alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 14 August 2022

Klarifikasi Wali Kota Atas Kasus Meme, Ibnu: Bagi Saya Keterlaluan

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengaku punya alasan kuat untuk melaporkan dua netizen atas nama Algi dan Andre. Dia menilai unggahan mereka di Facebook sudah melampaui batas.

SEPULANG dari kunjungan ke Jepang, kemarin (1/10) di Balai Kota, Ibnu memberikan klarifikasi. Terkait pemberitaan bahwa dirinya telah melaporkan dua pengurus Yayasan Al-AJYB (Anak Jalanan yang Baik) ke polisi. Atas meme dan status yang mereka unggah ke Facebook.

“Bagi saya sudah keterlaluan. Ini juga bukan soal berlebihan atau tidak. Ini pembelajaran dalam menggunakan media sosial,” tegasnya.

Diceritakan Ibnu, ketika unggahan itu pertama kali muncul, dia sudah mengutus orang dari Dinas Sosial untuk mendekati AJYB. “Tapi Dinsos dikatain macam-macam. Jawabannya tidak mengenakkan. Dan malah di-upload terus, sampai berulang-ulang,” sesalnya.

Pada tanggal 3 September, lewat akun Algi Albanjari, diunggah meme yang menggunakan foto Ibnu disertai tulisan berbunyi “mencari pemimpin yang hilang”.

Disusul unggahan meme kedua berbunyi “lowongan kerja menjadi bos rakyat” pada tanggal 12 September, masih dari akun yang sama. “Sampai-sampai saya dituduh korup,” keluh Ibnu.

Satu hari berselang, Ibnu kemudian melaporkan Algi Rifani, 23 tahun dan Andre Nur Sadiq, 23 tahun ke Sat Reskrim Polresta Banjarmasin. Atas dugaan terjadinya tindak pencemaran nama baik dengan dasar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Jika Algi dilaporkan atas karya memenya, Andre dilaporkan atas sebuah status di akun pribadi Facebook. Keduanya kemudian memenuhi panggilan polisi pada Jumat (28/9) siang. Selama tiga jam, keduanya diperiksa oleh penyidik.

Apa yang Ibnu maksud dengan pelaporan sebagai pembelajaran? “Medsos adalah ruang publik. Anda tidak boleh melemparkan hoax, fitnah, dan hate speech. Siapapun yang melakukannya harus ditegur,” jawabnya.

Dia juga menilai media telah bersikap tidak adil kepada dirinya. Terutama terkait penggunaan judul dan bahasa berita. “Tolong jangan dihadap-hadapkan antara wali kota dan anjal. Faktanya, Algi itu mahasiswa yang kebetulan membina anjal. Saya juga berharap masalah ini bisa diredam, tidak malah jadi ribut begini,” ujarnya.

Lantas, apakah kasus ini akan terus dilanjutkan? Ibnu tidak memberi jawaban terang. “Kalau mau mediasi, kapan saja oke. Tapi saya ingin tegaskan, siapapun yang menggunakan medsos harus lebih berhati-hati,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya, pemicu unggahan berseri itu sebenarnya rasa kekecewaan. Pada Pilkada 2014, AJYB (kala itu masih menggunakan nama Syiar Jalanan) ikut menyokong kampanye pasangan Ibnu Sina dan Hermansyah.

Tiga tahun berlalu, AJYB merasa termakan janji kosong. Mereka menilai pengamen dan loper koran tetap diuber-uber Satpol PP dan keluar-masuk rumah singgah Dinsos. Tak ada yang berubah atas nasib anjal. (fud/at/nur)

 

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengaku punya alasan kuat untuk melaporkan dua netizen atas nama Algi dan Andre. Dia menilai unggahan mereka di Facebook sudah melampaui batas.

SEPULANG dari kunjungan ke Jepang, kemarin (1/10) di Balai Kota, Ibnu memberikan klarifikasi. Terkait pemberitaan bahwa dirinya telah melaporkan dua pengurus Yayasan Al-AJYB (Anak Jalanan yang Baik) ke polisi. Atas meme dan status yang mereka unggah ke Facebook.

“Bagi saya sudah keterlaluan. Ini juga bukan soal berlebihan atau tidak. Ini pembelajaran dalam menggunakan media sosial,” tegasnya.

Diceritakan Ibnu, ketika unggahan itu pertama kali muncul, dia sudah mengutus orang dari Dinas Sosial untuk mendekati AJYB. “Tapi Dinsos dikatain macam-macam. Jawabannya tidak mengenakkan. Dan malah di-upload terus, sampai berulang-ulang,” sesalnya.

Pada tanggal 3 September, lewat akun Algi Albanjari, diunggah meme yang menggunakan foto Ibnu disertai tulisan berbunyi “mencari pemimpin yang hilang”.

Disusul unggahan meme kedua berbunyi “lowongan kerja menjadi bos rakyat” pada tanggal 12 September, masih dari akun yang sama. “Sampai-sampai saya dituduh korup,” keluh Ibnu.

Satu hari berselang, Ibnu kemudian melaporkan Algi Rifani, 23 tahun dan Andre Nur Sadiq, 23 tahun ke Sat Reskrim Polresta Banjarmasin. Atas dugaan terjadinya tindak pencemaran nama baik dengan dasar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Jika Algi dilaporkan atas karya memenya, Andre dilaporkan atas sebuah status di akun pribadi Facebook. Keduanya kemudian memenuhi panggilan polisi pada Jumat (28/9) siang. Selama tiga jam, keduanya diperiksa oleh penyidik.

Apa yang Ibnu maksud dengan pelaporan sebagai pembelajaran? “Medsos adalah ruang publik. Anda tidak boleh melemparkan hoax, fitnah, dan hate speech. Siapapun yang melakukannya harus ditegur,” jawabnya.

Dia juga menilai media telah bersikap tidak adil kepada dirinya. Terutama terkait penggunaan judul dan bahasa berita. “Tolong jangan dihadap-hadapkan antara wali kota dan anjal. Faktanya, Algi itu mahasiswa yang kebetulan membina anjal. Saya juga berharap masalah ini bisa diredam, tidak malah jadi ribut begini,” ujarnya.

Lantas, apakah kasus ini akan terus dilanjutkan? Ibnu tidak memberi jawaban terang. “Kalau mau mediasi, kapan saja oke. Tapi saya ingin tegaskan, siapapun yang menggunakan medsos harus lebih berhati-hati,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya, pemicu unggahan berseri itu sebenarnya rasa kekecewaan. Pada Pilkada 2014, AJYB (kala itu masih menggunakan nama Syiar Jalanan) ikut menyokong kampanye pasangan Ibnu Sina dan Hermansyah.

Tiga tahun berlalu, AJYB merasa termakan janji kosong. Mereka menilai pengamen dan loper koran tetap diuber-uber Satpol PP dan keluar-masuk rumah singgah Dinsos. Tak ada yang berubah atas nasib anjal. (fud/at/nur)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/