alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Wajah Muram Pendidikan di Selatan Banjarmasin, Bertahun-tahun Diberi Janji

Andai ada predikat kepala sekolah paling tabah, Yuseri pantas meraihnya. Bertahun-tahun diberi janji oleh Pemko Banjarmasin, Kepala SDN Basirih 10 ini masih bisa lapang dada. Meski melulu berujung kecele.

=========================

Berdiri sejak tahun 1978, SDN Basirih 10 Banjarmasin masih saja tak punya jalan darat. Para murid dan guru tetap harus mengandalkan kelotok dan mengayuh jukung (sampan). Butuh waktu setengah hingga satu jam untuk sampai ke sekolah.

Favehotel Banjarmasin

Masalahnya klasik. Terhambatnya pembangunan akses darat di sana lantaran tak ada anggaran untuk membuat jalan dan jembatan. Paling mentok, budget-nya tersedia tapi dipangkas untuk keperluan lain.

“Itu selalu alasannya,” kata Yuseri. Dia menjabat kepsek mulai tahun 2015. Sejak itu pula, dirinya dijanjikan pembangunan jalan darat untuk sekolah yang ia pimpin. “Tetapi, ujung-ujungnya muncul alasan begitu,” timpalnya.

Akses darat menuju sekolah yang berlokasi di Jalan Sungai Jelai, Banjarmasin Selatan ini sebenarnya sudah dibangun tahun 2016 silam. Berbarengan dengan pembangunan Jalan Simpang Jelai, Kelurahan Mantuil. Panjangnya 1500 meter.

Sesuai janji, jalan ini terhubung sampai menuju SDN Basirih 10. Hingga akhir tahun, pengembangan jalan terhenti. Problemnya, anggaran tak cukup. Jalan cor semen tuntas kurang lebih 650 meter saja.

Tahun berikutnya, pembangunan akses dilanjutkan Pemprov Kalsel. Namun, bantuan tak menuntaskan masalah akses darat menuju sekolah. Provinsi cuma membangun jembatan dan jalan dengan panjang 250 meter. Artinya, masih kurang 600 meter lagi.

Yuseri heran melihat tertatihnya pembangunan akses darat menuju SDN yang dia pimpin. “Pembangunan jalan lain mulus-mulus saja. Kenapa tidak untuk kami?” tukasnya.

Seandainya pemko cepat tanggap menuntaskan problem akses jalan ke sekolah itu, Yuseri yakin nama sekolahnya tak dianggap remeh dan asing lagi. “Saya agak malu juga ketika bertemu dengan kepala-kepala sekolah atau guru lain. Padahal, kualitas pendikan kami tetap sama saja. Tinggal akses darat saja,” kata dia.

Kalau para guru dan murid terus-terusan berharap pada transportasi sungai, pihak sekolah juga mesti mengeluarkan anggaran yang sebenarnya tak perlu-perlu amat. “Kami memakai Dana BOS Daerah (Bosda) untuk bensin kelotok,” ungkapnya.

Belum lagi kalau tiba-tiba mesin atau roda kelotok hancur. Yuseri dan para guru lainnya mengaku mesti mengeluarkan dana sendiri. Untuk biaya perbaikan transportasi yang tak terduga.

Jika sungai surut dan kelotok terlanjur berada di tengah perjalanan sungai, kerusakan mesin atau baling-baling bisa saja terjadi. “Makanya kami harus benar-benar berangkat dan pulang sebelum sungai benar-benar surut. Atau memilih libur sama sekali. Kalau tidak kelotok bermasalah,” kata dia.

Lantaran aktivitas sekolah tergantung pasang surut sungai, kegiatan belajar dan mengajar SDN Basirih 10 dimulai pukul 08.00 hingga 11.00 WITA saja. Lebih dari itu, siap-siap menunggu air sungai pasang kembali.

Kalau pembangunan jalan darat tak bisa dilakukan dalam waktu cepat, Yuseri berharap setidaknya pemko melakukan normalisasi sungai. Dan mempercantik kawasan Sungai Jelai. “Ini sementara. Agar banyak orang-orang luar tertarik datang ke sini,” harapnya.

Apakah Yuseri tak ingin minta bantu pihak swasta? Dia menggelengkan kepala. “Ini tugas pemko. Jangan sampai pemerintah dibuat malu karena tak bisa mengatasinya,” pungkasnya.

Sekarang, SDN Basirih 10 Banjarmasin sedang menampung 75 siswa. Dengan tenaga pendidik sebanyak 7 orang. Meski berada di pinggiran kota, sekolah ini sudah berkonstruksi beton. Tak serba kekurangan.

Sementara itu, siswa kelas IV SDN Basirih 10, Ridho mengatakan dibangun atau tidaknya akses darat menuju sekolah, tak begitu masalah. Wajahnya tetap riang meski harus menumpang kelotok tiap hari. “Asal tetap bisa sekolah saja,” tandasnya. (dom/nur/ema)

Andai ada predikat kepala sekolah paling tabah, Yuseri pantas meraihnya. Bertahun-tahun diberi janji oleh Pemko Banjarmasin, Kepala SDN Basirih 10 ini masih bisa lapang dada. Meski melulu berujung kecele.

=========================

Berdiri sejak tahun 1978, SDN Basirih 10 Banjarmasin masih saja tak punya jalan darat. Para murid dan guru tetap harus mengandalkan kelotok dan mengayuh jukung (sampan). Butuh waktu setengah hingga satu jam untuk sampai ke sekolah.

Favehotel Banjarmasin

Masalahnya klasik. Terhambatnya pembangunan akses darat di sana lantaran tak ada anggaran untuk membuat jalan dan jembatan. Paling mentok, budget-nya tersedia tapi dipangkas untuk keperluan lain.

“Itu selalu alasannya,” kata Yuseri. Dia menjabat kepsek mulai tahun 2015. Sejak itu pula, dirinya dijanjikan pembangunan jalan darat untuk sekolah yang ia pimpin. “Tetapi, ujung-ujungnya muncul alasan begitu,” timpalnya.

Akses darat menuju sekolah yang berlokasi di Jalan Sungai Jelai, Banjarmasin Selatan ini sebenarnya sudah dibangun tahun 2016 silam. Berbarengan dengan pembangunan Jalan Simpang Jelai, Kelurahan Mantuil. Panjangnya 1500 meter.

Sesuai janji, jalan ini terhubung sampai menuju SDN Basirih 10. Hingga akhir tahun, pengembangan jalan terhenti. Problemnya, anggaran tak cukup. Jalan cor semen tuntas kurang lebih 650 meter saja.

Tahun berikutnya, pembangunan akses dilanjutkan Pemprov Kalsel. Namun, bantuan tak menuntaskan masalah akses darat menuju sekolah. Provinsi cuma membangun jembatan dan jalan dengan panjang 250 meter. Artinya, masih kurang 600 meter lagi.

Yuseri heran melihat tertatihnya pembangunan akses darat menuju SDN yang dia pimpin. “Pembangunan jalan lain mulus-mulus saja. Kenapa tidak untuk kami?” tukasnya.

Seandainya pemko cepat tanggap menuntaskan problem akses jalan ke sekolah itu, Yuseri yakin nama sekolahnya tak dianggap remeh dan asing lagi. “Saya agak malu juga ketika bertemu dengan kepala-kepala sekolah atau guru lain. Padahal, kualitas pendikan kami tetap sama saja. Tinggal akses darat saja,” kata dia.

Kalau para guru dan murid terus-terusan berharap pada transportasi sungai, pihak sekolah juga mesti mengeluarkan anggaran yang sebenarnya tak perlu-perlu amat. “Kami memakai Dana BOS Daerah (Bosda) untuk bensin kelotok,” ungkapnya.

Belum lagi kalau tiba-tiba mesin atau roda kelotok hancur. Yuseri dan para guru lainnya mengaku mesti mengeluarkan dana sendiri. Untuk biaya perbaikan transportasi yang tak terduga.

Jika sungai surut dan kelotok terlanjur berada di tengah perjalanan sungai, kerusakan mesin atau baling-baling bisa saja terjadi. “Makanya kami harus benar-benar berangkat dan pulang sebelum sungai benar-benar surut. Atau memilih libur sama sekali. Kalau tidak kelotok bermasalah,” kata dia.

Lantaran aktivitas sekolah tergantung pasang surut sungai, kegiatan belajar dan mengajar SDN Basirih 10 dimulai pukul 08.00 hingga 11.00 WITA saja. Lebih dari itu, siap-siap menunggu air sungai pasang kembali.

Kalau pembangunan jalan darat tak bisa dilakukan dalam waktu cepat, Yuseri berharap setidaknya pemko melakukan normalisasi sungai. Dan mempercantik kawasan Sungai Jelai. “Ini sementara. Agar banyak orang-orang luar tertarik datang ke sini,” harapnya.

Apakah Yuseri tak ingin minta bantu pihak swasta? Dia menggelengkan kepala. “Ini tugas pemko. Jangan sampai pemerintah dibuat malu karena tak bisa mengatasinya,” pungkasnya.

Sekarang, SDN Basirih 10 Banjarmasin sedang menampung 75 siswa. Dengan tenaga pendidik sebanyak 7 orang. Meski berada di pinggiran kota, sekolah ini sudah berkonstruksi beton. Tak serba kekurangan.

Sementara itu, siswa kelas IV SDN Basirih 10, Ridho mengatakan dibangun atau tidaknya akses darat menuju sekolah, tak begitu masalah. Wajahnya tetap riang meski harus menumpang kelotok tiap hari. “Asal tetap bisa sekolah saja,” tandasnya. (dom/nur/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/