alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Peringati Dua Dekade Reformasi, Mahasiswa Gelar Orasi di Gedung DPRD

TEPAT 21 Mei, kemarin, Indonesia melewati 20 tahun Reformasi. Sebuah era yang ditandai dengan lengsernya rezim Soeharto. Banjarmasin tak ingin ketinggalan memperingatinya.

Menjelang waktu berbuka puasa, seratus mahasiswa dari Forum BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kalimantan Selatan memadati perempatan Jalan Lambung Mangkurat. Persis di oprit Jembatan Merdeka.

Setengah jam berorasi di situ, mahasiswa kemudian bergerak ke Gedung DPRD Kalsel. Di sini, massa sudah diadang pagar betis yang dibuat polisi. Mereka hanya bisa berunjuk rasa di halaman gedung dewan.

Favehotel Banjarmasin

Sebenarnya, tak banyak yang bisa diperbuat mahasiswa. Lantaran gedung perwakilan rakyat itu sedang kosong dari anggota legislatif. Hanya ada beberapa staf dan satpam yang berseliweran.

Lantas, apa sebenarnya tuntutan mahasiswa? Koordinator Isu Forum BEM Kalsel, Thoha Rettop mengatakan, terlampau banyak kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang belum terungkap.

Sebut saja Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa pada 1998. Atau pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin pada 1996. Dan kemudian peracunan aktivis HAM, Munir Said Thalib, pada 2004. Untuk kasus yang lebih lokal, seperti tragedi Jumat Kelabu pada 1997.

“Siapa yang menembak mereka? Siapa aktor intelektual di belakangnya? Tak pernah terungkap. Negara kita seakan-akan dibangun di atas kebohongan. Ini menghantui kami,” kata Thoha.

Thoha melihat, ada ironi dalam kinerja aparat. Sangat gesit dalam menghadapi teroris. Tapi bergerak amat lamban ketika diminta mengungkap kasus pelanggaran HAM.

Apalagi jika sudah dihadapkan dengan kasus korupsi. “Menangkap teroris cepat sekali, tapi giliran meringkus koruptor lamban setengah mati,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Forum BEM Kalsel, Melki Andreas berani menyebut agenda Reformasi 98 sudah gagal. Satu-satunya prestasi yang bisa dibanggakan hanyalah keberhasilan memaksa Soeharto turun.

“Kenapa kami sebut Reformasi sudah gagal? Supremasi hukum yang disuarakan abang-abang kami pada 20 tahun silam belum terwujud. Hukum masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” kata Melki.

Dia berharap, perwakilan mahasiswa bisa diterima beraudiensi oleh DPRD dalam kesempatan lain. (fud/at/nur)

TEPAT 21 Mei, kemarin, Indonesia melewati 20 tahun Reformasi. Sebuah era yang ditandai dengan lengsernya rezim Soeharto. Banjarmasin tak ingin ketinggalan memperingatinya.

Menjelang waktu berbuka puasa, seratus mahasiswa dari Forum BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kalimantan Selatan memadati perempatan Jalan Lambung Mangkurat. Persis di oprit Jembatan Merdeka.

Setengah jam berorasi di situ, mahasiswa kemudian bergerak ke Gedung DPRD Kalsel. Di sini, massa sudah diadang pagar betis yang dibuat polisi. Mereka hanya bisa berunjuk rasa di halaman gedung dewan.

Favehotel Banjarmasin

Sebenarnya, tak banyak yang bisa diperbuat mahasiswa. Lantaran gedung perwakilan rakyat itu sedang kosong dari anggota legislatif. Hanya ada beberapa staf dan satpam yang berseliweran.

Lantas, apa sebenarnya tuntutan mahasiswa? Koordinator Isu Forum BEM Kalsel, Thoha Rettop mengatakan, terlampau banyak kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang belum terungkap.

Sebut saja Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa pada 1998. Atau pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin pada 1996. Dan kemudian peracunan aktivis HAM, Munir Said Thalib, pada 2004. Untuk kasus yang lebih lokal, seperti tragedi Jumat Kelabu pada 1997.

“Siapa yang menembak mereka? Siapa aktor intelektual di belakangnya? Tak pernah terungkap. Negara kita seakan-akan dibangun di atas kebohongan. Ini menghantui kami,” kata Thoha.

Thoha melihat, ada ironi dalam kinerja aparat. Sangat gesit dalam menghadapi teroris. Tapi bergerak amat lamban ketika diminta mengungkap kasus pelanggaran HAM.

Apalagi jika sudah dihadapkan dengan kasus korupsi. “Menangkap teroris cepat sekali, tapi giliran meringkus koruptor lamban setengah mati,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Forum BEM Kalsel, Melki Andreas berani menyebut agenda Reformasi 98 sudah gagal. Satu-satunya prestasi yang bisa dibanggakan hanyalah keberhasilan memaksa Soeharto turun.

“Kenapa kami sebut Reformasi sudah gagal? Supremasi hukum yang disuarakan abang-abang kami pada 20 tahun silam belum terwujud. Hukum masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” kata Melki.

Dia berharap, perwakilan mahasiswa bisa diterima beraudiensi oleh DPRD dalam kesempatan lain. (fud/at/nur)

Most Read

Artikel Terbaru

/