alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa dimanfaatkan kembali untuk membuatnya, sebagaimana kantor milik Perkumpulkan Pusaka Tabalong.<?spaV

Ibnu Dwi Wahyudi, Tabalong

Di Kabupaten Tabalong ada perkumpulan remaja bernama Putra Putri Saraba Kawa (Pusaka). Kiprahnya sangat dikenal di tengah masyarakat, karena berbagai even besar biasa dikerjakannya. Salah satunya Tabalong Etnic Festival (TEF) dan Ambin Baca.

Ternyata, dibalik semua itu mereka pun memiliki kantor yang unik, dan tidak biasa sebagaimana kantor lainnya. Pasalnya sangat ramah lingkungan, lantaran bahan baku berasal dari barang bekas dan listriknya memanfaatkan pembangkit tenaga listrik surya (PLTS).

Kantor itu berada tempat berada di areal Taman Kambang Tanjung, di Jalan Tanjung Selatan, Kelurahan Pembataan, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong.
$>Saat wartawan koran ini mengunjunginya, Jumat (14/9) tadi, tampak bangunan kayu itu berbahan baku bekas pakai, pasalnya tidak ada satu bagian pun yang dicat rapi. Semua berasal dari kayu bekas, tapi tetap kokoh.

Dinding dari kayu-kayu potongan dan bertambal-tambal. Sedangkan, tiang bangunan banyak sambungan. Tapi, semua tetap kokoh. Meski demikian, bangunan itu berbentuk rumah Banjar membuat kesan kuat terikat budaya Banua.

Saat dikunjungi, Ketua Perkumpulan Pusaka, Firman Yusi ada di sana. Banyak cerita tentang rumah itu yang dibeberkannya, sambil bersantai adem di bagian muka kantor.

“Bangunan ini dibangun sejak tahun 2017, semuanya menggunakan barang bekas,” jelasnya. Semua material itu diperoleh perkumpulan dari bongkaran pasar milik Pemkab Tabalong yang telah lama tak termanfaatkan.

Ia mengatakan, kayu bekas itu sebelumnya tampak terbengkalai di sebelah kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tabalong, bahkan menjadi sarang ular. Sehingga, baginya pemanfaatannya sangat membantu. Terlebih guna bangunan kantor Pusaka.

Tapi, meminta kayu bekas bukan dilakukan seenaknya tanpa mengindahkan aturan hukum. Bagian aset pemerintah menghibahkannya. Begitu pula dengan lahan lokasi bangunan berada, dipinjam pakai. “Lima tahun masanya, dan bisa diperpanjang,” ujarnya.

Dengan mengerahkan seluruh relawan yang dimiliki, berikut ada dana Rp50 juta dari hibah perusahaan, akhirnya bangunan tersebut berdiri tegak. Uang yang ada dimanfaatkan membeli atap dan sedikit kekurangan bahan.

Agar tetap terkesan dari barang bekas, seluruh bagian kantor tidak ada dicat. Selain itu listriknya sebagian juga telah memanfaatkan PLTS. Rangkaian listrik ramah lingkungan itu dirakit oleh rekan Firman sesama alumni Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Mochamad Khairul yang kini berdomisili di Indramayu, Jawa Barat. Meskipun untuk peralatan listrik berdaya besar masih mengandalkan PLN.

Di halaman ada green house atau rumah tanaman pekarangan. Mengapa dibuat demikian? Terkait hal itu, Kumpulan Pusaka menginginkan kantornya menjadi Sosial entrepreneur atau Pusat Pelatihan Lingkungan bernama Eco Literacy Camp.

“Ke depannya, kami juga akan mengembangkan rumah kompos dan memanfaatkan air hujan supaya tidak mengurangi air tanah,” jelas Firman.

Kini kantor itu pun dimanfaatkan ratusan relawan Pusaka Tabalong untuk menjalankan perannya membangun daerah, membantu pemerintah. (ibn)

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa dimanfaatkan kembali untuk membuatnya, sebagaimana kantor milik Perkumpulkan Pusaka Tabalong.<?spaV

Ibnu Dwi Wahyudi, Tabalong

Di Kabupaten Tabalong ada perkumpulan remaja bernama Putra Putri Saraba Kawa (Pusaka). Kiprahnya sangat dikenal di tengah masyarakat, karena berbagai even besar biasa dikerjakannya. Salah satunya Tabalong Etnic Festival (TEF) dan Ambin Baca.

Ternyata, dibalik semua itu mereka pun memiliki kantor yang unik, dan tidak biasa sebagaimana kantor lainnya. Pasalnya sangat ramah lingkungan, lantaran bahan baku berasal dari barang bekas dan listriknya memanfaatkan pembangkit tenaga listrik surya (PLTS).

Kantor itu berada tempat berada di areal Taman Kambang Tanjung, di Jalan Tanjung Selatan, Kelurahan Pembataan, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong.
$>Saat wartawan koran ini mengunjunginya, Jumat (14/9) tadi, tampak bangunan kayu itu berbahan baku bekas pakai, pasalnya tidak ada satu bagian pun yang dicat rapi. Semua berasal dari kayu bekas, tapi tetap kokoh.

Dinding dari kayu-kayu potongan dan bertambal-tambal. Sedangkan, tiang bangunan banyak sambungan. Tapi, semua tetap kokoh. Meski demikian, bangunan itu berbentuk rumah Banjar membuat kesan kuat terikat budaya Banua.

Saat dikunjungi, Ketua Perkumpulan Pusaka, Firman Yusi ada di sana. Banyak cerita tentang rumah itu yang dibeberkannya, sambil bersantai adem di bagian muka kantor.

“Bangunan ini dibangun sejak tahun 2017, semuanya menggunakan barang bekas,” jelasnya. Semua material itu diperoleh perkumpulan dari bongkaran pasar milik Pemkab Tabalong yang telah lama tak termanfaatkan.

Ia mengatakan, kayu bekas itu sebelumnya tampak terbengkalai di sebelah kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tabalong, bahkan menjadi sarang ular. Sehingga, baginya pemanfaatannya sangat membantu. Terlebih guna bangunan kantor Pusaka.

Tapi, meminta kayu bekas bukan dilakukan seenaknya tanpa mengindahkan aturan hukum. Bagian aset pemerintah menghibahkannya. Begitu pula dengan lahan lokasi bangunan berada, dipinjam pakai. “Lima tahun masanya, dan bisa diperpanjang,” ujarnya.

Dengan mengerahkan seluruh relawan yang dimiliki, berikut ada dana Rp50 juta dari hibah perusahaan, akhirnya bangunan tersebut berdiri tegak. Uang yang ada dimanfaatkan membeli atap dan sedikit kekurangan bahan.

Agar tetap terkesan dari barang bekas, seluruh bagian kantor tidak ada dicat. Selain itu listriknya sebagian juga telah memanfaatkan PLTS. Rangkaian listrik ramah lingkungan itu dirakit oleh rekan Firman sesama alumni Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Mochamad Khairul yang kini berdomisili di Indramayu, Jawa Barat. Meskipun untuk peralatan listrik berdaya besar masih mengandalkan PLN.

Di halaman ada green house atau rumah tanaman pekarangan. Mengapa dibuat demikian? Terkait hal itu, Kumpulan Pusaka menginginkan kantornya menjadi Sosial entrepreneur atau Pusat Pelatihan Lingkungan bernama Eco Literacy Camp.

“Ke depannya, kami juga akan mengembangkan rumah kompos dan memanfaatkan air hujan supaya tidak mengurangi air tanah,” jelas Firman.

Kini kantor itu pun dimanfaatkan ratusan relawan Pusaka Tabalong untuk menjalankan perannya membangun daerah, membantu pemerintah. (ibn)

Most Read

Artikel Terbaru

/