alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Aparat Desa Manarap Tengah Akhirnya Meminta Maaf kepada Pengembang

Ini pelajaran bagi aparat desa. Karena permintaannya ditolak, mereka memasang portal untuk memblokade pengembang. Akhirnya, harus meminta maaf.

Kasus pemasangan portal di pintu gerbang Jalan Bahalang Permai RT 7 Desa Manarap Tengah berakhir bahagia di Polsek Kertak Hanyar. Terlapor, Pambakal Desa Manarap Tengah Mulyadi dan Ketua RT 07 Manarap Tengah M Ardian meminta maaf secara tertulis kepada Busran Suhaimi, pengembang Kompleks Green Kemilau Pelanggi, kemarin.

Mulyadi dan M Ardian mengakui telah melakukan pemasangan portal di Gerbang Jalan Bahalang Permai Desa Manarap Tengah Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. Di dalam surat pernyataan tersebut, mereka mengakui perbuatannya masuk unsur tindak pidana Pasal 192 KUHP Jo Undang-undang No 38 tahun 2004 tentang Jalan. Mereka mengatakan menyesal dan bersalah.

Favehotel Banjarmasin

Di dalam surat pernyataan itu mereka juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Baik yang berkenaan dengan tindak pidana Pasal 192 KUHP Jo UU No.38 tahun 2004 maupun tindak pidana lainnya. “Apabila dikemudian hari kami melakukan perbuatan tersebut, kami bersedia untuk dituntut dan dihukum kembali,” ujar Mulyadi dan M Ardian seperti tercantum di dalam surat pernyataan poin 4.

Mulyadi mengaku enggan masalah tersebut melebar, intinya, ujarnya ada miskomunikasi antara aparat desa dengan pengembang. Warga awalnya membuat permohonan agar pengembang menyumbang pasir batu dan pembuatan siring jalan desa.

Belakangan, aparat desa memasang portal ke kompleks perumahan, tapi setelah kasus ini menjadi konsumsi hukum, aparat desa memilih mundur dan berdamai secara kekeluargaan.

“Jadinya sekarang kami pasrah, mau dibantu atau tidak terserah pengembang. Ini atas masukan dari tokoh masyarakat. Tidak ada niat kami mengganggu pembangunan perumahan, hanya memerlukan sumbangan untuk perbaikan fasilitas desa,” tegasnya.

Busran Suhaimi mengaku bahagia dan senang ada titik temu dari masalah yang membelit dirinya dengan aparat desa. Ia bersyukur, karena kepala desa dan RT mengaku salah karena telah memasang portal di jalan umum, imbasnya mengganggu aktivitas angkutan material untuk pembangunan perumahan.

“Mereka sudah minta maaf secara tertulis kepada warga. Sehingga kami mencabut laporan di Polsek Kertak Hanyar karena telah bersepakat permasalahan ini diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Busran menegaskan, permasalahan ini seharusnya bisa menjadi pembelajaran kepada semua pihak, agar tidak sewenang-wenang dalam menentukan sikap.

Pasalnya menurut dia, masih banyak terdengar keluhan rekan-rekannya ketika melakukan pembangunan perumahan. “Niat kami selain berusaha, juga ingin membantu pemerintah dalam membangun perumahan bersubsidi. Tolonglah dibantu, terutama aparat desa ataupun kelurahan,” ujarnya.

Diungkapkannya, pengembang tidak serta merta tutup mata dengan kondisi lingkungan. Busran yakin, semua pengembang punya rasa sosial untuk membantu lingkungan sekitar pembangunan perumahan.

Namun ditegaskannya, jangan sampai ada lagi ada aparat desa ataupun lainnya yang menggunakan cara premanisme kepada pengembang. “Kami siap bantu. Namun jangan pakai cara preman. Semuanya bisa dikomunikasikan,” pungkasnya.(mam/ay/ran)

Ini pelajaran bagi aparat desa. Karena permintaannya ditolak, mereka memasang portal untuk memblokade pengembang. Akhirnya, harus meminta maaf.

Kasus pemasangan portal di pintu gerbang Jalan Bahalang Permai RT 7 Desa Manarap Tengah berakhir bahagia di Polsek Kertak Hanyar. Terlapor, Pambakal Desa Manarap Tengah Mulyadi dan Ketua RT 07 Manarap Tengah M Ardian meminta maaf secara tertulis kepada Busran Suhaimi, pengembang Kompleks Green Kemilau Pelanggi, kemarin.

Mulyadi dan M Ardian mengakui telah melakukan pemasangan portal di Gerbang Jalan Bahalang Permai Desa Manarap Tengah Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar. Di dalam surat pernyataan tersebut, mereka mengakui perbuatannya masuk unsur tindak pidana Pasal 192 KUHP Jo Undang-undang No 38 tahun 2004 tentang Jalan. Mereka mengatakan menyesal dan bersalah.

Favehotel Banjarmasin

Di dalam surat pernyataan itu mereka juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Baik yang berkenaan dengan tindak pidana Pasal 192 KUHP Jo UU No.38 tahun 2004 maupun tindak pidana lainnya. “Apabila dikemudian hari kami melakukan perbuatan tersebut, kami bersedia untuk dituntut dan dihukum kembali,” ujar Mulyadi dan M Ardian seperti tercantum di dalam surat pernyataan poin 4.

Mulyadi mengaku enggan masalah tersebut melebar, intinya, ujarnya ada miskomunikasi antara aparat desa dengan pengembang. Warga awalnya membuat permohonan agar pengembang menyumbang pasir batu dan pembuatan siring jalan desa.

Belakangan, aparat desa memasang portal ke kompleks perumahan, tapi setelah kasus ini menjadi konsumsi hukum, aparat desa memilih mundur dan berdamai secara kekeluargaan.

“Jadinya sekarang kami pasrah, mau dibantu atau tidak terserah pengembang. Ini atas masukan dari tokoh masyarakat. Tidak ada niat kami mengganggu pembangunan perumahan, hanya memerlukan sumbangan untuk perbaikan fasilitas desa,” tegasnya.

Busran Suhaimi mengaku bahagia dan senang ada titik temu dari masalah yang membelit dirinya dengan aparat desa. Ia bersyukur, karena kepala desa dan RT mengaku salah karena telah memasang portal di jalan umum, imbasnya mengganggu aktivitas angkutan material untuk pembangunan perumahan.

“Mereka sudah minta maaf secara tertulis kepada warga. Sehingga kami mencabut laporan di Polsek Kertak Hanyar karena telah bersepakat permasalahan ini diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Busran menegaskan, permasalahan ini seharusnya bisa menjadi pembelajaran kepada semua pihak, agar tidak sewenang-wenang dalam menentukan sikap.

Pasalnya menurut dia, masih banyak terdengar keluhan rekan-rekannya ketika melakukan pembangunan perumahan. “Niat kami selain berusaha, juga ingin membantu pemerintah dalam membangun perumahan bersubsidi. Tolonglah dibantu, terutama aparat desa ataupun kelurahan,” ujarnya.

Diungkapkannya, pengembang tidak serta merta tutup mata dengan kondisi lingkungan. Busran yakin, semua pengembang punya rasa sosial untuk membantu lingkungan sekitar pembangunan perumahan.

Namun ditegaskannya, jangan sampai ada lagi ada aparat desa ataupun lainnya yang menggunakan cara premanisme kepada pengembang. “Kami siap bantu. Namun jangan pakai cara preman. Semuanya bisa dikomunikasikan,” pungkasnya.(mam/ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/