alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Demo Melemahnya Rupiah di Gedung Dewan Nyaris Ricuh

BANJARMASIN – Aksi unjuk rasa mengenai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali terjadi. Puluhan mahasiswa gabungan dari berbagai perguruan tinggi di Kalsel mendatangi gedung dewan, Senin (10/9) pagi.

Mereka datang kembali ke gedung wakil rakyat ini sesuai janji mereka karena Jumat (7/9) lalu tak ada satupun anggota dewan yang berada di tempat. Tapi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banjarmasin serta Lingkar Studi Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK) itu kembali kecewa. Lagi-lagi semua anggota dewan sedang kunjungan kerja ke berbagai wilayah di Kalsel.

Kelompok mahasiswa yang tidak percaya sempat berusaha masuk ke dalam gedung. Tapi, dihalangi petugas sekuriti dan pegawai Setwan. Sempat terjadi perdebatan sengit serta aksi saling dorong. Bahkan nyaris terjadi adu pukul. Namun, petugas kepolisian dari Polresta Banjarmasin berhasil menenangkan mahasiswa.

Kelompok mahasiswa tidak percaya dengan penjelasan Sekretaris Dewan (Sekwan), Antung Muhammad Rozaniansyah. Mereka memaksa untuk masuk mengecek ke dalam setiap ruang. Mereka memeriksa seluruh ruangan, tapi tetap nihil. “Sungguh kami sangat kecewa sekali,” ucap Ketua Umum LSISK, Abdul Hakim.

Padahal kemarin adalah hari kerja. Tapi, ternyata tidak ada satupun anggota dewan. Kalaupun ada agenda kunjungan kerja ke luar daerah, mestinya ada beberapa orang yang tinggal. “Kalau misalkan yang dari komisi saja yang tidak ada, masih masuk akal. Namun ini semuanya tidak ada,” sindirnya.

Sikap yang diserukan oleh mahasiswa ada tujuh. Pertama, pemerintah berhenti menyalahkan pihak eksternal atas melemahnya rupiah. Kedua, menuntut pemerintah untuk berhenti berutang dan impor yang berlebihan. Ketiga, pemerintah fokus mengupayakan penguatan rupiah dengan memperkuat laju ekspor di semua sektor.

Keempat, menuntut pemerintah untuk lebih serius dalam mengelola negara dengan tidak membuat kebijakan yang dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Kelima, menuntut pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok dan ketersediaan di lapangan. 

Keenam, menuntut pemerintah untuk berpihak pada rakyat Indonesia dalam hal pengelolaan hasil pertanian Indonesia guna mengurangi impor. Terakhir, mengajak masyarakat saling bersinergi dalam gerakan penyelamatan rupiah dengan menahan diri untuk mengimpor atau membeli barang luar negeri, dan menggalakkan penggunaan produk dalam negeri.

Antung Muhammad Rozaniansyah menyampaikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pimpinan dewan mengenai desakan mahasiswa yang ingin bertemu dengan para anggota dewan. “Sudah kami akomodir, rencananya tanggal 12 September 2018 ini akan ada pertemuan antara mahasiswa dan dewan,” sebutnya.

Berhubung persoalan ini melibatkan lembaga lainnya, pria yang biasa disapa Nunung ini mengungkapkan pihaknya juga akan mengundang perbankan. “Perbankan juga akan kita undang,” jelasnya.(gmp/az/dye)

BANJARMASIN – Aksi unjuk rasa mengenai anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali terjadi. Puluhan mahasiswa gabungan dari berbagai perguruan tinggi di Kalsel mendatangi gedung dewan, Senin (10/9) pagi.

Mereka datang kembali ke gedung wakil rakyat ini sesuai janji mereka karena Jumat (7/9) lalu tak ada satupun anggota dewan yang berada di tempat. Tapi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banjarmasin serta Lingkar Studi Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK) itu kembali kecewa. Lagi-lagi semua anggota dewan sedang kunjungan kerja ke berbagai wilayah di Kalsel.

Kelompok mahasiswa yang tidak percaya sempat berusaha masuk ke dalam gedung. Tapi, dihalangi petugas sekuriti dan pegawai Setwan. Sempat terjadi perdebatan sengit serta aksi saling dorong. Bahkan nyaris terjadi adu pukul. Namun, petugas kepolisian dari Polresta Banjarmasin berhasil menenangkan mahasiswa.

Kelompok mahasiswa tidak percaya dengan penjelasan Sekretaris Dewan (Sekwan), Antung Muhammad Rozaniansyah. Mereka memaksa untuk masuk mengecek ke dalam setiap ruang. Mereka memeriksa seluruh ruangan, tapi tetap nihil. “Sungguh kami sangat kecewa sekali,” ucap Ketua Umum LSISK, Abdul Hakim.

Padahal kemarin adalah hari kerja. Tapi, ternyata tidak ada satupun anggota dewan. Kalaupun ada agenda kunjungan kerja ke luar daerah, mestinya ada beberapa orang yang tinggal. “Kalau misalkan yang dari komisi saja yang tidak ada, masih masuk akal. Namun ini semuanya tidak ada,” sindirnya.

Sikap yang diserukan oleh mahasiswa ada tujuh. Pertama, pemerintah berhenti menyalahkan pihak eksternal atas melemahnya rupiah. Kedua, menuntut pemerintah untuk berhenti berutang dan impor yang berlebihan. Ketiga, pemerintah fokus mengupayakan penguatan rupiah dengan memperkuat laju ekspor di semua sektor.

Keempat, menuntut pemerintah untuk lebih serius dalam mengelola negara dengan tidak membuat kebijakan yang dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Kelima, menuntut pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok dan ketersediaan di lapangan. 

Keenam, menuntut pemerintah untuk berpihak pada rakyat Indonesia dalam hal pengelolaan hasil pertanian Indonesia guna mengurangi impor. Terakhir, mengajak masyarakat saling bersinergi dalam gerakan penyelamatan rupiah dengan menahan diri untuk mengimpor atau membeli barang luar negeri, dan menggalakkan penggunaan produk dalam negeri.

Antung Muhammad Rozaniansyah menyampaikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pimpinan dewan mengenai desakan mahasiswa yang ingin bertemu dengan para anggota dewan. “Sudah kami akomodir, rencananya tanggal 12 September 2018 ini akan ada pertemuan antara mahasiswa dan dewan,” sebutnya.

Berhubung persoalan ini melibatkan lembaga lainnya, pria yang biasa disapa Nunung ini mengungkapkan pihaknya juga akan mengundang perbankan. “Perbankan juga akan kita undang,” jelasnya.(gmp/az/dye)

Most Read

Artikel Terbaru

/