alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Julak Larau Terima Gelar Maestro di Festival Payung Indonesia

BANJARMASIN – Getol melestarikan keberadaan alat musik tradisional kuriding, Mukhlis Maman alias Julak Larau mendapatkan anugerah maestro. Dari Festival Payung Indonesia yang diselenggarakan 7-9 September lalu di Taman Lumbini Candi Borobudur, Yogyakarta.

Julak Larau tak terima penghargaan sendirian. Bersama Ata Ratu dari Sumba Timur dan Syofyani Yusaf dari Padang, ketiganya sama-sama menyabet gelar maestro. Masing-masing juga diperkenankan menyajikan karya.

Menggandeng NSA Project, Julak memainkan kuriding dengan dua komposisi. Karya mereka berjudul Mangariang dan Hyang Matala. Konsepnya tata garap kuriding yang kontemplatif.

Direktur NSA Project, Novyandi Saputra menjelaskan saat pementasan, penampilan Julak Larau dihadiri langsung oleh Kepala UPT Taman Budaya Kalsel bersama Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani. “Wali kota melihat apakah agenda-agenda seperti ini bisa diselenggarakan di Banjarbaru,” katanya.

Seingat Novyandi, bulan September memang sering kali menjadi bulan yang spesial bagi Julak Larau. “September 2016, julak mendapatkan anugerah empu dari NSA Project Movement. Dua tahun kemudian dapat gelar maestro,” tuturnya.

Untuk diketahui, Mukhlis sudah menggeluti alat musik kuriding sejak tahun 1985 silam. Sampai sekarang ia masih aktif melestarikan keberadaan alat musik yang dimainkan dengan ditempel di mulut ini. Lantaran sampai sekarang tak ada yang tertarik untuk menjaga kelangsungan alat musik yang satu ini.

“Kuriding telah menghilang sangat lama. Yaitu selama dua generasi, atau lebih dari dua ratus tahun lamanya kuriding tak pernah lagi terdengar. Hampir seluruh masyarakat Banjar tidak mengenal apa itu kuriding,” ujarnya. (dom/at/nur)

BANJARMASIN – Getol melestarikan keberadaan alat musik tradisional kuriding, Mukhlis Maman alias Julak Larau mendapatkan anugerah maestro. Dari Festival Payung Indonesia yang diselenggarakan 7-9 September lalu di Taman Lumbini Candi Borobudur, Yogyakarta.

Julak Larau tak terima penghargaan sendirian. Bersama Ata Ratu dari Sumba Timur dan Syofyani Yusaf dari Padang, ketiganya sama-sama menyabet gelar maestro. Masing-masing juga diperkenankan menyajikan karya.

Menggandeng NSA Project, Julak memainkan kuriding dengan dua komposisi. Karya mereka berjudul Mangariang dan Hyang Matala. Konsepnya tata garap kuriding yang kontemplatif.

Direktur NSA Project, Novyandi Saputra menjelaskan saat pementasan, penampilan Julak Larau dihadiri langsung oleh Kepala UPT Taman Budaya Kalsel bersama Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani. “Wali kota melihat apakah agenda-agenda seperti ini bisa diselenggarakan di Banjarbaru,” katanya.

Seingat Novyandi, bulan September memang sering kali menjadi bulan yang spesial bagi Julak Larau. “September 2016, julak mendapatkan anugerah empu dari NSA Project Movement. Dua tahun kemudian dapat gelar maestro,” tuturnya.

Untuk diketahui, Mukhlis sudah menggeluti alat musik kuriding sejak tahun 1985 silam. Sampai sekarang ia masih aktif melestarikan keberadaan alat musik yang dimainkan dengan ditempel di mulut ini. Lantaran sampai sekarang tak ada yang tertarik untuk menjaga kelangsungan alat musik yang satu ini.

“Kuriding telah menghilang sangat lama. Yaitu selama dua generasi, atau lebih dari dua ratus tahun lamanya kuriding tak pernah lagi terdengar. Hampir seluruh masyarakat Banjar tidak mengenal apa itu kuriding,” ujarnya. (dom/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/