alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Kabut Asap di Banjarbaru, DLH Ambil Sampel Udara

BANJARBARU – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarbaru, Jumat (21/9) mulai memasang passive sampler: sebuah alat untuk mengambil sampel udara. Perangkat tersebut dipasang di empat titik berbeda di kawasan Kota Banjarbaru.

Sampel udara sendiri diambil untuk mengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dengan begitu, bakal diketahui seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara di Banjarbaru akibat kabut asap yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru, Mila mengatakan, empat area yang dipasangi passive sampler ialah Lingkungan Industri Kecil Liang Anggang (LIK). Kemudian kawasan Perumahan Kehutanan, Jalan Binawana, Sungai Besar. Lalu, Panti Sosial Budi Mulia, Jalan A Yani Km 27.5, Landasan Ulin. Serta, Balai Kota, Jalan Panglima Batur. “Untuk mengambil sampel secara maksimal, alat bakal dipasang selama 14 hari,” katanya.

Dia menambahkan, usai sampel didapatkan. Alat kemudian dikirim ke Kementerian LHK untuk diuji kualitas udaranya. “Hasil pengujian kemungkinan akan keluar satu bulan kemudian. Yaitu berupa indeks kualitas udara, dengan angka-angka sesuai kondisi udara saat sampelnya diambil,” tambahnya.

Dijelaskannya, angka level udara dimulai dari 0 hingga 500. Jika, indeks 0-50 maka udara dianggap baik. Lalu, 51-100 berarti sedang. Kemudian, 101-199 tidak sehat. “Apabila indeksnya 200-299, maka kualitas udara sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya,” jelasnya.

Meski saat ini belum diketahui berapa indeks kualitas udara di Banjarbaru, namun Dinas Kesehatan Banjarbaru telah mencatat bahwa jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mulai mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kasus sendiri meningkat sejak bulan Juli, dengan ditemukannya 3.805 kasus. Di mana pada bulan sebelumnya hanya 2.867 penderita. Kemudian, pada bulan Agustus kasusnya kembali bertambah dengan total 3.979 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, meningkatnya penderita kasus ISPA dalam dua bulan terakhir kemungkinan besar disebabkan oleh kabut asap. “Peningkatan kasus terjadi setiap tahun. Ketika kebakaran hutan dan lahan marak,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya kasus terbanyak ditemukan di daerah yang seringkali diselimuti kabut asap. Seperti, Kecamatan Cempaka, Guntung Payung, Guntung Manggis dan Landasan Ulin. “Di sana ‘kan banyak lahan yang masih kosong dan terbakar,” pungkasnya. (ris/al/bin)

BANJARBARU – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarbaru, Jumat (21/9) mulai memasang passive sampler: sebuah alat untuk mengambil sampel udara. Perangkat tersebut dipasang di empat titik berbeda di kawasan Kota Banjarbaru.

Sampel udara sendiri diambil untuk mengukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dengan begitu, bakal diketahui seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara di Banjarbaru akibat kabut asap yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru, Mila mengatakan, empat area yang dipasangi passive sampler ialah Lingkungan Industri Kecil Liang Anggang (LIK). Kemudian kawasan Perumahan Kehutanan, Jalan Binawana, Sungai Besar. Lalu, Panti Sosial Budi Mulia, Jalan A Yani Km 27.5, Landasan Ulin. Serta, Balai Kota, Jalan Panglima Batur. “Untuk mengambil sampel secara maksimal, alat bakal dipasang selama 14 hari,” katanya.

Dia menambahkan, usai sampel didapatkan. Alat kemudian dikirim ke Kementerian LHK untuk diuji kualitas udaranya. “Hasil pengujian kemungkinan akan keluar satu bulan kemudian. Yaitu berupa indeks kualitas udara, dengan angka-angka sesuai kondisi udara saat sampelnya diambil,” tambahnya.

Dijelaskannya, angka level udara dimulai dari 0 hingga 500. Jika, indeks 0-50 maka udara dianggap baik. Lalu, 51-100 berarti sedang. Kemudian, 101-199 tidak sehat. “Apabila indeksnya 200-299, maka kualitas udara sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya,” jelasnya.

Meski saat ini belum diketahui berapa indeks kualitas udara di Banjarbaru, namun Dinas Kesehatan Banjarbaru telah mencatat bahwa jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mulai mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kasus sendiri meningkat sejak bulan Juli, dengan ditemukannya 3.805 kasus. Di mana pada bulan sebelumnya hanya 2.867 penderita. Kemudian, pada bulan Agustus kasusnya kembali bertambah dengan total 3.979 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, meningkatnya penderita kasus ISPA dalam dua bulan terakhir kemungkinan besar disebabkan oleh kabut asap. “Peningkatan kasus terjadi setiap tahun. Ketika kebakaran hutan dan lahan marak,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya kasus terbanyak ditemukan di daerah yang seringkali diselimuti kabut asap. Seperti, Kecamatan Cempaka, Guntung Payung, Guntung Manggis dan Landasan Ulin. “Di sana ‘kan banyak lahan yang masih kosong dan terbakar,” pungkasnya. (ris/al/bin)

Most Read

Artikel Terbaru

/