alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Honorer Bergejolak, Pengabdian Tak Dianggap

Kuota sekaligus tata cara pendaftaran CPNS 2018 telah diumumkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) kemarin. Di balik antusias para pelamar, terselip kesedihan para tenaga honorer di sejumlah daerah di Banua. Mereka kecewa karena tidak bisa mendaftar CPNS.

Seperti yang dialami Helda Arisanti, guru honorer di SMP 3 Bakumpai. Santi tercatat sebagai guru honor daerah yang gajinya berasal dari APBD Kabupaten Batola. Dia mengaku telah mengajar selama 11 tahun di SMPN 3 Bakumpai. “Saya berharap ke depannya pemerintah lebih memperhatikan kami yang sudah menghonor puluhan tahun, dan belum juga menjadi PNS. Serta tidak bisa mengikuti CPNS karena terkendala umur,” ujarnya yang kini telah berusia 39 tahun.

Perjuangan Santi sebagai honorer sendiri telah diuji puluhan tahun. Untuk mencapai SMPN 3 Bakumpai, dia mengendarai sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 30 km. “Jalan yang bagus atau berbatu hanya sekitar 20 km, dan 10 km masih jalan tanah,” ujarnya.

Jalan yang tanah, masih bisa mereka lintasi apabila pada musim kering seperti ini. Tetapi pada musim hujan mereka harus menyewa taksi kelotok untuk menuju sekolah. “Kami pernah jalan kaki sekitar 2 km saat hujan. Jalan becek dan motor tidak bisa dikendarai sama sekali,” ujarnya yang kerap sampai di sekolah dengan baju kotor.

Jika dihitung-hitung, upah Santi tidak setimpal dengan pengeluaran selama mengajar. Karena itu, untuk menambah penghasilan dia membuat kue yang dititipkan di warung-warung yang ada di Batola. “Pulang sekolah langsung membuat kue, dan pagi hari, dini hari sekali mengantar kue ke warung-warung. Dan berangkat ke sekolah, setelah selesai mengurus keperluan anak,” ujar ibu tiga anak ini.

Kisah sedih dari guru honorer juga datang dari pesisir Kalsel. Para tenaga pengajar ini pontang-panting untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kadang harus gali lobang tutup lubang.

Sapto Nugroho, sarjana lulusan FKIP Bahasa Inggris Uniska Banjarmasin telah menjadi guru honorer selama belasan tahun. Jam kerjanya sama dengan guru PNS. Datang pagi pulang siang. Tapi gaji mereka tidak memadai. “Tidak cukup. Beruntung kadang ada keluarga yang bantu. Mau buka Bimbel di sini sepi peminatnya,” ujarnya yang tak memahami mengapa pemerintah harus membatasi usia harus di bawah 35 tahun. “Ini diskriminatif,” ujar pria yang usianya sekarang genap 35 tahun sekian bulan.

Dia mengatakan faktanya, sekolah sekarang masih kekurangan guru. Maka sebutnya, jika ada pengangkatan PNS sudah seyogianya yang diangkat adalah yang sudah berpengalaman.

“Kan begitu. Sudah pengalaman belasan dan puluhan tahun di sekolah, mereka mestinya yang prioritas. Ini kebalik,” tambahnya yang sudah memiliki istri dan anak itu. (mr-152/zal/ay/ran)

Kuota sekaligus tata cara pendaftaran CPNS 2018 telah diumumkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) kemarin. Di balik antusias para pelamar, terselip kesedihan para tenaga honorer di sejumlah daerah di Banua. Mereka kecewa karena tidak bisa mendaftar CPNS.

Seperti yang dialami Helda Arisanti, guru honorer di SMP 3 Bakumpai. Santi tercatat sebagai guru honor daerah yang gajinya berasal dari APBD Kabupaten Batola. Dia mengaku telah mengajar selama 11 tahun di SMPN 3 Bakumpai. “Saya berharap ke depannya pemerintah lebih memperhatikan kami yang sudah menghonor puluhan tahun, dan belum juga menjadi PNS. Serta tidak bisa mengikuti CPNS karena terkendala umur,” ujarnya yang kini telah berusia 39 tahun.

Perjuangan Santi sebagai honorer sendiri telah diuji puluhan tahun. Untuk mencapai SMPN 3 Bakumpai, dia mengendarai sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 30 km. “Jalan yang bagus atau berbatu hanya sekitar 20 km, dan 10 km masih jalan tanah,” ujarnya.

Jalan yang tanah, masih bisa mereka lintasi apabila pada musim kering seperti ini. Tetapi pada musim hujan mereka harus menyewa taksi kelotok untuk menuju sekolah. “Kami pernah jalan kaki sekitar 2 km saat hujan. Jalan becek dan motor tidak bisa dikendarai sama sekali,” ujarnya yang kerap sampai di sekolah dengan baju kotor.

Jika dihitung-hitung, upah Santi tidak setimpal dengan pengeluaran selama mengajar. Karena itu, untuk menambah penghasilan dia membuat kue yang dititipkan di warung-warung yang ada di Batola. “Pulang sekolah langsung membuat kue, dan pagi hari, dini hari sekali mengantar kue ke warung-warung. Dan berangkat ke sekolah, setelah selesai mengurus keperluan anak,” ujar ibu tiga anak ini.

Kisah sedih dari guru honorer juga datang dari pesisir Kalsel. Para tenaga pengajar ini pontang-panting untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kadang harus gali lobang tutup lubang.

Sapto Nugroho, sarjana lulusan FKIP Bahasa Inggris Uniska Banjarmasin telah menjadi guru honorer selama belasan tahun. Jam kerjanya sama dengan guru PNS. Datang pagi pulang siang. Tapi gaji mereka tidak memadai. “Tidak cukup. Beruntung kadang ada keluarga yang bantu. Mau buka Bimbel di sini sepi peminatnya,” ujarnya yang tak memahami mengapa pemerintah harus membatasi usia harus di bawah 35 tahun. “Ini diskriminatif,” ujar pria yang usianya sekarang genap 35 tahun sekian bulan.

Dia mengatakan faktanya, sekolah sekarang masih kekurangan guru. Maka sebutnya, jika ada pengangkatan PNS sudah seyogianya yang diangkat adalah yang sudah berpengalaman.

“Kan begitu. Sudah pengalaman belasan dan puluhan tahun di sekolah, mereka mestinya yang prioritas. Ini kebalik,” tambahnya yang sudah memiliki istri dan anak itu. (mr-152/zal/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/