alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Prostitusi Digital di Banua, Salah Kamar Ternyata Ketemu Waria

Benarkah memberangus tempat esek-esek bikin prostitusi benar-benar mati? Silakan jawab sendiri. 

Sebagai gambaran, belakangan bisnis ini beralih menggunakan platform digital. Bertransaksi lewat media sosial atau sejenisnya.

NF adalah salah satu orang yang paham cara kerja bisnis lendir tersebut. Pemuda 25 tahun itu adalah pelanggan tetap prostitusi online. Akhir pekan tadi dia kembali berniat melepas penat. Caranya? Anda bisa membayangkan.

Dia tak seperti pemuda biasa yang melepas lelah dengan kongkow dan jalan-jalan. Mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi Banjarmasin ini memilih menyalurkan hasrat seksualnya. Dengan menikmati layanan esek-esek kekinian.

Untuk mencari teman pelampiasan, ia cuma butuh smartphone. “Di Banjarmasin di mana? Kan sudah tutup semua? Online saja. Sekarang sudah era digital. Lebih mudah,” ucapnya.

Kepada penulis, ia menyodorkan aplikasi berlogo lebah di gawainya. Platform yang sering digunakannya ketika dorongan seksualnya sedang berapi-api.

“Sudah dua tahun terakhir pakai aplikasi lebah. Masih muda-muda, enak dipilih,” ungkap NF terkekeh. Di aplikasi tersebut cukup dengan memencet tombol “pencarian sekitar”, maka sederet perempuan lokasi terdekat yang menawarkan diri bakal tampil.

Negosiasi tarif juga enteng. Tak seperti bertemu langsung di tempat. “Bisa nggak tega kalau ketemu. Kalau sebelum booking sudah deal-dealan harga kan enak,” tuturnya.

Sekali booking harganya variatif. Dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta. Namun, tarif ini tidaklah kaku. “Anda bisa nego sampai jatuh banget. Tinggal Speak, Speak, Sblis (SSI) saja,” katanya. SSI sendiri merupakan istilah prostitusi online bagi pria yang pandai merayu wanita sampai hatinya luluh.

Tapi, namanya juga negosiasi lewat dunia maya. Salah-salah Anda bisa tertipu. Banyak sekali akun-akun palsu. Yang berani membanting harga murah lewat sekali booking.

“Palsu ini maksudnya bisa ketemu sesama jenis alias waria. Atau, bisa juga ketemu perempuan tua. Dua-duanya, pernah saya alami,” katanya terbahak. Saat bertemu orang-orang palsu, NF jelas saja memilih kabur tanpa kabar.

Belakangan, ia pun mulai mengurangi intensitas penggunaan aplikasi tersebut. Ia memilih menahan diri. Takut salah pilih lagi gara-gara sering bertemu akun palsu.

Penasaran, penulis pun mencobanya. Masuk ke aplikasi berlogo lebah. Di sana, memang ada sederet perempuan yang menawarkan diri dengan kode-kode tertentu.

Memencet tombol “pencarian sekitar”, langsung muncul nama SH dari list paling atas. Dari foto, perempuan yang dalam biodatanya tertulis 23 tahun ini memiliki wajah rupawan. Bibirnya tebal dengan lipstik merah, hidungnya mancung, bulu matanya lentik. Mengenakan baju tidur berwarna abu-abu, matanya tampak sayu.

Setelah menerima pertemanan akun, SH langsung memulai obrolan. Tak basa-basi. Ia langsung bertanya. “BO kah?” ujarnya lewat chat. BO adalah istilah singkat untuk booking.

Ia menawarkan tarif dengan harga Rp800 ribu. Bertempat di salah satu penginapan berkelas di Jalan Veteran, Banjarmasin Timur. “Kalau mau, nanti jam delapan 8 langsung datang saja. Saya tunggu di sana,” katanya.

Tarif segitu, kata SH baru cukup buat Short Time (ST) atau bercinta dalam waktu yang singkat. Dalam bisnis ini, terbagi dua jenis booking. Kalau mau sampai pagi, bisa pilih Long Time (LT).

“Kalau saya LT Rp1,8 juta. Jangan basa-basi ya,” kata SH. Marahnya wajar. Ia seringkali menemui pria yang cuma coba-coba tanya. Namun, ujung-ujungnya tanpa kabar.

“Saya di sini cuma cari penghasilan. Urusan surga dan neraka cuma aku dan Tuhan yang tahu,” tutupnya. Pertemanan kami terputus. SH memblok akun penulis.

Namun, dari pertemanan kami, fakta-fakta terungkap. Urusan bisnis esek-esek lewat platform digital, biasanya menempati hotel-hotel yang tersebar di kawasan Jalan Veteran, Jalan Lambung Mangkurat, dan Kayutangi. (dom/at/nur)

Benarkah memberangus tempat esek-esek bikin prostitusi benar-benar mati? Silakan jawab sendiri. 

Sebagai gambaran, belakangan bisnis ini beralih menggunakan platform digital. Bertransaksi lewat media sosial atau sejenisnya.

NF adalah salah satu orang yang paham cara kerja bisnis lendir tersebut. Pemuda 25 tahun itu adalah pelanggan tetap prostitusi online. Akhir pekan tadi dia kembali berniat melepas penat. Caranya? Anda bisa membayangkan.

Dia tak seperti pemuda biasa yang melepas lelah dengan kongkow dan jalan-jalan. Mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi Banjarmasin ini memilih menyalurkan hasrat seksualnya. Dengan menikmati layanan esek-esek kekinian.

Untuk mencari teman pelampiasan, ia cuma butuh smartphone. “Di Banjarmasin di mana? Kan sudah tutup semua? Online saja. Sekarang sudah era digital. Lebih mudah,” ucapnya.

Kepada penulis, ia menyodorkan aplikasi berlogo lebah di gawainya. Platform yang sering digunakannya ketika dorongan seksualnya sedang berapi-api.

“Sudah dua tahun terakhir pakai aplikasi lebah. Masih muda-muda, enak dipilih,” ungkap NF terkekeh. Di aplikasi tersebut cukup dengan memencet tombol “pencarian sekitar”, maka sederet perempuan lokasi terdekat yang menawarkan diri bakal tampil.

Negosiasi tarif juga enteng. Tak seperti bertemu langsung di tempat. “Bisa nggak tega kalau ketemu. Kalau sebelum booking sudah deal-dealan harga kan enak,” tuturnya.

Sekali booking harganya variatif. Dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta. Namun, tarif ini tidaklah kaku. “Anda bisa nego sampai jatuh banget. Tinggal Speak, Speak, Sblis (SSI) saja,” katanya. SSI sendiri merupakan istilah prostitusi online bagi pria yang pandai merayu wanita sampai hatinya luluh.

Tapi, namanya juga negosiasi lewat dunia maya. Salah-salah Anda bisa tertipu. Banyak sekali akun-akun palsu. Yang berani membanting harga murah lewat sekali booking.

“Palsu ini maksudnya bisa ketemu sesama jenis alias waria. Atau, bisa juga ketemu perempuan tua. Dua-duanya, pernah saya alami,” katanya terbahak. Saat bertemu orang-orang palsu, NF jelas saja memilih kabur tanpa kabar.

Belakangan, ia pun mulai mengurangi intensitas penggunaan aplikasi tersebut. Ia memilih menahan diri. Takut salah pilih lagi gara-gara sering bertemu akun palsu.

Penasaran, penulis pun mencobanya. Masuk ke aplikasi berlogo lebah. Di sana, memang ada sederet perempuan yang menawarkan diri dengan kode-kode tertentu.

Memencet tombol “pencarian sekitar”, langsung muncul nama SH dari list paling atas. Dari foto, perempuan yang dalam biodatanya tertulis 23 tahun ini memiliki wajah rupawan. Bibirnya tebal dengan lipstik merah, hidungnya mancung, bulu matanya lentik. Mengenakan baju tidur berwarna abu-abu, matanya tampak sayu.

Setelah menerima pertemanan akun, SH langsung memulai obrolan. Tak basa-basi. Ia langsung bertanya. “BO kah?” ujarnya lewat chat. BO adalah istilah singkat untuk booking.

Ia menawarkan tarif dengan harga Rp800 ribu. Bertempat di salah satu penginapan berkelas di Jalan Veteran, Banjarmasin Timur. “Kalau mau, nanti jam delapan 8 langsung datang saja. Saya tunggu di sana,” katanya.

Tarif segitu, kata SH baru cukup buat Short Time (ST) atau bercinta dalam waktu yang singkat. Dalam bisnis ini, terbagi dua jenis booking. Kalau mau sampai pagi, bisa pilih Long Time (LT).

“Kalau saya LT Rp1,8 juta. Jangan basa-basi ya,” kata SH. Marahnya wajar. Ia seringkali menemui pria yang cuma coba-coba tanya. Namun, ujung-ujungnya tanpa kabar.

“Saya di sini cuma cari penghasilan. Urusan surga dan neraka cuma aku dan Tuhan yang tahu,” tutupnya. Pertemanan kami terputus. SH memblok akun penulis.

Namun, dari pertemanan kami, fakta-fakta terungkap. Urusan bisnis esek-esek lewat platform digital, biasanya menempati hotel-hotel yang tersebar di kawasan Jalan Veteran, Jalan Lambung Mangkurat, dan Kayutangi. (dom/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/