alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 9 August 2022

Krisis Air Bersih Mulai Mengancam, Masyarakat Dihimbau Bersiaga

BANJARMASIN – PDAM Bandarmasih mulai kewalahan menghadapi intrusi air laut. Kemarin (3/10), intrusi air laut ke Sungai Martapura sudah menembus angka 1.750 miligram per liter. Masyarakat diminta bersiaga menghadapi krisis air bersih.

Sesuai aturan Kementerian Kesehatan, kadar garam pada air baku yang aman untuk diolah menjadi air bersih adalah 250 miligram per liter. Sementara tingkat keasinan air sungai di Banjarmasin kini sudah melonjak tujuh kali lipat dari ambang batas.

“Ini siklus tiga tahunan. Terakhir kali kita menghadapi kondisi seperti ini pada musim kemarau 2015,” kata Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Dia menuntut agar perusahaan pelat merah itu menetapkan solusi jangka panjang. “Tapi solusi jangka pendek juga perlu. Kalau masalah yang di depan mata ini tidak diatasi, masyarakat bakal teriak-teriak,” imbuhnya.

Ibnu juga mengimbau warga untuk menghemat air bersih sampai kemarau berakhir. “Berhematlah, jangan mubazir. Buat juga penampungan seperti tandon untuk menyiapkan cadangan air,” pintanya.

Peringatan ini sebenarnya sudah muncul sejak beberapa hari yang lewat. Intake Sungai Bilu sebagai pemasok utama air baku dari Sungai Martapura sudah berkali-kali dimatikan.

Pada Selasa (2/10) dini hari, kadar garam sempat menyentuh 1.230 miligram per liter. Paginya turun menjadi 866 miligram per liter. Mendekati siang kembali menurun ke angka 567 miligram per liter. Lantaran hujan tak kunjung turun, kadar garam kembali melonjak.

Namun, Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Yudha Ahmadi menegaskan, Intake Sungai Bilu masih beroperasi. Air baku dari Sungai Bilu dicampur dengan air baku dari Sungai Tabuk yang lebih tawar.

“Kadar garamnya coba kami tekan dengan pencampuran air baku. Jadi IPA (Instalasi Pengolahan Air) I Ahmad Yani masih bisa beroperasi. Tentu saja ada penurunan daya produksi,” ujarnya.

Sungai Tabuk selama ini memasok IPA II Pramuka. Karena harus berbagi dengan IPA I, otomatis daya produksi PDAM berkurang. Pada hari-hari normal, IPA I mampu mengolah 1.800 liter air per detik. Penurunannya berkisar antara 20 sampai 30 persen.

“Karena produksi dan distribusinya menurun, saya akui, pada jam-jam tertentu bisa saja terjadi keran mati. Apalagi bagi pelanggan di daerah-daerah terujung,” jelasnya.

Ditanya solusi jangka panjang, pada tahun 2019, PDAM akan mendapat pasokan air baku tambahan dari SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Banjarbakula di Karang Intan, Kabupaten Banjar. “Mudah-mudahan tahun depan bisa gol,” pungkas Yudha. (fud/at/nur)

BANJARMASIN – PDAM Bandarmasih mulai kewalahan menghadapi intrusi air laut. Kemarin (3/10), intrusi air laut ke Sungai Martapura sudah menembus angka 1.750 miligram per liter. Masyarakat diminta bersiaga menghadapi krisis air bersih.

Sesuai aturan Kementerian Kesehatan, kadar garam pada air baku yang aman untuk diolah menjadi air bersih adalah 250 miligram per liter. Sementara tingkat keasinan air sungai di Banjarmasin kini sudah melonjak tujuh kali lipat dari ambang batas.

“Ini siklus tiga tahunan. Terakhir kali kita menghadapi kondisi seperti ini pada musim kemarau 2015,” kata Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Dia menuntut agar perusahaan pelat merah itu menetapkan solusi jangka panjang. “Tapi solusi jangka pendek juga perlu. Kalau masalah yang di depan mata ini tidak diatasi, masyarakat bakal teriak-teriak,” imbuhnya.

Ibnu juga mengimbau warga untuk menghemat air bersih sampai kemarau berakhir. “Berhematlah, jangan mubazir. Buat juga penampungan seperti tandon untuk menyiapkan cadangan air,” pintanya.

Peringatan ini sebenarnya sudah muncul sejak beberapa hari yang lewat. Intake Sungai Bilu sebagai pemasok utama air baku dari Sungai Martapura sudah berkali-kali dimatikan.

Pada Selasa (2/10) dini hari, kadar garam sempat menyentuh 1.230 miligram per liter. Paginya turun menjadi 866 miligram per liter. Mendekati siang kembali menurun ke angka 567 miligram per liter. Lantaran hujan tak kunjung turun, kadar garam kembali melonjak.

Namun, Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Yudha Ahmadi menegaskan, Intake Sungai Bilu masih beroperasi. Air baku dari Sungai Bilu dicampur dengan air baku dari Sungai Tabuk yang lebih tawar.

“Kadar garamnya coba kami tekan dengan pencampuran air baku. Jadi IPA (Instalasi Pengolahan Air) I Ahmad Yani masih bisa beroperasi. Tentu saja ada penurunan daya produksi,” ujarnya.

Sungai Tabuk selama ini memasok IPA II Pramuka. Karena harus berbagi dengan IPA I, otomatis daya produksi PDAM berkurang. Pada hari-hari normal, IPA I mampu mengolah 1.800 liter air per detik. Penurunannya berkisar antara 20 sampai 30 persen.

“Karena produksi dan distribusinya menurun, saya akui, pada jam-jam tertentu bisa saja terjadi keran mati. Apalagi bagi pelanggan di daerah-daerah terujung,” jelasnya.

Ditanya solusi jangka panjang, pada tahun 2019, PDAM akan mendapat pasokan air baku tambahan dari SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Banjarbakula di Karang Intan, Kabupaten Banjar. “Mudah-mudahan tahun depan bisa gol,” pungkas Yudha. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/