alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Ibnu Terperangah, di Pusat Kota Masih Ada Pemukiman Seperti ini

WALI Kota Banjarmasin, Ibnu Sina terperangah ketika mengunjungi rumah milik Slamet di Gang Kembang Jalan Haryono MT, kemarin (19/9) pagi.

Slamet, 69 tahun, adalah penerima bantuan bedah rumah dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Bukan rumahnya, melainkan akses menuju rumah itulah yang membuat Ibnu kaget.

Disebut gang pun tak layak, apalagi jika disebut jalan. Untuk mencapai rumah Slamet, harus berjalan kaki melewati lorong yang gelap dan lembab. Lebarnya cuma satu meter. Terhimpit oleh tembok dan WC umum.

Sementara rumah Slamet berada di ujung lorong yang buntu. “Saya tidak terbayang. Dalam kondisi darurat, mereka mau lari ke mana?” kata Ibnu.

Makin miris karena jarak antara rumah Slamet dan Balai Kota tak sampai satu kilometer. “Jujur, saya benar-benar kaget. Di pusat kota yang tak jauh dari Balai Kota masih ada permukiman seperti ini,” imbuhnya.

Ibnu berjanji akan meminta Kelurahan Kertak Baru Ilir dan Dinas Permukiman dan Perumahan untuk berkoordinasi. Kawasan itu berhak untuk dibantu. “Apalagi sekarang sudah ada program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh),” tukasnya.

Lalu, siapa sebenarnya Slamet? Lelaki ini lahir tahun 1949. Semasa badannya masih sehat, Slamet bekerja sebagai juru parkir. Sekitar awal tahun 2000-an, daya penglihatannya rusak karena katarak. Kini dia praktis buta total.

Sedangkan istrinya, Zahrah, juga ikut sakit-sakitan. Selama 10 bulan terakhir, kaki perempuan berusia 60 tahun itu tak lagi bisa digerakkan.

Untuk keluar dan masuk rumah berukuran 3×8 meter itu, Slamet mengandalkan bantuan putrinya, Sari Dewi, 30 tahun. Tanpa dituntun, mustahil dia berhasil melewati lorong tersebut.

“Rumah ini sudah lapuk. Hampir roboh. Saya sendiri yang memperbaikinya, berkali-kali. Tetapi sejak mata saya rusak, saya pasrahkan saja,” cerita Slamet.

Dia kemudian meraba-raba lantai dan tembok rumahnya yang baru. Slamet sangat penasaran ingin melihatnya secara langsung. Berkali-kali dia mengusap mata di balik kacamata hitamnya.

Prihatin, warga kemudian mengusulkan permohonan bantuan bedah rumah. Petugas Dinas Sosial sudah bolak-balik berkunjung. Hingga Baznas menjanjikan pertolongan.

Dewi bersyukur keluarganya dibantu bedah rumah. Mengingat selama ini sedikit sekali bantuan yang keluarganya terima. “Kami cuma mendapat raskin (beras miskin). Ada kartu BPJS, tapi cuma untuk saya dan ibu. Bapak belum dapat,” jelasnya.

Dari penuturan tetangga, keluarga Slamet dulu memiliki tanah warisan yang cukup luas. Sepetak demi sepetak dijual. Rumah demi rumah dibangun, hingga hunian Slamet terjebak sendirian di tengah. Lorong itu juga dulunya merupakan bangunan yang diubah menjadi gang.

Ketua Baznas Banjarmasin, KH Murjani Sani mengatakan, tahun ini dikucurkan bantuan sebesar Rp118 juta membedah dua rumah warga miskin di kota ini. Selain rumah Slamet, juga dibantu rumah milik Nurdin di Jalan Batu Benawa, Teluk Dalam.

“Program ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2009. Karena keterbatasan dana, total baru 15 rumah yang bisa dibantu. Sebagian diambil dari infak para jemaah haji dan umrah,” jelas Murjani.

Bantuan tidak diserahkan dalam bentuk uang tunai. Baznas membelikan bahan material bangunan. Sedangkan pembongkaran dan pembangunan ulang rumah dikerjakan warga sekitar. Pemasangan sambungan air leding dan listrik juga ditanggung Baznas.

“Warga turun tangan untuk bergotong-royong. Semua bekerja dengan sukarela. Anak-anak bahkan bantu mengangkut bahan material,” kata Wardi, 50 tahun, tetangga Slamet. (fud/at/nur)

WALI Kota Banjarmasin, Ibnu Sina terperangah ketika mengunjungi rumah milik Slamet di Gang Kembang Jalan Haryono MT, kemarin (19/9) pagi.

Slamet, 69 tahun, adalah penerima bantuan bedah rumah dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Bukan rumahnya, melainkan akses menuju rumah itulah yang membuat Ibnu kaget.

Disebut gang pun tak layak, apalagi jika disebut jalan. Untuk mencapai rumah Slamet, harus berjalan kaki melewati lorong yang gelap dan lembab. Lebarnya cuma satu meter. Terhimpit oleh tembok dan WC umum.

Sementara rumah Slamet berada di ujung lorong yang buntu. “Saya tidak terbayang. Dalam kondisi darurat, mereka mau lari ke mana?” kata Ibnu.

Makin miris karena jarak antara rumah Slamet dan Balai Kota tak sampai satu kilometer. “Jujur, saya benar-benar kaget. Di pusat kota yang tak jauh dari Balai Kota masih ada permukiman seperti ini,” imbuhnya.

Ibnu berjanji akan meminta Kelurahan Kertak Baru Ilir dan Dinas Permukiman dan Perumahan untuk berkoordinasi. Kawasan itu berhak untuk dibantu. “Apalagi sekarang sudah ada program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh),” tukasnya.

Lalu, siapa sebenarnya Slamet? Lelaki ini lahir tahun 1949. Semasa badannya masih sehat, Slamet bekerja sebagai juru parkir. Sekitar awal tahun 2000-an, daya penglihatannya rusak karena katarak. Kini dia praktis buta total.

Sedangkan istrinya, Zahrah, juga ikut sakit-sakitan. Selama 10 bulan terakhir, kaki perempuan berusia 60 tahun itu tak lagi bisa digerakkan.

Untuk keluar dan masuk rumah berukuran 3×8 meter itu, Slamet mengandalkan bantuan putrinya, Sari Dewi, 30 tahun. Tanpa dituntun, mustahil dia berhasil melewati lorong tersebut.

“Rumah ini sudah lapuk. Hampir roboh. Saya sendiri yang memperbaikinya, berkali-kali. Tetapi sejak mata saya rusak, saya pasrahkan saja,” cerita Slamet.

Dia kemudian meraba-raba lantai dan tembok rumahnya yang baru. Slamet sangat penasaran ingin melihatnya secara langsung. Berkali-kali dia mengusap mata di balik kacamata hitamnya.

Prihatin, warga kemudian mengusulkan permohonan bantuan bedah rumah. Petugas Dinas Sosial sudah bolak-balik berkunjung. Hingga Baznas menjanjikan pertolongan.

Dewi bersyukur keluarganya dibantu bedah rumah. Mengingat selama ini sedikit sekali bantuan yang keluarganya terima. “Kami cuma mendapat raskin (beras miskin). Ada kartu BPJS, tapi cuma untuk saya dan ibu. Bapak belum dapat,” jelasnya.

Dari penuturan tetangga, keluarga Slamet dulu memiliki tanah warisan yang cukup luas. Sepetak demi sepetak dijual. Rumah demi rumah dibangun, hingga hunian Slamet terjebak sendirian di tengah. Lorong itu juga dulunya merupakan bangunan yang diubah menjadi gang.

Ketua Baznas Banjarmasin, KH Murjani Sani mengatakan, tahun ini dikucurkan bantuan sebesar Rp118 juta membedah dua rumah warga miskin di kota ini. Selain rumah Slamet, juga dibantu rumah milik Nurdin di Jalan Batu Benawa, Teluk Dalam.

“Program ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2009. Karena keterbatasan dana, total baru 15 rumah yang bisa dibantu. Sebagian diambil dari infak para jemaah haji dan umrah,” jelas Murjani.

Bantuan tidak diserahkan dalam bentuk uang tunai. Baznas membelikan bahan material bangunan. Sedangkan pembongkaran dan pembangunan ulang rumah dikerjakan warga sekitar. Pemasangan sambungan air leding dan listrik juga ditanggung Baznas.

“Warga turun tangan untuk bergotong-royong. Semua bekerja dengan sukarela. Anak-anak bahkan bantu mengangkut bahan material,” kata Wardi, 50 tahun, tetangga Slamet. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/