cuti bersyarat. Jadi bukan bebas murni. Dari vonis 15 bulan, saya telah menjalani masa hukuman selama 13 bulan. Sisanya empat bulan akan saya jalani di luar lapas,” jelasnya.

Bebas bersyarat bisa diperoleh napi yang sudah mendekam di penjara selama 1,5 tahun lebih. Dibawah masa itu, diterapkan istilah cuti bersyarat. “Jadi memang ada aturannya kok di undang-undang,” tambahnya.

Syarat untuk memperolehnya, napi telah berkelakuan baik selama berada di dalam tahanan. Selama masa cuti, ada jaminan napi tidak akan melarikan diri. Apalagi berbuat melanggar hukum.

Muslih mengakui, pengabulan permohonan cuti bersyarat itu menjadi angin segar bagi keluarganya. Mengingat sebagai terpidana tipikor (tindak pidana korupsi), dia tak memperoleh kemewahan seperti napi lain.

Misalkan saja hadiah remisi (pemotongan masa hukuman). “Dari remisi bulan puasa, lebaran, sampai 17 Agustusan, saya tidak kebagian. Napi tipikor memang tidak memiliki hak seperti itu,” bebernya.

Ditanya rencana kedepan, Muslih mengaku ingin menjadi kaum alias pengurus masjid. “Tentu saja kaum yang lebih intelek. Kalau terjun ke dunia politik, tampaknya enggak,” ujarnya tergelak.

Karirnya di PDAM Bandarmasih boleh dikata sudah habis. Namun, dia masih menyimpan hasrat untuk berkecimpung di bidang air minum yang telah membesarkan namanya. Sekalipun di lembaga informal atau non resmi.

“Ya, beberapa kawan di Jakarta mengajak bergabung ke Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia). Tapi lihat saja ke depan bagusnya bagaimana,” imbuhnya.

Apakah mengurusi masjid atau Perpamsi, yang terdekat adalah dia ingin mendinginkan suasana. Terutama bagi keluarganya. Muslih adalah anak pertama dari 12 bersaudara. Ini memang keluarga besar. “Saya ingin cooling down dulu,” tukasnya.

Kabarnya, Muslih tak puas dengan “uang pesangon” yang diberikan PDAM Bandarmasih. Disinggung soal itu, dia enggan berkomentar.

“Saya tidak akan berkomentar terkait hak-hak saya di PDAM. Walaupun ya, saya berharap sekali masalah itu bisa clear,” tutupnya.

Untuk kilas balik, Muslih ditangkap pada 14 September 2017 silam bersama manajer keuangannya, Trensis. Keduanya terbukti menyerahkan uang Rp50 juta kepada Ketua DPRD Banjarmasin, Iwan Rusmali dan anggotanya Andi Effendi. Uang suap itu diminta dewan untuk memuluskan pengesahan raperda (rancangan peraturan daerah) tentang penyertaan modal PDAM senilai Rp50,5 miliar. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Mantan Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Muslih keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Banjarbaru, kemarin (15/10) pagi. Terpidana kasus penyuapan itu “bebas” lebih awal. Dari masa hukuman yang semestinya dia jalani hingga Februari tahun depan.

Muslih disambut keluarga besar dengan selamatan. Dari rumah ibunya di Jalan Antasan Kecil Timur, Banjarmasin Utara. Masakan seperti kari daging, ayam masak habang, nasi samin dan acar telah menunggu para tamu.

Sejumlah karyawan PDAM datang berkunjung. Tak ketinggalan beberapa pejabat teras pemko. Mengenakan kemeja batik warna terang dan jins biru pudar, Muslih tampak berbeda. Dengan dahi menghitam, brewokan dan uban yang semakin banyak.

“Alhamdulillah, saya memperoleh cuti bersyarat. Jadi bukan bebas murni. Dari vonis 15 bulan, saya telah menjalani masa hukuman selama 13 bulan. Sisanya empat bulan akan saya jalani di luar lapas,” jelasnya.

Bebas bersyarat bisa diperoleh napi yang sudah mendekam di penjara selama 1,5 tahun lebih. Dibawah masa itu, diterapkan istilah cuti bersyarat. “Jadi memang ada aturannya kok di undang-undang,” tambahnya.

Syarat untuk memperolehnya, napi telah berkelakuan baik selama berada di dalam tahanan. Selama masa cuti, ada jaminan napi tidak akan melarikan diri. Apalagi berbuat melanggar hukum.

Muslih mengakui, pengabulan permohonan cuti bersyarat itu menjadi angin segar bagi keluarganya. Mengingat sebagai terpidana tipikor (tindak pidana korupsi), dia tak memperoleh kemewahan seperti napi lain.

Misalkan saja hadiah remisi (pemotongan masa hukuman). “Dari remisi bulan puasa, lebaran, sampai 17 Agustusan, saya tidak kebagian. Napi tipikor memang tidak memiliki hak seperti itu,” bebernya.

Ditanya rencana kedepan, Muslih mengaku ingin menjadi kaum alias pengurus masjid. “Tentu saja kaum yang lebih intelek. Kalau terjun ke dunia politik, tampaknya enggak,” ujarnya tergelak.

Karirnya di PDAM Bandarmasih boleh dikata sudah habis. Namun, dia masih menyimpan hasrat untuk berkecimpung di bidang air minum yang telah membesarkan namanya. Sekalipun di lembaga informal atau non resmi.

“Ya, beberapa kawan di Jakarta mengajak bergabung ke Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia). Tapi lihat saja ke depan bagusnya bagaimana,” imbuhnya.

Apakah mengurusi masjid atau Perpamsi, yang terdekat adalah dia ingin mendinginkan suasana. Terutama bagi keluarganya. Muslih adalah anak pertama dari 12 bersaudara. Ini memang keluarga besar. “Saya ingin cooling down dulu,” tukasnya.

Kabarnya, Muslih tak puas dengan “uang pesangon” yang diberikan PDAM Bandarmasih. Disinggung soal itu, dia enggan berkomentar.

“Saya tidak akan berkomentar terkait hak-hak saya di PDAM. Walaupun ya, saya berharap sekali masalah itu bisa clear,” tutupnya.

Untuk kilas balik, Muslih ditangkap pada 14 September 2017 silam bersama manajer keuangannya, Trensis. Keduanya terbukti menyerahkan uang Rp50 juta kepada Ketua DPRD Banjarmasin, Iwan Rusmali dan anggotanya Andi Effendi. Uang suap itu diminta dewan untuk memuluskan pengesahan raperda (rancangan peraturan daerah) tentang penyertaan modal PDAM senilai Rp50,5 miliar. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/