alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Pemkab Balangan dan Adaro Terus Bersinergi Bangun Kesehatan

PARINGIN – Pelatihan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan pada Senin (3/9) kemarin, yang berlangsung di aula dinas setempat.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Ainun Faridah. Diikuti para tenaga medis dan bidan dari seluruh kecamatan.

“Dengan dilaksanakannya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir, maka hambatan pertumbuhan seperti cebol dan keterbelakangan mental dapat teratasi,” ujar Ainun.

Diungkapkannya, pengetahuan dan Keterampilan ini menjadi hal yang wajib bagi para dokter dan Bidan, karena mereka inilah yang akan pasti bersentuhan dengan pertolongan persalinan dan tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Dijelaskannya, SHK merupakan penurunan kerja kelenjar tiroid pada anak atau bahkan tidak berfungsi sejak lahir, sehingga bayi bisa kekurangan hormon tiroid yang penting  untuk mengatur suhu tubuh, metabolisme, pertumbuhan tulang, kerja jantung, syaraf, serta pertumbuhan dan perkembangan otak.

“Karena menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan tulang dan otak, efek yang terjadi apabila anak tidak tertangani akan menjadi cebol dan keterbelakangan mental,” ujarnya.

Kunci keberhasilan pengobatan anak dengan Hipotiroid Kongenital, kata dia, yaitu dengan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium dan pengobatan sebelum anak berusia 1 Bulan. Oleh karenanya, penting bagi petugas kesehatan untuk memiliki keterampilan yang mumpuni dalam hal deteksi dini ini, terutama para Dokter dan Bidan.

Sementara itu, PT. Adaro Indonesia melalui Perwakilan CSR Adaro Indonesia A Fitriadi mengungkapkan, sangat mendukung penuh dan menyambut dengan antusias segala kegiatan yang berhubungan dengan Pembangunan Kesehatan.

Harapannya, dengan kegiatan ini akan bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam hal SHK, dan  meningkatnya ketersediaan fasilitas layanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang melaksanakannya.

“Semoga dengan adanya pelatihan ini, anak-anak yang merupakan calon penerus bangsa dapat terselamatkan dari permasalahan Hipotiroid. Sehingga negara kita ini semakin maju dan sejahtera,” harapnya.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Aisyah secara terpisah menjelaskan, kegiatan yang diselenggarakan ini menggunakan dana CSR PT. Adaro Indonesia.

Peserta kegiatan terdiri dari 12 Dokter Puskesmas, 12 Bidan Koordinator, dan 12 Bidan dari RSUD Balangan, direncanakan akan dilaksanakan dalam 2 kali angkatan, dengan narasumber Dokter Spesialis Anak, Tim Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, dan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan.

Ditambahkannya, hipotiroid menjadi penyumbang utama kasus cebol yang sedang dientaskan oleh pemerintah. Untuk di seluruh Dunia sekarang ini angkanya sebesar 1:3.000-4.000 kelahiran hidup.

“Dengan Populasi 200 juta penduduk Indonesia dan angka kelahiran 2%, berarti ada 4 juta bayi dilahirkan setiap tahunnya. Dan setiap tahun di negara kita diperkirakan lahir 1.143 bayi dengan hipotiroid kongenital,” ungkapnya.

Untuk itu ia menegaskan, deteksi dini memang sangat penting dalam mencegah gangguan hipotiroid, karena suksesnya pengobatan apabila dilaksanakan sebelum bayi berusia 1 bulan.

“yang perlu dipahami, gangguan hipotiroid ini memang sangat jarang memperlihatkan gejala klinis pada awal kehidupan. Karenanya, kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan seperti sekarang ini sangat diperlukan,” pungkasnya. (why)

PARINGIN – Pelatihan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan pada Senin (3/9) kemarin, yang berlangsung di aula dinas setempat.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Ainun Faridah. Diikuti para tenaga medis dan bidan dari seluruh kecamatan.

“Dengan dilaksanakannya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir, maka hambatan pertumbuhan seperti cebol dan keterbelakangan mental dapat teratasi,” ujar Ainun.

Diungkapkannya, pengetahuan dan Keterampilan ini menjadi hal yang wajib bagi para dokter dan Bidan, karena mereka inilah yang akan pasti bersentuhan dengan pertolongan persalinan dan tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Dijelaskannya, SHK merupakan penurunan kerja kelenjar tiroid pada anak atau bahkan tidak berfungsi sejak lahir, sehingga bayi bisa kekurangan hormon tiroid yang penting  untuk mengatur suhu tubuh, metabolisme, pertumbuhan tulang, kerja jantung, syaraf, serta pertumbuhan dan perkembangan otak.

“Karena menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan tulang dan otak, efek yang terjadi apabila anak tidak tertangani akan menjadi cebol dan keterbelakangan mental,” ujarnya.

Kunci keberhasilan pengobatan anak dengan Hipotiroid Kongenital, kata dia, yaitu dengan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium dan pengobatan sebelum anak berusia 1 Bulan. Oleh karenanya, penting bagi petugas kesehatan untuk memiliki keterampilan yang mumpuni dalam hal deteksi dini ini, terutama para Dokter dan Bidan.

Sementara itu, PT. Adaro Indonesia melalui Perwakilan CSR Adaro Indonesia A Fitriadi mengungkapkan, sangat mendukung penuh dan menyambut dengan antusias segala kegiatan yang berhubungan dengan Pembangunan Kesehatan.

Harapannya, dengan kegiatan ini akan bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam hal SHK, dan  meningkatnya ketersediaan fasilitas layanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang melaksanakannya.

“Semoga dengan adanya pelatihan ini, anak-anak yang merupakan calon penerus bangsa dapat terselamatkan dari permasalahan Hipotiroid. Sehingga negara kita ini semakin maju dan sejahtera,” harapnya.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Aisyah secara terpisah menjelaskan, kegiatan yang diselenggarakan ini menggunakan dana CSR PT. Adaro Indonesia.

Peserta kegiatan terdiri dari 12 Dokter Puskesmas, 12 Bidan Koordinator, dan 12 Bidan dari RSUD Balangan, direncanakan akan dilaksanakan dalam 2 kali angkatan, dengan narasumber Dokter Spesialis Anak, Tim Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, dan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan.

Ditambahkannya, hipotiroid menjadi penyumbang utama kasus cebol yang sedang dientaskan oleh pemerintah. Untuk di seluruh Dunia sekarang ini angkanya sebesar 1:3.000-4.000 kelahiran hidup.

“Dengan Populasi 200 juta penduduk Indonesia dan angka kelahiran 2%, berarti ada 4 juta bayi dilahirkan setiap tahunnya. Dan setiap tahun di negara kita diperkirakan lahir 1.143 bayi dengan hipotiroid kongenital,” ungkapnya.

Untuk itu ia menegaskan, deteksi dini memang sangat penting dalam mencegah gangguan hipotiroid, karena suksesnya pengobatan apabila dilaksanakan sebelum bayi berusia 1 bulan.

“yang perlu dipahami, gangguan hipotiroid ini memang sangat jarang memperlihatkan gejala klinis pada awal kehidupan. Karenanya, kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan seperti sekarang ini sangat diperlukan,” pungkasnya. (why)

Most Read

Artikel Terbaru

/