alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Waduh, Kabut Asap Masih Mengganggu Penerbangan

BANJARBARU – Kabut dalam beberapa hari terakhir masih menyelimuti sejumlah wilayah. Utamanya, pada pagi dan malam hari. Namun, hingga kini belum diketahui seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara akibat pekatnya asap.

Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru Aslami mengatakan, pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) baru akan dilaksanakan pada bulan ini. Di mana, sebelumnya pihaknya telah menerima surat permintaan pengambilan sampel udara dari Dinas LH Kalsel. “Kami diminta memasang alat pengambilan sampel pada tanggal 21 September nanti,” katanya.

Dia mengungkapkan, alat yang biasa disebut passive sampler tersebut akan dipasang di empat lokasi. Yaitu, area perumahan, pergudangan, jalan raya dan perkantoran. “Alat bakal dipasang selama 14 hari. Setelah itu, dikirim langsung ke Kementerian LHK untuk diuji,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru, Mila, menambahkan, pihaknya telah menentukan empat titik yang bakal dipasangi alat passive sampler. Di area perumahan misalnya, alat akan diletakkan di Kompleks Kehutanan, Jalan Mistar Cokrokusumo. Sementara, pada area perkantoran alat dipasang di sekitaran Balai Kota Banjarbaru. Kemudian, di area pergudangan alat ditaruh di wilayah Liang Anggang. “Kalau area jalan raya, alat kami pasang di Jalan A Yani Km 29,” jelasnya.

Usai sampel didapatkan dan dikirim ke Kementerian LHK, hasil pengujian kemungkinan akan keluar satu bulan kemudian. “Hasil nanti berupa indeks kualitas udara. Bakal ada angka-angka sesuai dengan kondisi udara saat sampelnya diambil,” ujar Mila.

Dia menjelaskan, angka level udara dimulai dari 0 hingga 500. Jika, indeks 0-50 maka udara dianggap baik. Lalu, 51-100 berarti sedang. Kemudian, 101-199 tidak sehat. “Apabila indeksnya 200-299, maka kualitas udara sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya,” jelasnya.

Meski saat ini belum diketahui berapa indeks kualitas udara di Banjarbaru, namun Dinas Kesehatan Banjarbaru telah mencatat bahwa jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mulai mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kasus sendiri meningkat sejak bulan Juli, dengan ditemukannya 3.805 kasus. Di mana pada bulan sebelumnya hanya 2.867 penderita. Kemudian, pada bulan Agustus kasusnya kembali bertambah dengan total 3.979 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, meningkatnya penderita kasus ISPA dalam dua bulan terakhir kemungkinan besar disebabkan oleh kabut asap. “Peningkatan kasus terjadi setiap tahun. Ketika kebakaran hutan dan lahan marak,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya kasus terbanyak ditemukan di daerah yang seringkali diselimuti kabut asap. Seperti, Kecamatan Cempaka, Guntung Payung, Guntung Manggis dan Landasan Ulin. “Di sana ‘kan banyak lahan yang masih kosong dan terbakar,” pungkasnya.

 

 

Sementara itu, aktivitas penerbangan di Bandara Syamsudin Noor belum aman dari kabut asap. Selasa (18/9) kemarin, sejumlah pesawat kembali terganggu saat ingin landing maupun take off dari bandara milik Banua ini.

Berdasarkan data dari Bandara Syamsudin Noor, setidaknya ada delapan penerbangan yang terganggu. Lima diantaranya keberangkatan dan tiga lainnya kedatangan.

Communication and Legal Section Head Bandara Syamsudin Noor Aditya Putra Patria mengatakan, lima pesawat yang berangkat mengalami keterlambatan karena menunggu kabut asap menipis. “Lima pesawat itu, Wings Air jurusan Balikpapan, Lion Air tujuan Surabaya dan Bandung. Serta, Garuda Indonesia jurusan Jakarta dan Citilink tujuan Surabaya,” katanya.

Dia menambahkan, sementara kedatangan yang terganggu yaitu pesawat Citilink dari Surabaya yang memilih untuk divert (landing di bandara bukan tujuan) ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan. Lantaran, tak ingin mengambil risiko landing di Bandara Syamsudin Noor. “Serta, maskapai Lion Air dari Surabaya dan Wings Air dari Kotabaru yang memilih holding sebelum mendarat ke Syamsudin Noor,” tambahnya.

Sementara itu, Area Manager Lion Air Kalsel Agung Purnama membenarkan sejumlah pesawat mereka mengalami gangguan akibat kabut asap yang tebal. “Iya, beberapa delay. Tapi, untungnya tidak ada yang kembali ke bandara asal,” ucapnya.

Secara terpisah, Prakirawan BMKG Bandara Syamsudin Noor Herin Hutri Istyarini menjelaskan, sejumlah penerbangan terganggu lantaran ketika kabut asap tebal, jarak pandang hanya sekitar 400 meter. “Jarak pandang terendah terjadi pada pukul 06.30 Wita,” jelasnya.

Jarak pandang sendiri diketahui dari pengamatan langsung, kemudian dibandingkan dengan alat Automatic Weather Observing System (AWOS). “AWOS kami pasang di setiap ujung runway. Alat ini menggunakan banyak sensor, untuk mengukur parameter cuaca. Seperti angin, suhu, hujan, kelembaban dan visibility,” pungkasnya. (ris/ay/ran)

BANJARBARU – Kabut dalam beberapa hari terakhir masih menyelimuti sejumlah wilayah. Utamanya, pada pagi dan malam hari. Namun, hingga kini belum diketahui seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara akibat pekatnya asap.

Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru Aslami mengatakan, pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) baru akan dilaksanakan pada bulan ini. Di mana, sebelumnya pihaknya telah menerima surat permintaan pengambilan sampel udara dari Dinas LH Kalsel. “Kami diminta memasang alat pengambilan sampel pada tanggal 21 September nanti,” katanya.

Dia mengungkapkan, alat yang biasa disebut passive sampler tersebut akan dipasang di empat lokasi. Yaitu, area perumahan, pergudangan, jalan raya dan perkantoran. “Alat bakal dipasang selama 14 hari. Setelah itu, dikirim langsung ke Kementerian LHK untuk diuji,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru, Mila, menambahkan, pihaknya telah menentukan empat titik yang bakal dipasangi alat passive sampler. Di area perumahan misalnya, alat akan diletakkan di Kompleks Kehutanan, Jalan Mistar Cokrokusumo. Sementara, pada area perkantoran alat dipasang di sekitaran Balai Kota Banjarbaru. Kemudian, di area pergudangan alat ditaruh di wilayah Liang Anggang. “Kalau area jalan raya, alat kami pasang di Jalan A Yani Km 29,” jelasnya.

Usai sampel didapatkan dan dikirim ke Kementerian LHK, hasil pengujian kemungkinan akan keluar satu bulan kemudian. “Hasil nanti berupa indeks kualitas udara. Bakal ada angka-angka sesuai dengan kondisi udara saat sampelnya diambil,” ujar Mila.

Dia menjelaskan, angka level udara dimulai dari 0 hingga 500. Jika, indeks 0-50 maka udara dianggap baik. Lalu, 51-100 berarti sedang. Kemudian, 101-199 tidak sehat. “Apabila indeksnya 200-299, maka kualitas udara sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya,” jelasnya.

Meski saat ini belum diketahui berapa indeks kualitas udara di Banjarbaru, namun Dinas Kesehatan Banjarbaru telah mencatat bahwa jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mulai mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kasus sendiri meningkat sejak bulan Juli, dengan ditemukannya 3.805 kasus. Di mana pada bulan sebelumnya hanya 2.867 penderita. Kemudian, pada bulan Agustus kasusnya kembali bertambah dengan total 3.979 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, meningkatnya penderita kasus ISPA dalam dua bulan terakhir kemungkinan besar disebabkan oleh kabut asap. “Peningkatan kasus terjadi setiap tahun. Ketika kebakaran hutan dan lahan marak,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya kasus terbanyak ditemukan di daerah yang seringkali diselimuti kabut asap. Seperti, Kecamatan Cempaka, Guntung Payung, Guntung Manggis dan Landasan Ulin. “Di sana ‘kan banyak lahan yang masih kosong dan terbakar,” pungkasnya.

 

 

Sementara itu, aktivitas penerbangan di Bandara Syamsudin Noor belum aman dari kabut asap. Selasa (18/9) kemarin, sejumlah pesawat kembali terganggu saat ingin landing maupun take off dari bandara milik Banua ini.

Berdasarkan data dari Bandara Syamsudin Noor, setidaknya ada delapan penerbangan yang terganggu. Lima diantaranya keberangkatan dan tiga lainnya kedatangan.

Communication and Legal Section Head Bandara Syamsudin Noor Aditya Putra Patria mengatakan, lima pesawat yang berangkat mengalami keterlambatan karena menunggu kabut asap menipis. “Lima pesawat itu, Wings Air jurusan Balikpapan, Lion Air tujuan Surabaya dan Bandung. Serta, Garuda Indonesia jurusan Jakarta dan Citilink tujuan Surabaya,” katanya.

Dia menambahkan, sementara kedatangan yang terganggu yaitu pesawat Citilink dari Surabaya yang memilih untuk divert (landing di bandara bukan tujuan) ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan. Lantaran, tak ingin mengambil risiko landing di Bandara Syamsudin Noor. “Serta, maskapai Lion Air dari Surabaya dan Wings Air dari Kotabaru yang memilih holding sebelum mendarat ke Syamsudin Noor,” tambahnya.

Sementara itu, Area Manager Lion Air Kalsel Agung Purnama membenarkan sejumlah pesawat mereka mengalami gangguan akibat kabut asap yang tebal. “Iya, beberapa delay. Tapi, untungnya tidak ada yang kembali ke bandara asal,” ucapnya.

Secara terpisah, Prakirawan BMKG Bandara Syamsudin Noor Herin Hutri Istyarini menjelaskan, sejumlah penerbangan terganggu lantaran ketika kabut asap tebal, jarak pandang hanya sekitar 400 meter. “Jarak pandang terendah terjadi pada pukul 06.30 Wita,” jelasnya.

Jarak pandang sendiri diketahui dari pengamatan langsung, kemudian dibandingkan dengan alat Automatic Weather Observing System (AWOS). “AWOS kami pasang di setiap ujung runway. Alat ini menggunakan banyak sensor, untuk mengukur parameter cuaca. Seperti angin, suhu, hujan, kelembaban dan visibility,” pungkasnya. (ris/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/