alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Thursday, 18 August 2022

Muskel Harus Lebih Jujur

BANJARMASIN – Ada 39.536 keluarga miskin di Banjarmasin. Data itu sangat dinamis. Untuk penggantian atau pengusulan calon penerima bantuan sosial, digunakan mekanisme muskel (musyawarah kelurahan).

Data itu bisa berubah karena faktor warga miskin yang pindah keluar kota. Taraf ekonominya kian membaik dan dinyatakan mampu. Atau ternyata sudah meninggal dunia.

Ketiga penyebab di atas lumrah terjadi. Yang membuat Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Esya Zain geram adalah utak-atik data yang tidak bertanggungjawab.

“Warga yang terlibat di muskel harus lebih jujur! Ingat, dosanya besar. Kalau mengada-ada mengatakan si anu miskin, padahal nyatanya tidak. Kasihan yang benar-benar miskin nanti malah tidak kebagian bantuan,” ujarnya, kemarin (12/10).

Di lapangan, Dinsos kerap menemui keluarga yang berpura-pura miskin. “Inilah yang saya maksud dengan sikap atau mental yang miskin. Pengin dibantu pemerintah terus,” cecarnya.

Modusnya dengan mengubah kategori kemiskinan. Ada keluarga sangat miskin, keluarga miskin, dan keluarga rentan miskin. Yang disebut pertama merupakan prioritas untuk dibantu.

“Misal, keluarga ini tergolong rentan, tapi sudah mengaku-ngaku sangat miskin. Petugas saya sering kena omelan orang-orang yang minta dibantu padahal tidak layak,” imbuhnya.

Esya menegaskan, jatah bantuan sosial amat terbatas. Daftar tunggunya juga panjang. “Untuk menilai kemiskinan, ada 20 item yang harus diisi. Bukan cuma penghasilan bulanan dan kondisi tempat tinggal. Jadi tidak sederhana,” tukasnya.

Sebagai gambaran, BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) untuk Banjarmasin dijatah 17.264 KPM (Keluarga Penerima Manfaat). Belakangan, jatahnya ditambah menjadi 23.058 KPM.

BPNT berupa uang Rp110 ribu per bulan per KPM. Ditransfer ke e-Wallet untuk dibelanjakan di e-Warong. Berupa komoditi seperti beras dan telor.

Lalu ada bantuan PKH (Program Keluarga Harapan). Besarannya Rp500 ribu per tiga bulan. Jumlah penerimanya ada 15.791 KPM. “PKH ini khusus untuk yang paling miskin. Jika BPNT untuk perbaikan pangan, maka PKH bisa dipakai untuk membiayai sekolah anak,” jelasnya.

Dengan angka penerima 23 ribu dan 15 ribu keluarga miskin, dari total keluarga miskin sebanyak 39 ribu, tampak dengan jelas masih banyak yang belum kebagian bantuan.

“Saya menuntut keluarga miskin untuk mandiri. Cobalah kreatif. Karena bantuan tidak akan ada selamanya. Sewaktu-waktu bisa saja pemerintah memangkas atau bahkan menyetop bantuan,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya, Banjarmasin Selatan menduduki peringkat pertama untuk sebaran kemiskinan. Di Selatan ada 11.417 keluarga miskin. Paling sedikit ada di Banjarmasin Tengah dengan 5.555 keluarga miskin. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – Ada 39.536 keluarga miskin di Banjarmasin. Data itu sangat dinamis. Untuk penggantian atau pengusulan calon penerima bantuan sosial, digunakan mekanisme muskel (musyawarah kelurahan).

Data itu bisa berubah karena faktor warga miskin yang pindah keluar kota. Taraf ekonominya kian membaik dan dinyatakan mampu. Atau ternyata sudah meninggal dunia.

Ketiga penyebab di atas lumrah terjadi. Yang membuat Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Esya Zain geram adalah utak-atik data yang tidak bertanggungjawab.

“Warga yang terlibat di muskel harus lebih jujur! Ingat, dosanya besar. Kalau mengada-ada mengatakan si anu miskin, padahal nyatanya tidak. Kasihan yang benar-benar miskin nanti malah tidak kebagian bantuan,” ujarnya, kemarin (12/10).

Di lapangan, Dinsos kerap menemui keluarga yang berpura-pura miskin. “Inilah yang saya maksud dengan sikap atau mental yang miskin. Pengin dibantu pemerintah terus,” cecarnya.

Modusnya dengan mengubah kategori kemiskinan. Ada keluarga sangat miskin, keluarga miskin, dan keluarga rentan miskin. Yang disebut pertama merupakan prioritas untuk dibantu.

“Misal, keluarga ini tergolong rentan, tapi sudah mengaku-ngaku sangat miskin. Petugas saya sering kena omelan orang-orang yang minta dibantu padahal tidak layak,” imbuhnya.

Esya menegaskan, jatah bantuan sosial amat terbatas. Daftar tunggunya juga panjang. “Untuk menilai kemiskinan, ada 20 item yang harus diisi. Bukan cuma penghasilan bulanan dan kondisi tempat tinggal. Jadi tidak sederhana,” tukasnya.

Sebagai gambaran, BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) untuk Banjarmasin dijatah 17.264 KPM (Keluarga Penerima Manfaat). Belakangan, jatahnya ditambah menjadi 23.058 KPM.

BPNT berupa uang Rp110 ribu per bulan per KPM. Ditransfer ke e-Wallet untuk dibelanjakan di e-Warong. Berupa komoditi seperti beras dan telor.

Lalu ada bantuan PKH (Program Keluarga Harapan). Besarannya Rp500 ribu per tiga bulan. Jumlah penerimanya ada 15.791 KPM. “PKH ini khusus untuk yang paling miskin. Jika BPNT untuk perbaikan pangan, maka PKH bisa dipakai untuk membiayai sekolah anak,” jelasnya.

Dengan angka penerima 23 ribu dan 15 ribu keluarga miskin, dari total keluarga miskin sebanyak 39 ribu, tampak dengan jelas masih banyak yang belum kebagian bantuan.

“Saya menuntut keluarga miskin untuk mandiri. Cobalah kreatif. Karena bantuan tidak akan ada selamanya. Sewaktu-waktu bisa saja pemerintah memangkas atau bahkan menyetop bantuan,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya, Banjarmasin Selatan menduduki peringkat pertama untuk sebaran kemiskinan. Di Selatan ada 11.417 keluarga miskin. Paling sedikit ada di Banjarmasin Tengah dengan 5.555 keluarga miskin. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/