alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Jalan di Banjarmasin Jadi Medan Perang Spanduk Pemilu

Dua hari terakhir di Banjarmasin terjadi perang spanduk. Spanduk liar antara kubu penolak dan pendukung tagar #2019gantipresiden. Semuanya berlomba-lomba mengklaim sebagai suara warga kota.

================

SPANDUK liar terpasang di sejumlah ruas jalan strategis. Seperti pertigaan Jalan Kuripan dan Jalan Ahmad Yani; perempatan Jalan Lambung Mangkurat; perempatan Pasar Sentra Antasari; Bundaran Kayu Tangi dan bahkan di atas flyover Gatot Subroto. 

Ada spanduk yang dibuat dengan ala kadarnya. Ditulis dengan cat semprot. Ada pula yang didesain dan dicetak dengan digital printing. Kemungkinan besar, spanduk-spanduk itu dipasang pada dini hari. Saat jalanan kota sudah sepi.

Terkait isi, ada yang malu-malu, ada pula berani berteriak kencang. Apapun isinya, spanduk-spanduk itu berpotensi menjadi ujaran kebencian. Rawan memanaskan suasana. Semuanya juga mengklaim sebagai suara masyarakat Banjarmasin atau warga Banua.

Gerah dengan perang spanduk itu, Satpol PP bergerak untuk menertibkannya. Pada hari Rabu (5/9), ada tiga spanduk yang dilucuti. Kemarin (6/9) bertambah lagi dua spanduk.

Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Hermansyah mengatakan tak ada instruksi khusus untuk pencopotan spanduk tersebut. Dasar pencopotan sudah cukup dengan merujuk perda ketertiban umum.

“Spanduk-spanduk itu tidak berizin. Dipasang sembarangan, dan mengganggu pemandangan kota. Kami hanya menegakkan perda. Tidak ada kaitan dengan politik,” ujarnya.

Ada yang diikat ke tiang listrik. Pohon peneduh kota hingga pagar jembatan. Lokasi-lokasi yang memang terlarang untuk dipasangi spanduk. Apakah itu spanduk promosi, apalagi politik.

“Kalau ditiup angin dan terbang, lantas mengenai pengendara dan memakan korban, kan sangat tidak lucu,” cecarnya.

Namun, Hermansyah mengimbau kepada pemasang spanduk, apakah itu individu atau kelompok, untuk segera menghentikan aksinya. “Jangan menciptakan keresahan, Banjarmasin sudah kondusif,” pesannya.

Lantas, adakah upaya Satpol PP untuk menelusuri siapa aktor di belakang semua ini? “Kami tidak sampai sejauh itu. Kalau pelacakan pemasang itu wewenang Kesbangpol,” tukasnya.

Sekalipun memohon izin, Hermansyah yakin spanduk-spanduk itu takkan lolos. “Mustahil Kesbangpol memberi izin. Selain untuk memastikan lokasi pemasangan, izin ini juga berguna untuk menyaring isi spanduk. Jadi ujaran kebencian tak akan lolos,” yakinnya.

Kepala Badan Kesbangpol Banjarmasin, Kasman belum memberikan komentar atas fenomena ini ketika dikonfirmasi terpisah via telepon.

Menarik jika menyimak pendapat warga kota. Jumahuddin, warga Pekauman, sempat memotret spanduk di atas flyover. Kemarin pagi setelah mengantarkan istrinya bekerja.

“Spanduknya lebay. Semuanya dengan seenak hati mengklaim sebagai suara masyarakat Banjarmasin. Saya tidak merasa pernah ikut mendukung,” ujarnya.

Karyawan swasta itu berharap, Banjarmasin terus kondusif. Tidak terbawa-bawa suasana panas di Jakarta. Supaya bisa terus bekerja dengan nyaman.

“Pilihan politik cukup disampaikan di bilik suara saja. Tinggal mencoblos. Tidak perlu berdebat kesana-kemari,” tukasnya.(fud/dye/ema)

Dua hari terakhir di Banjarmasin terjadi perang spanduk. Spanduk liar antara kubu penolak dan pendukung tagar #2019gantipresiden. Semuanya berlomba-lomba mengklaim sebagai suara warga kota.

================

SPANDUK liar terpasang di sejumlah ruas jalan strategis. Seperti pertigaan Jalan Kuripan dan Jalan Ahmad Yani; perempatan Jalan Lambung Mangkurat; perempatan Pasar Sentra Antasari; Bundaran Kayu Tangi dan bahkan di atas flyover Gatot Subroto. 

Ada spanduk yang dibuat dengan ala kadarnya. Ditulis dengan cat semprot. Ada pula yang didesain dan dicetak dengan digital printing. Kemungkinan besar, spanduk-spanduk itu dipasang pada dini hari. Saat jalanan kota sudah sepi.

Terkait isi, ada yang malu-malu, ada pula berani berteriak kencang. Apapun isinya, spanduk-spanduk itu berpotensi menjadi ujaran kebencian. Rawan memanaskan suasana. Semuanya juga mengklaim sebagai suara masyarakat Banjarmasin atau warga Banua.

Gerah dengan perang spanduk itu, Satpol PP bergerak untuk menertibkannya. Pada hari Rabu (5/9), ada tiga spanduk yang dilucuti. Kemarin (6/9) bertambah lagi dua spanduk.

Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Hermansyah mengatakan tak ada instruksi khusus untuk pencopotan spanduk tersebut. Dasar pencopotan sudah cukup dengan merujuk perda ketertiban umum.

“Spanduk-spanduk itu tidak berizin. Dipasang sembarangan, dan mengganggu pemandangan kota. Kami hanya menegakkan perda. Tidak ada kaitan dengan politik,” ujarnya.

Ada yang diikat ke tiang listrik. Pohon peneduh kota hingga pagar jembatan. Lokasi-lokasi yang memang terlarang untuk dipasangi spanduk. Apakah itu spanduk promosi, apalagi politik.

“Kalau ditiup angin dan terbang, lantas mengenai pengendara dan memakan korban, kan sangat tidak lucu,” cecarnya.

Namun, Hermansyah mengimbau kepada pemasang spanduk, apakah itu individu atau kelompok, untuk segera menghentikan aksinya. “Jangan menciptakan keresahan, Banjarmasin sudah kondusif,” pesannya.

Lantas, adakah upaya Satpol PP untuk menelusuri siapa aktor di belakang semua ini? “Kami tidak sampai sejauh itu. Kalau pelacakan pemasang itu wewenang Kesbangpol,” tukasnya.

Sekalipun memohon izin, Hermansyah yakin spanduk-spanduk itu takkan lolos. “Mustahil Kesbangpol memberi izin. Selain untuk memastikan lokasi pemasangan, izin ini juga berguna untuk menyaring isi spanduk. Jadi ujaran kebencian tak akan lolos,” yakinnya.

Kepala Badan Kesbangpol Banjarmasin, Kasman belum memberikan komentar atas fenomena ini ketika dikonfirmasi terpisah via telepon.

Menarik jika menyimak pendapat warga kota. Jumahuddin, warga Pekauman, sempat memotret spanduk di atas flyover. Kemarin pagi setelah mengantarkan istrinya bekerja.

“Spanduknya lebay. Semuanya dengan seenak hati mengklaim sebagai suara masyarakat Banjarmasin. Saya tidak merasa pernah ikut mendukung,” ujarnya.

Karyawan swasta itu berharap, Banjarmasin terus kondusif. Tidak terbawa-bawa suasana panas di Jakarta. Supaya bisa terus bekerja dengan nyaman.

“Pilihan politik cukup disampaikan di bilik suara saja. Tinggal mencoblos. Tidak perlu berdebat kesana-kemari,” tukasnya.(fud/dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/