alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring, warga suku Dayak Meratus Halong, mendedikasikan sebuah buku sebagai telabang.

WAHYUDI, Balangan.

BERGEGAS melawan waktu, berkarya tiada henti, merawat warisan leluhur, menjaga yang tersisa. Prinsip hidup yang selalu dipegang teguh Eter, putra asli Halong yang lahir pada 20 Oktober 1967 lalu tersebut.

Favehotel Banjarmasin

Eter merupakan keturunan asli Dayak Meratus Halong, ia mendobrak pandangan dunia luar terhadap suku Dayak yang hidup terpencil dan jauh dari pendidikan. Sudah ada dua buah karya berupa buku yang ia terbitkan.

Karya perdananya terbit tahun 2014. Ia mencoba melestarikan dan memperkenalkan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Dayak Halong, melalui Kamus Populer Dayak Halong Balangan.

Ada 10 ribu suku kata yang termuat dalam kamus ini, persiapannya pun tak mudah dan memakan waktu cukup lama.

Eter menceritakan, ide dalam menulis buku ini muncul saat berbincang dengan salah seorang kerabatnya yang merupakan sastrawan dari Kaltim.

“Katanya, salah satu pelestarian yang sangat efektif yaitu melalui tulisan. Sejak saat itu saya mencoba belajar menulis, dimulai dari menulis kamus bahasa. Karena memang bahasa adalah kearifan lokal yang sangat mendasar,” tuturnya.

Alasan Eter menulis kamus tidak sembarangan, karena menurut Balai Bahasa Kalsel, bahasa Dayak Halong termasuk yang terancam hilang, lantaran penuturnya yang makin berkurang.

Buku kedua lelaki yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Balangan ini, baru saja terbit awal April 2018 tadi, berjudul Ritual Adat & Cerita Dayak Halong.

Ada empat tajuk yang ia muat dalam bukunya kali ini, di antaranya tentang Suku Dayak Halong secara keseluruhan, ritual adat perkawinan dalam masyarakat suku Dayak Halong, ritual adat Munelang dan cerita rakyat setempat.

“Tidak seperti saat menerbitkan kamus, persiapan untuk menerbitkan buku kedua ini lebih singkat, yaitu hanya perlu persiapan satu setengah tahun. Buku ini hanya saya cetak sebanyak 50 eksemplar,” ungkapnya.

Diakui Eter, kegelisahannya akan tergerusnya budaya leluhur yang sudah turun temurun, menjadi penyemangat baginya untuk terus menuangkan karyanya melalui sebuah buku.

Tidak hanya sampai di sini, Ayah dari tiga anak ini bertekad akan terus berkarya dan menerbitkan buku demi buku. “Banyak cerita dan hal dari Dayak Halong yang harus dilestarikan dan abadikan melalui sebuah buku,” ucapnya.(ay/ran)

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring, warga suku Dayak Meratus Halong, mendedikasikan sebuah buku sebagai telabang.

WAHYUDI, Balangan.

BERGEGAS melawan waktu, berkarya tiada henti, merawat warisan leluhur, menjaga yang tersisa. Prinsip hidup yang selalu dipegang teguh Eter, putra asli Halong yang lahir pada 20 Oktober 1967 lalu tersebut.

Favehotel Banjarmasin

Eter merupakan keturunan asli Dayak Meratus Halong, ia mendobrak pandangan dunia luar terhadap suku Dayak yang hidup terpencil dan jauh dari pendidikan. Sudah ada dua buah karya berupa buku yang ia terbitkan.

Karya perdananya terbit tahun 2014. Ia mencoba melestarikan dan memperkenalkan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Dayak Halong, melalui Kamus Populer Dayak Halong Balangan.

Ada 10 ribu suku kata yang termuat dalam kamus ini, persiapannya pun tak mudah dan memakan waktu cukup lama.

Eter menceritakan, ide dalam menulis buku ini muncul saat berbincang dengan salah seorang kerabatnya yang merupakan sastrawan dari Kaltim.

“Katanya, salah satu pelestarian yang sangat efektif yaitu melalui tulisan. Sejak saat itu saya mencoba belajar menulis, dimulai dari menulis kamus bahasa. Karena memang bahasa adalah kearifan lokal yang sangat mendasar,” tuturnya.

Alasan Eter menulis kamus tidak sembarangan, karena menurut Balai Bahasa Kalsel, bahasa Dayak Halong termasuk yang terancam hilang, lantaran penuturnya yang makin berkurang.

Buku kedua lelaki yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Balangan ini, baru saja terbit awal April 2018 tadi, berjudul Ritual Adat & Cerita Dayak Halong.

Ada empat tajuk yang ia muat dalam bukunya kali ini, di antaranya tentang Suku Dayak Halong secara keseluruhan, ritual adat perkawinan dalam masyarakat suku Dayak Halong, ritual adat Munelang dan cerita rakyat setempat.

“Tidak seperti saat menerbitkan kamus, persiapan untuk menerbitkan buku kedua ini lebih singkat, yaitu hanya perlu persiapan satu setengah tahun. Buku ini hanya saya cetak sebanyak 50 eksemplar,” ungkapnya.

Diakui Eter, kegelisahannya akan tergerusnya budaya leluhur yang sudah turun temurun, menjadi penyemangat baginya untuk terus menuangkan karyanya melalui sebuah buku.

Tidak hanya sampai di sini, Ayah dari tiga anak ini bertekad akan terus berkarya dan menerbitkan buku demi buku. “Banyak cerita dan hal dari Dayak Halong yang harus dilestarikan dan abadikan melalui sebuah buku,” ucapnya.(ay/ran)

Most Read

Artikel Terbaru

/