alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman bernama latin Orchidaceae ini memiliki tampilan yang memikat dan punya nilai jual tinggi.

DONNY MUSLIM, Banjarmasin

Menggaungkan lagi nama tanaman ini, kemarin (7/9), Dinas Pariwisata Kalsel menggelar Festival Anggrek di Taman Kamboja Banjarmasin. Event ini diikuti 13 kabupaten dan kota di Kalsel. Tiap daerah membuka stan. Memamerkan masing-masing spesies anggrek yang mereka miliki.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Heriansyah menyebut ada 2.000 jenis tanaman anggrek yang tumbuh di Kalsel. Hidup tersebar di sepanjang Pegunungan Meratus. “Kenapa jadi sampai bikin acara seperti ini? Nama anggrek begitu unggul dan dicari-cari banyak orang. Anggrek dan batu permata memang berpotensi memikat minat wisatawan untuk datang,” ujarnya.

Melalui Festival Anggrek 2018, Heri berharap para pelancong luar negeri serta domestik bisa berkunjung. Lebih-lebih acara ini digelar selama tiga hari. Dari tanggal 7 hingga 9 September ini.

“Ini festival pertama yang digelar oleh Pemprov Kalsel. Melibatkan provinsi Jawa Timur serta Papua. Sebelumnya, pameran yang digelar hanya sekadar memamerkan anggrek-anggrek yang tersebar dari Pegunungan Meratus,” tuturnya.

Dari sekian banyak spesies anggrek, Anggrek Bulan memikat banyak pengunjung. Tanaman bernama latin Phalaenopsis amabilis ini di Kalsel cuma hidup di Kabupaten Balangan. Tepat di Pegunungan Meratus wilayah Balangan. Dalam festival, DPC Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Balangan memamerkannya.

Jenis anggrek ini berwarna putih. Bunganya tampak tipis. Samar-samar tercium aroma harum dari anggrek jenis yang bisa hidup selama setahun lebih tersebut. Sayang, saat ditampilkan tanamannya sudah layu.

“Meski memiliki tampilan menarik, keberadaannya terancam penebangan liar dan tambang. Tak bisa kita pungkiri, Balangan bermasalah dengan dua jenis usaha ini. Anggrek Bulan jelas kena imbasnya,” kata penjaga stan PAI Kabupaten Balangan, Sanusi.

Ia bersyukur masih ada warga setempat yang membudidayakan anggrek jenis ini. “Kalau tidak begitu, salah-salah bisa punah. Padahal harga jualnya mahal. Satu tanaman bisa sampai Rp500 ribu hingga Rp1 juta,” jelasnya.

Dengan digelar Festival Anggrek, Sanusi juga menyambutnya dengan baik. Lantaran, ajang ini bisa menjadi corong edukasi untuk masyarakat yang masih banyak belum mengenali tanaman anggrek dengan baik. (dom/at/nur)

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman bernama latin Orchidaceae ini memiliki tampilan yang memikat dan punya nilai jual tinggi.

DONNY MUSLIM, Banjarmasin

Menggaungkan lagi nama tanaman ini, kemarin (7/9), Dinas Pariwisata Kalsel menggelar Festival Anggrek di Taman Kamboja Banjarmasin. Event ini diikuti 13 kabupaten dan kota di Kalsel. Tiap daerah membuka stan. Memamerkan masing-masing spesies anggrek yang mereka miliki.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Heriansyah menyebut ada 2.000 jenis tanaman anggrek yang tumbuh di Kalsel. Hidup tersebar di sepanjang Pegunungan Meratus. “Kenapa jadi sampai bikin acara seperti ini? Nama anggrek begitu unggul dan dicari-cari banyak orang. Anggrek dan batu permata memang berpotensi memikat minat wisatawan untuk datang,” ujarnya.

Melalui Festival Anggrek 2018, Heri berharap para pelancong luar negeri serta domestik bisa berkunjung. Lebih-lebih acara ini digelar selama tiga hari. Dari tanggal 7 hingga 9 September ini.

“Ini festival pertama yang digelar oleh Pemprov Kalsel. Melibatkan provinsi Jawa Timur serta Papua. Sebelumnya, pameran yang digelar hanya sekadar memamerkan anggrek-anggrek yang tersebar dari Pegunungan Meratus,” tuturnya.

Dari sekian banyak spesies anggrek, Anggrek Bulan memikat banyak pengunjung. Tanaman bernama latin Phalaenopsis amabilis ini di Kalsel cuma hidup di Kabupaten Balangan. Tepat di Pegunungan Meratus wilayah Balangan. Dalam festival, DPC Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kabupaten Balangan memamerkannya.

Jenis anggrek ini berwarna putih. Bunganya tampak tipis. Samar-samar tercium aroma harum dari anggrek jenis yang bisa hidup selama setahun lebih tersebut. Sayang, saat ditampilkan tanamannya sudah layu.

“Meski memiliki tampilan menarik, keberadaannya terancam penebangan liar dan tambang. Tak bisa kita pungkiri, Balangan bermasalah dengan dua jenis usaha ini. Anggrek Bulan jelas kena imbasnya,” kata penjaga stan PAI Kabupaten Balangan, Sanusi.

Ia bersyukur masih ada warga setempat yang membudidayakan anggrek jenis ini. “Kalau tidak begitu, salah-salah bisa punah. Padahal harga jualnya mahal. Satu tanaman bisa sampai Rp500 ribu hingga Rp1 juta,” jelasnya.

Dengan digelar Festival Anggrek, Sanusi juga menyambutnya dengan baik. Lantaran, ajang ini bisa menjadi corong edukasi untuk masyarakat yang masih banyak belum mengenali tanaman anggrek dengan baik. (dom/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/